Kisah Satu Keluarga Nekat Jalan Kaki Jateng - Bandung Sambil Gendong Bayi
Don Papuling• Sabtu, 8 Mei 2021 | 00:57 WIB
Ilustrasi jalan kakiMANADOPOST.ID - Satu keluarga ini viral, setelah nekat memilih jalan kaki dari Jawa Tengah (Jateng) ke Bandung, Jawa Barat. Pasalnya mereka harus menempuh perjalanan sejauh 282 km. Yang lebih menghebohkan lagi, Dani (39) beserta istrinya Masitoh Ainun Lubis (36) berjalan kaki, sambil membawa dua anak mereka yang masih bayi yakni Manta (3) dan Hanum (1,5). Dani (39) beserta istrinya Masitoh Ainun Lubis (36) Dilansir dari pojoksatu, keduanya nekat menempuh perjalanan jauh dengan berjalan kaki karena tak punya ongkos naik bus. Mereka menempuh perjalanan dari Gombong Jawa Tengah menuju ke Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Dari pengakuan, satu keluarga itu ternyata sudah berjalan selama 6 hari, dan telah sampai di Ciamis, Jawa Barat, Jumat (7/5). Ilustrasi Gombong Mereka terlihat tengah berbicara seorang pria yang menawarkan tumpangan. Dani mengaku berangkat dari Gombong pada Minggu sore pekan ini. Sudah 6 hari mereka jalan kaki. Berbekal tas ransel hitam dan uang Rp 120 ribu, Dani nekat membawa istri dan anaknya untuk pulang ke kampungnya lantaran sudah tidak memiliki lagi pekerjaan. Sebelumnya dia bekerja di sebuah perusahaan konveksi dan kini sudah berhenti. Ilustrasi Bandung “Di sana sudah tidak ada lagi kerjaan, tidak punya apa-apa. Jadi memutuskan untuk pulang ke Soreang. Tidak akan ke sana lagi, mau menetap di Soreang,” ujar Dani. Dalam perjalanannya, Dani sekeluarga biasa beristirahat di SPBU atau masjid yang ada di sepanjang jalan. Keluarga kecil ini berjalan sehari bisa mencapai 25-30 kilometer. Berhenti pada malam hari untuk beristirahat dan melanjutkan perjalanan setelah subuh. “Alhamdulillah selama perjalanan berjalan lancar, tidak ada hambatan. Banyak juga orang-orang baik yang memberi bekal dan makanan saat di jalan,” ungkapnya. Dani mengaku terpaksa berjalan kaki karena tidak memiliki ongkos untuk naik angkutan umum. Terlebih saat ini angkutan pun dihentikan karena larangan mudik. “Upah dari pekerjaan konveksi cukup untuk makan dan bayar kontrakan saja. Saya berjalan kaki pulang ke Bandung cuma bawa uang Rp 120 ribu untuk membeli makan, minum. Tapi Alhamdulilah dalam perjalanan ada rezeki untuk anak-anak, banyak yang ngasih,” ucapnya. Dani mengaku tidak meminta bantuan ke pemerintah karena trauma. Ia memiliki pengalaman tahun sebelumnya saat berjalan kaki pulang kampung tapi dianggap modus. Kini pun ia akan menghindar saat ada petugas pengamanan mudik. “Saya takut dibilang modus, jadi natural saja berjalan kaki sampai ke Soreang,” ungkapnya. Apabila tidak ada kendala, Dani memperkirakan akan sampai ke Soreang Bandung pada hari kedua Lebaran atau seminggu lagi. (ral/int/pojoksatu) Editor : Don Papuling