Ilustrasi. (Dok MP)MANADOPOST.ID—Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) ikut ‘memukul’ sektor pendidikan. Hal ini membuat sebagian pelajar tak bisa menimba ilmu maksimal. Sehingga masa depan mereka dalam bahaya. Meski begitu, sejumlah murid di beberapa pelosok Sulut tetap semangat belajar, walaupun akses dalam jaringan (belajar virtual) terbatas. Seperti yang diberitakan Manado Post edisi kemarin misalnya, murid-murid di Kepulauan Sitaro rela belajar di bawah kaki gunung meski bahaya Gunung Berapi Karangetang mengancam. Kesulitan para murid tersebut berbanding terbalik dengan informasi yang didapat Manado Post kemarin. Saat ini sejumlah kepala sekolah (kepsek) sedang menimba ilmu (ikut sosialisasi, red) di Kota Manado. Bahkan diberikan fasilitas ‘mewah’ nginap di hotel. Fasilitas tersebut diberikan saat pemerintah sedang diminta melakukan evaluasi proses belajar daring. Karena dinilai belum efektif. Kegiatan tersebut diikuti kepala SMA/SMK. Merupakan program Dinas Pendidikan Provinsi Sulut. Yaitu sosialisasi Dana Alokasi Khusus (DAK) yang bersumber dari pemerintah pusat. Kamis kemarin giliran para kepsek dari wilayah Nusa Utara yang diberikan bimbingan. Terpantau wartawan koran ini di Kantor Dinas Pendidikan provinsi, ada dua kepsek yang diketahui berasal dari wilayah Nusa Utara, sedang berbincang dengan salah satu penyedia transportasi untuk disediakan hotel. “Sebelumnya di Hotel Swiss-Belhotel Maleosan Manado untuk kegiatan SMK, dan belum lama ini di Hotel Grand Puri Manado untuk kegiatan SMA. Setiap kepala sekolah yang hadir mendapat fasilitas kamar dari Dikda,” terang sumber yang meminta namanya tak dikorankan. Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Pendidikan Daerah dr Grace Punuh, membenarkan adanya sosialisasi DAK kepada para kepsek. “Kegiatan sosialisasi ini kami berani buat karena menerapkan protokol kesehatan. Para kepsek juga wajib dirapid test. Untuk masalah nginap di hotel itu bisa saja, karena anggarannya kan sudah tertata sebelum Covid,” sebut Punuh. Di sisi lain, dirinya menyebut selama masa pandemi ini, Pendidikan Sulut menerapkan pembelajaran daring dan luring (luar jaringan). Menurutnya berbagai inovasi dan terobosan telah dilakukan pihaknya dalam menunjang during dan luring. “Untuk daring kami sudah menerapkan berbagai terobosan yakni bekerja sama dengan radio dan TV. Kami juga bekerja sama dengan berbagai pihak yang bisa menyiapkan pembelajaran tanpa internet,” jelasnya. Dia pun mengakui saat ini pendidikan seperti terjepit. Di satu sisi menginginkan sekolah dibuka. Di satu sisi mencegah agar tidak adanya cluster baru jika sekolah dibuka. “Jadi mari kita berdoa agar vaksin untuk Covid-19 ini secepatnya bisa digunakan masyarakat. Kita berdoa pandemi Covid-19 ini cepat berakhir," harap dia. Terpisah, Pakar Pendidikan Dr Ferry Mandang mengatakan, di masa pandemi yang menyulitkan perekonomian masyarakat, memang sebaiknya kegiatan yang bisa dikatakan pemborosan jangan dulu dilakukan. “Bijaksanalah, hal seperti itu (sosialisasi) bisa ditunda. Karena kondisi keuangan sangat memperhatikan. Walaupun ini dana dari pusat, harus cermat menggunakan dana. Para guru atau khususnya para kepsek kalau bisa lebih mementingkan program kegiatan belajar mengajar (KBM) kepada siswa, ketimbang mengikuti sosialisasi, yang jika ada anggaran perjalanan dinasnya hanya akan jadi pemborosan,” kritiknya. Dirinya menyebutkan, dalam masa pandemi yang memaksa siswa belajar online atau ada juga yang tatap muka, para tenaga pendidik dituntut ada inovasi. “Guru di era sekarang dituntut berinovasi. Oleh sebab harus tetap melakukan pembelajaran sesuai kurikulum. Jangan asal beri pembelajaran atau edukasi kepada siswa," tutupnya.(cw-01/gnr) Editor : Clavel Lukas