MANADOPOST.ID—Rapat paripurna DPRD Provinsi Sulawesi Utara yang digelar pada Kamis 23 April 2026 berlangsung dengan agenda penyampaian laporan kinerja Alat Kelengkapan Dewan (AKD) serta laporan pelaksanaan reses masa sidang kedua tahun 2026.
Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mengevaluasi kinerja legislatif sekaligus menyerap aspirasi masyarakat dari berbagai daerah pemilihan.
Rapat dipimpin langsung Ketua DPRD Sulut, dr Fransiscus Andi Silangen, didampingi Wakil Ketua dr Michaela E Paruntu dan Royke Anter. Turut hadir Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, bersama Wakil Gubernur Victor Mailangkay.
Dalam jalannya rapat, laporan kinerja AKD disampaikan secara bergantian. Dimulai dari Badan Musyawarah yang dibacakan Royke Anter, dilanjutkan Badan Legislasi, hingga laporan dari masing-masing komisi. Komisi I yang disampaikan Braein Waworuntu memberikan sorotan positif terhadap kepemimpinan gubernur, khususnya dalam hal efisiensi anggaran.
Dalam penyampaiannya, Waworuntu mengapresiasi langkah Gubernur Yulius Selvanus yang dinilai berhasil menekan pengeluaran perjalanan dinas. Salah satu langkah yang disorot adalah kebiasaan gubernur yang kerap melakukan kunjungan kerja tanpa membawa ajudan, sebagai bentuk efisiensi anggaran daerah.
Sementara itu, laporan Komisi II yang dibacakan Norman Luntungan juga menyoroti berbagai capaian kerja selama masa sidang kedua tahun 2026. Ia turut menyampaikan apresiasi kepada Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara atas upaya pengusutan dugaan kasus korupsi bantuan bencana Gunung Ruang di Kabupaten Kepulauan Sitaro.
Setelah penyampaian laporan AKD, agenda dilanjutkan dengan laporan hasil reses dari enam daerah pemilihan. Perwakilan DPRD dari masing-masing dapil menyampaikan berbagai aspirasi masyarakat, mulai dari kebutuhan infrastruktur, pelayanan publik, hingga persoalan sosial ekonomi yang berkembang di daerah.
Gubernur Yulius Selvanus dalam sambutannya menegaskan bahwa hasil reses merupakan representasi langsung suara masyarakat yang harus menjadi perhatian bersama. Ia menilai laporan tersebut sebagai bahan penting dalam merumuskan kebijakan pembangunan daerah yang lebih tepat sasaran.
“Laporan reses ini adalah suara murni masyarakat yang menjadi kewajiban kita untuk didengar dan diperjuangkan. Aspirasi tersebut akan kami jadikan referensi utama dalam penyempurnaan kebijakan pembangunan daerah agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat,” ujar Selvanus.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa capaian pembangunan yang diraih selama ini merupakan hasil kerja bersama antara legislatif dan eksekutif. Menurutnya, sinergi yang terjalin harus terus dijaga, terlebih di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
Gubernur juga mengangkat nilai kearifan lokal “mapalus” sebagai fondasi dalam membangun kebersamaan dan gotong royong. Ia menilai semangat tersebut menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
“Sinergi ini adalah kunci keberlanjutan pembangunan yang mensejahterakan. Semangat mapalus harus terus kita perkuat dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan,” tegasnya.(*)
Editor : Angel Rumeen