MANADOPOST.ID– Upaya meningkatkan kualitas hunian layak di wilayah rawan bencana dan kepulauan menjadi fokus Balai Pelaksana Penyediaan Perumahan dan Kawasan Permukiman (P3KP) Sulawesi I melalui sosialisasi policy brief Program Gentengisasi dan penanganan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman kebijakan sekaligus menyelaraskan arah intervensi program perumahan agar lebih adaptif terhadap karakteristik wilayah, khususnya di Sulawesi Utara.
Sosialisasi menghadirkan narasumber Prof Dr Ir Jefrey Ignatius Kindangen DEA Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat sekaligus Guru Besar Universitas Sam Ratulangi.
Kegiatan dibuka Kepala Balai P3KP Sulawesi I Erpika Ansela Surira ST dan diikuti para pejabat serta pegawai di lingkungan Balai P3KP Sulawesi I.
Dalam pemaparannya, dibahas berbagai aspek strategis, mulai dari pemilihan material atap yang aman, mitigasi risiko kebencanaan, hingga pendekatan peningkatan kualitas hunian yang sesuai dengan kondisi geografis.
Sulawesi Utara sendiri memiliki tantangan spesifik, seperti wilayah kepulauan, aktivitas seismik yang tinggi, serta dominasi rumah berstruktur ringan seperti rumah panggung.
"Karena itu, intervensi program perumahan tidak bisa bersifat seragam, melainkan harus mempertimbangkan aspek keselamatan, ketersediaan material lokal, serta kesesuaian dengan kondisi lingkungan setempat," ungkap Jefrey Kindangen.
Melalui sosialisasi ini, penanganan RTLH tidak lagi dipandang sekadar penggantian material bangunan, tetapi sebagai upaya komprehensif yang mencakup aspek keselamatan, kenyamanan, efisiensi biaya, dan keberlanjutan.
Kegiatan ini juga menjadi ruang diskusi untuk merumuskan langkah strategis guna memastikan program perumahan berjalan lebih tepat sasaran dan berdampak nyata bagi masyarakat.
Sementara itu, Balai P3KP Sulawesi I menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan hunian layak dan berkualitas.
"Melalui upaya penguatan kebijakan, kolaborasi, serta pendekatan berbasis kondisi lokal," ungkap Kepala Balai PKP Erpika Surira Ansela. (*)
Editor : Gregorius Mokalu