Habib Rizieq Ajak Umat Gelar Aksi Bela Palestina, Gerung: Konflik di Gaza Bukan Soal Agama
Don Papuling• Senin, 17 Mei 2021 | 09:03 WIB
Habib RizieqMANADOPOST.ID - Meski telah mendekam dalam jeruji besi, mantan bos FPI, Habib Rizieq tetap garang dan provokatif. Pasalnya meski konflik antara Israel dan teroris Hamas di Gaza, Palestina bukan persoalan agama, namun orang dengan julukan sang Raja Singa Putih itu, tetap memprovokasi warga. Dilansir dari JPNN, di dalam hotel prodeo Rizieq menyerukan agar umat Islam di Indonesia menggelar aksi bela Palestina. Seruan itu disampaikan HRS melalui kuasa hukumnya, Aziz Yanuar. Habib Rizieq “Kepada umat Islam di tanah air mari untuk menggelar aksi bela Palestina,” kata Aziz, Sabtu (15/5) lalu Menurut HRS, lanjut Aziz, umat Islam Indonesia harus menunjukkan solidaritas, sebab serangan yang dilakukan Zionis Isreal, kata dia, adalah sebuah penindasan. “Tunjukan solidaritas untuk muslim Palestina dan Alquds yang saat ini sedang mengalami penindasan dan serangan dari Zionis Israel,” ujar Aziz. Konflik di Gaza Bukan Soal Agama Sebelumnya Rocky Gerung ikut bicara terkait perang antara Israel - Palestina. Rocky Gerung (JawaPos.com) Dalam video yang diunggah di kanal Youtube Rocky Gerung Official, Ia menuturkan banyak yang menganggap perang tersebut sebagai konflik agama, padahal sebetulnya konflik politik. “Seringkali karena emosi sehingga kita gagal lihat konteksnya. Seringkali soal konteks sebetulnya. Misalnya, ini lagi ada perang di Palestina, lalu dianggap agama Kristen versus agama Islam. Itu gagal lihat konteks,” katanya. Menurut Rocky, perang antara Israel-Palestina konteksnya bukan antara Islam dan Kristen. “Sebetulnya perang itu adalah konflik tanah, berebut tanah antara Israel dan Palestina. Gaza itu ada dalam proteksi hukum internasional. Jadi Israel menyerang hukum internasional, konsekuensinya dia dibawa ke pengadilan internasional,” jelasnya. Rocky kemudian mencontohkan sosok Yuval Noah Harari. “Orang menganggapnya anti Palestina karena dia orang Israel. Padahal Yuval Noah Harari adalah orang yang paling benci Benjamin Netanyahu karena dianggap melemahkan sistem demokrasi dengan menyerang Palestina. Itu juga gagal paham. Karena konteksnya dianggap bahwa semua orang Israel memusuhi Palestina, demikian sebaliknya,” bebernya. Kekeliruan melihat konteks konflik Israel-Palestina, lanjut Rocky, juga terjadi di Indonesia. “Sehingga kemudian menyebar jadi soal agama, Islam versus Kristen. Padahal di Israel sendiri orang Kristen, Yahudi, sama Islam itu biasa-biasa saja bergaulnya,” ujar mantan dosen filsafat Universitas Indonesia (UI) itu. “Nah bagian ini yang nggak bias diolah pemerintah sehingga timbul debat-debat palsu. Semua orang marah karena seolah-olah berebut Tuhan, padahal ini berebut tanah. Dan itu yang harusnya kita selesain. Itu disebut sebagai gagal dalam konteks dan kesalahan dalam menilai konteks,” tutur Rocky. (JPNN/Tan/tr-01) Editor : Don Papuling