Cuka Makanan dan Outdoor AC, Selamatkan Sidik Jari Ferry Kalesaran, INAFIS Polda Sulut: Cocok dengan Database
Grand Regar• Selasa, 1 Juni 2021 | 11:32 WIB
Jasad yang ditemukan gantung diri di Desa Koha, Kabupaten Minahasa, cocok dengan database, yakni tersangka Ferry Kalesaran.MANADO-Tim Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (INAFIS) Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sulut, pimpinan Direktur Ditreskrimum Kombes Pol Trisulastoto Utomo, berhasil mengindentifikasi pria gantung diri di Desa Koha, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Banit Identifikasi Ditreskrimum Polda Sulut Brigadir Polisi Junias diwawancarai di ruang kerjanya. Junias turut menunjukkan peralatan/bahan yang membantu proses pengungkapan jasad Ferry Kalesaran yang ditemukan di Desa Koha, Minahasa. Sidik jari jasad yang sudah sulit dikenali tersebut cocok dengan identitas Ferry Kalesaran yang sempat diburu 8 hari oleh tim gabungan. Pelaku pembunuhan adik Marsella Sulu (13) atau adik Sella ini, diindentifikasi dengan bantuan cuka makanan dan outdoor AC. Tim INAFIS Ditreskrimum Polda Sulut, bersama Kanit Identifikasi Ipda Harli Buida saat melakukan pengungkapan jasad Ferry Kalesaran. Diberitakan sebelumnya, meski jasadnya ditemukan dalam keadaan yang sulit dikenali, beruntung Provinsi Sulawesi Utara memiliki Tim INAFIS Ditreskrimum Polda Sulut. Setelah melalui proses cukup panjang dan lumayan sulit, tim ini dapat membuktikan jenazah itu adalah Ferry Kalesaran. Ditemui di ruangannya, Banit Identifikasi Ditreskrimum Polda Sulut Brigadir Polisi Junias, menjelaskan bagaimana cara tim memastikan identitas jenazah yang ditemukan adalah Ferry Kalesaran. Pengungkapan identitas jenazah yang awalnya dinamakan Mr X ini, karena memang sudah sulit dikenali. Menurutnya, hanya dengan bantuan cuka makanan dan outdoor AC yang ada di kantor INAFIS. Ini dikisahkan langsung Brigadir Polisi Junias yang kini juga sebagai mahasiswa semester 4 Fakultas Hukum UNPI Manado. Ketika mendapat perintah pukul 10.17, Jumat (28/5) lalu, tim langsung mempersiapkan perlengkapan dan berangkat sekira pukul 10.30 menuju tempat ditemukannya jenazah. Tim INAFIS dipimpin Kanit Identifikasi Ipda Harli Buida. Tiba di Koha pukul 10.42, berjalan ke lokasi sekira 10 menit dengan medan lumayan sulit. Melewati hutan, perkebunan dan dua sungai. "Ketika sampai kemudian melihat kondisi mayat sudah tidak dikenal. Tim langsung olah TKP. Posisi mayat tergantung pada seutas tali tambang di leher dan diikat ke pohon," cerita Junias. Kemudian dirinya bersama dua rekannya yakni Brigpol Pithein Samatara dan Briptu Juan Rorong langsung melaksanakan tugasnya. Yakni mencocokkan sidik jari mayat tersebut dengan sidik jari Ferry Kalesaran pada sistem data base. "Waktu ditemukan masih dikatakan jenazah tidak dikenal atau Mr X. Karena memang wajah sudah rusak dan tidak bisa dikenali. Sudah hancur. Karena ilmu kita sidik jari, jadi tidak bisa mengira-ngira. Ini ilmu pasti. Jadi harus ada pembuktian sesuai bidang saya, sidik jari," terang Junias. Lanjut Junias karena kondisi sidik jari juga sudah rusak akibat pembusukan, sehingga tidak bisa lagi menggunakan alat canggih. Yakni INAFIS Portable System (IPS). "Ini alat canggih, namun memang tidak bisa lagi digunakan, sebab sidik jari sudah rusak. Alat secanggih IPS ini tidak dapat langsung mengidentifikasi mayat ini. Karena sudah hancur," kata Junias. Waktu di TKP dan melihat kondisi jenazah, tambahnya, dirinya mencari cara untuk membuktikan. Bagaimana caranya bisa mengungkap sidik jari dengan kondisi yang sudah mengalami pembusukan? "Jadi melakukan dengan teknik, keahlian autodidak dan pengamalan. Dengan hanya menggunakan cuka makanan serta Outdoor AC yang ada di kantor," ungkapnya. Untuk membuktikannya digunakan sidik jari KTP-el untuk proses identifikasi mayat yang diduga Ferry Kalesaran tersebut. "INAFIS Polda memakai alat canggih untuk mendapat kecocokan dengan data kependudukan. Untuk mencocokkan antara sidik jari yang ada di lapangan (jenazah) dengan data kartu tanda penduduk elektronik (KTP-el) yang ada di Dukcapil dan langsung terhubung online. Sehingga cukup dengan itu akan muncul data (identitas)," beber Junias. Hal ini memang memerlukan keahlian khusus agar bisa terbaca pada alat bantu tersebut. "Karena kondisinya, maka memerlukan waktu yang memang cukup lama dari biasanya dan menegangkan. Karena kulit sidik jari sudah busuk. Dan setelah percobaan yang berulang kali, akhirnya setelah empat jam berusaha, identitas korban dapat diketahui berdasarkan sidik jari. Dan dipastikan data yang dimiliki INAFIS akurat," kata Junias, menambahkan biasanya ketika dalam kondisi baik hanya dibutuhkan waktu yang relatif singkat. "Hanya hitungan menit data bisa keluar. Tetapi khusus sidik jari Mr X atau yang diduga pala, memang harus ditangani dengan penanganan ahli. Juga butuh kehati-hatian, sebab kulit sidik jari yang sudah busuk ketika salah proses pengambilan bisa hancur," ungkapnya. Sayangnya dirinya tidak menjelaskan secara detail bagaimana proses berlangsung. Karena ini adalah rahasia pengungkapan yang tidak bisa dipublikasikan. Namun dia menegaskan dalam pengungkapan kasus ini, dengan kondisi jenazah yang seperti itu, dia menggunakan hal yang tidak terpikir oleh orang lain. "Bermodal cuka makan yang saya beli di depan RS Bhayangkara dan outdoor AC di kantor. Saya menyelamatkan sidik jari dari jenazah. Sehingga dapat diproses lebih lanjut dengan alat canggih yang kami miliki. Kemudian dengan mencocokan sidik jari data base E-KTP, maka sangat identik atau sama dengan sidik jari dari Ferry Kalesaran. Jadi identitas korban yang keluar, identik dengan Ferry Kaleseran," tegasnya menambahkan ilmu sidik jari ini adalah keahlian khusus dan tidak semua anggota polisi menguasai hal ini.(gnr) Editor : Grand Regar