MANADOPOST.ID - Nama Megawati Soekarnoputri, saat ini terus menjadi sorotan setelah ia mendapatkan gelar profesor kehormatan dan menjadi guru besar tidak tetap di Universitas Pertahanan (Unhan).
Pasalnya jurnal presiden ke lima Indonesia itu, dinilai janggal oleh para akademisi salah satunya Prof Sulfikar Amir yang merupakan akademisi asal Indonesia di Nanyang Technologi University, Singapura
Dilansir Manado Post dari Narasi Newsroom, Sabtu (12/6) Prof Sulfikar Amir turut memberikan koreksi pada jurnal Megawati tersebut.
Dalam kesempatan itu Sulfikar mengatakan jika dilihat dari judul, jurnal akademik Megawati itu janggal.
Tangkapan Layar Narasi Newsroom"Karena judulnya adalah kepemimpinan Presiden Megawati pada era krisis multidimensi 2001-2004. Nah ketika kita membaca ini, kita akan punya kesan bahwa yang menulis ini adalah bukan Megawati, karena yang menulis mencoba mendalami apa yang terjadi dan dampak dari kepemimpinan Presiden Megawati pada saat itu," bebernya.
Sehingga tambah dia, pembaca pasti memiliki image, penulis jurnal tersebut adalah orang lain.
"Tapi ketika kita melihat penulisnya, walapun namanya agak berbeda, yakni Diah Permata Megawati Setiawati Soekarnoputri ini kan sebenarnya orang yang sama. Bu Mega, walau pun, nama yang dipakai disini adalah nama lengkap beliau," ujarnya.
Mungkin tambah dia ada alasan tersendiri mengapa mencoba memberi kesan ini adalah orang lain padahal sebenarnya sama.
"Setiap akademisi atau setiap peneliti yang membaca ini akan langsung mendapatkan kesan aneh ketika membaca judul dan mengetahui penulisnya adalah orang yang sama karena jarang," terang dia.
Tangkapan Layar Narasi NewsroomIa pun mencontohkan, misalnya dirinya menulis paper berjudul dampak pengajaran Sulfikar Amir di dalam meningkatkan pemahaman masyarakat tentang ilmu sosial, itu agak aneh karena seakan-akan yang menulis itu adalah orang ketiga padahal sebenarnya orang yang sama.
"Jadi mestinya seorang penulis yang ingin menulis sesuatu berdasarkan pengalaman pribadinya itu bisa menulis dengan langsung fokus pada masalah yang ingin diangkat," ujarnya.
Sulfikar mencontohkan misalnya ia merupakan Bu Mega, dan akan menulis pengalaman sebagai presiden periode 2001-2004, judulnya akan menjadi Krisis Multidimensi 2001-2004 dengan sub judulnya adalah peran kepemimpinan nasional dan integrasi bangsa, jadi langsung aja tanpa menyebutkan bahwa saya ada disitu.
"Jadi menulis makalah akademik, berdasarkan pengalaman, itu sah-sah saja, dan dapat dilakukan siapa saja," ujarnya.
Namun tambah dia, saat menulis itu, maka kita berada dalam situasi yang kita analisa, artinya kita adalah subjek dari apa yang kita tulis
"Karena itu mestinya kita harus menggunakan kata pengganti pertama misalnya saya atau aku. Disini aneh kalau kita baca abstraknya, penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang hubungan antara krisis multidimensi dan kepemimpinam presiden dalam kurun waktu 2001-2004 untuk mencapai tujuan tersebut penelitian kualitatif pendekatan studi kasus dipakai untuk menggali tacit knowledge dari pengambil keputusan tertinggi saat itu yang tidak lain adalah Megawati," urainya.
Ini lanjutnya adalah kalimat yang lucu karena dia mau menekankan suatu fakta bahwa pada saat itu kebetulan ia adalah presidennya. Padahal tidak perlu
"Saya melihat artikel ibu Megawati ini penting untuk dibaca dan ketahui tapi sayangnya paper ini terjebak dalam self praising atau memuja diri sendiri, sehingga kita tidak bisa melihat fakta yang benar," tandasnya. (Don)
Editor : Don Papuling