MANADOPOST. ID— Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara (Pemkab Minut) terus menunjukkan komitmennya dalam membangun ekonomi hijau dan pariwisata berkelanjutan. Lewat dukungan dan kolaborasi 28 Badan Usaha Milik Negara (BUMN), program Rumah Bakti BUMN serta pengelolaan sampah berbasis masyarakat resmi diresmikan di Desa Likupang Satu dan Pantai Paal, Desa Marinsow, Kecamatan Likupang Timur, Selasa (21/10).
Program ini menjadi langkah nyata Pemkab Minut dalam menindaklanjuti pengembangan Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) Likupang, serta memperkuat kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Sekretaris Daerah Minahasa Utara Novly Wowiling, mewakili Bupati Joune Ganda, menyampaikan apresiasi tinggi atas sinergi besar antara BUMN dan pemerintah daerah. Menurutnya, program ini menjadi bukti nyata bahwa keberlanjutan ekonomi dapat berjalan beriringan dengan pelestarian lingkungan.
“Atas nama Pemkab Minahasa Utara, kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih. Setelah tiga tahun program ini berjalan, kini hasil konkretnya bisa kita lihat. Dari isu pengelolaan sampah, lahirlah produk-produk bernilai ekonomi dan layak jual,” ujar Wowiling.
Lebih lanjut, Wowiling menegaskan bahwa kolaborasi ini menjawab tantangan lama antara potensi pariwisata dan ketersediaan produk lokal. Dengan konsep circular economy atau ekonomi sirkular, masyarakat kini memiliki peluang baru untuk memanfaatkan sampah menjadi bahan baku produk kreatif yang mendukung sektor wisata.
“Selama ini kita sering dengar destinasi bagus, tapi minim produk lokal. Kini, justru produk berbasis sampah menjadi daya tarik tambahan, yang bukan hanya menarik wisatawan tapi juga memberdayakan masyarakat,” tambah Wowiling.
Pemkab Minut sendiri menyiapkan langkah konkret untuk menjaga keberlanjutan program ini. Salah satunya dengan memperkuat koordinasi lintas perangkat daerah agar pengelolaan Rumah Bakti BUMN dan sentra olah sampah terus berjalan efektif.
“Pemerintah akan berada di posisi tengah, memfasilitasi hubungan antara produsen dan konsumen. Ketika pemberdayaan ekonomi tumbuh, dampaknya akan meluas ke seluruh sektor pembangunan di Minahasa Utara,” tegasnya.
Sementara itu, Asisten Deputi Bidang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Kementerian BUMN, Edy Eko Cahyono, menjelaskan bahwa kehadiran 28 BUMN dalam satu program adalah bentuk sinergi besar untuk menjawab tantangan lingkungan dan ekonomi masyarakat.
“Isu sampah adalah isu global. Maka, BUMN berkolaborasi menciptakan solusi lokal yang berdampak luas — bukan hanya untuk lingkungan, tetapi juga ekonomi masyarakat,” ujar Edy.
Ia menambahkan, hasil pengelolaan sampah yang memiliki nilai ekonomi akan terus diarahkan agar memiliki akses pasar yang lebih luas. Program ini juga menjadi contoh bahwa CSR harus berkembang menjadi ekosistem ekonomi yang mandiri dan berkelanjutan.
Senada dengan itu, PLH Kepala Divisi Pengadaan dan Pengelolaan Aset Indonesia Financial Group (IFG), Mora Sani Rivai Nasution, menegaskan bahwa BUMN akan terus menjadi mitra aktif Pemkab Minut.
“Kami akan selalu berada di garda terdepan, hadir bersama masyarakat, dan memastikan program-program seperti ini terus berlanjut. BUMN akan terus mendukung pembangunan ekonomi hijau di Minahasa Utara,” ujar Mora.
Dengan adanya sinergi lintas sektor ini, Minahasa Utara semakin memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata berkelanjutan bertaraf dunia, yang tidak hanya indah secara alam, tetapi juga tangguh secara ekonomi dan sosial.(ADV)
Editor : Ridel Palar