Akibatnya, ratusan warga yang menggantungkan hidup dari tambang rakyat tersebut kini kehilangan sumber penghasilan utama mereka.
Taufik, seorang penambang lokal, mengungkapkan keresahannya. Menurutnya, penutupan tambang emas di Tobongon sangat berdampak langsung terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat.
“Penutupan lubang galian ini sangat berdampak bagi saya dan keluarga. Selama ini, saya menggantungkan hidup dari hasil tambang emas untuk kebutuhan seperti makan, sekolah anak, dan obat-obatan," katanya, Senin 21 Juli 2025.
Ia menyesalkan tindakan sepihak dari oknum yang dinilai tidak sejalan dengan semangat visi Gubernur Sulut yang mendukung tambang rakyat.
“Kalau anggota DPRD Alamri Matiala benar-benar peduli rakyat, jangan justru menyulitkan. Kami hanya ingin bekerja untuk bertahan hidup," ujarnya.
Para penambang berharap agar Gubernur Sulawesi Utara Mayjen (Purn) Yulius Stevanus dapat turun tangan langsung menangani persoalan ini. Mereka menilai, konflik dan penutupan tambang yang terjadi merupakan buntut dari ulah oknum yang justru melemahkan perjuangan rakyat kecil.
“Penutupan ini terjadi bukan karena aturan, tapi karena ulah segelintir oknum yang mencederai keadilan. Kami minta kehadiran pemerintah untuk melindungi kami yang lemah," tegasnya.
Mereka juga berharap agar tidak ada lagi pihak yang bertindak sewenang-wenang, apalagi jika hal tersebut menyebabkan warga kehilangan mata pencaharian dan memperburuk kondisi ekonomi masyarakat di wilayah tambang tradisional.(gnr)
Editor : Grand Regar