Disebut Pernah Dipenjara, Ustaz Yusuf Mansur Siap Laporkan Dosen UI, Ini Narasi Lengkap Ade Armando
Filip Kapantow• Minggu, 19 Desember 2021 | 13:21 WIB
Ade ArmandoMANADOPOST.ID - Ulama kondang Ustaz Yusuf Mansur merespon video dosen UI Ade Armando berjudul “YUSUF MANSUR BUKTI BERAGAMA HARUS PAKAI AKAL SEHAT” yang disiarkan di kanal YouTube Cokro TV pada Sabtu, 18 Desember 2021. Dalam video tersebut, Ade Armando mengungkit masa lalu Yusuf Mansur yang pernah dipenjara dan jualan es. Yusuf Mansur merespon opini Ade Armando dengan menyiapkan pengacara. Ia bakal menempuh jalur hukum. Yusuf tak terima dengan opini sepihak Ade Armando. Ia menuding Ade Armando yang terkenal dengan jargonnya ‘gunakan akal sehat’ justru tidak menggunakan akal sehat. “Akal sehat Pak Armando ternyata malah gak dipake? Pengen juga saya jadi youtuber,” kata Yusuf Mansur pada Sabtu (18/12/2021). Berikut narasi lengkap Logika Ade Armando yang dipersoalkan Ustaz Yusuf Mansur "Ulama terkenal, Ustad Yusuf Mansyur, sedang ramai dibicarakan. Dia tersandung kasus hukum dan diserang sesama ulama. Buat saya, apa yang terjadi dengan Yusuf kembali menunjukkan bahwa kalau umat Islam beragama tidak dengan akal sehat, kehebohan semacam ini sangat mungkin terjadi. Dalam kasus pertama, Yusuf dilaporkan 12 warga atas dugaan penipuan. Para pelapor adalah mereka yang sudah berinvestasi dalam projek pembangunan hotel dan apartemen Yusuf, namun saat ini nasib uang mereka tak ada kabar beritanya. Yang kedua, Yusuf harus berhadapan dengan serangan dari ulama yang juga kontroversial, Yahya Waloni. Yahya menuduh Yusuf melarikan uang sedekah yang diberikan para jemaatnya. Yusuf sudah membantah kedua tuduhan itu. Dia mengatakan siap mempertanggungjawabkan uang investasi yang dipersoalkan. Dan dia juga membantah membawa lari uang jemaat. Kepada Yahya Waloni, Yusuf bahkan menantang agar Yahya bisa memberikan satu saja bukti bahwa dia membawa lari uang sedekah. Yusuf memang kontroversial. Ulama Betawi ini pernah kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah, di Fakultas Syariah. Namun masa lalunya tidak terlalu cerah. Belum menginjak usia 30 tahun, dia sudah harus masuk penjara karena urusan bisnis ITnya. Menurut cerita, di masa di dalam rumah tahanan itulah, Ia mendapat inspirasi untuk menyebarkan kebijakan sedekah. Setelah lepas dari penjara, ia harus merangkak dari bawah. Pernah jualan es, menjual termos eceran sampai akhirnya memiliki usaha dengan sejumlah karyawan. Namanya mulai bersinar ketika ia menulis buku tentang Keajaiban Sedekah. Bukunya laku keras dan ia sendiri diundang bicara di mana-mana. Yang membuat ia banyak disukai adalah kesederhanaan ceramah yang ia berikan. Ia mendorong pendengar untuk menjadi muslim yang baik, dengan menjalankan perilaku yang simple dengan mengikuti ajaran Al Quran dan Hadits. Ilustrasi-ilustrasi yang ia sampaikan mengena karena menyangkut kehidupan sehari-hari. Joke-jokenya juga mudah dicerna. Jadi dia adalah penceramah yang pintar berkomunikasi dengan khalayaknya. Yusuf mengajarkan umat Islam untuk tidak ragu bersedekah karena Tuhan akan membalas kedermawanan kita berlipat ganda. Sebuah gagasan yang penting tentunya. Saya bahkan harus mengatakan dorongan untuk berbagi dengan kaum papa adalah hal esensial yang kerap diabaikan dalam ceramah para ulama lainnya. Justru semangat berbagi, semangat peduli pada mereka yang membutuhkan, kaum miskin, yatim piatu, mereka yang tertindas adalah semangat yang kerap dilupakan. Masalahnya, ajaran tentang semangat berbagi ini ternyata tidak berujung pada upaya memperjuangkan keadilan sosial. Kesannya Yusuf justru mendorong khalayak untuk berbagi tapi tidak secara langsung pada orang-orang miskin di sekitar mereka. Yusuf misalnya tidak mendorong orang untuk tidak bersikap hedonis, boros, dan berfoya-foya. Yusuf tidak mengajarkan umat untuk hidup sederhana. Tapi Yusuf mendorong khalayak untuk langsung menyumbangkan bagian dari kekayaan kepada Yusuf sendiri. Jadi di berbagai video yang kini kembali beredar, terlihat bagaimana Yusuf meminta para jemaat untuk menyumbangkan perhiasan yang mereka miliki kepada Yusuf. Dengan sebuah janji bahwa sumbangan yang mereka berikan akan dibalas berlipat ganda oleh Allah. Caranya membujuk sangat sederhana. Dia misalnya meminta seorang jemaat untuk menyumbangkan motornya. Harga motor itu adalah tujuh juta rupiah. Lantas Yusuf akan meyakinkan si jemaat bahwa uang itu akan kembali dalam jumlah 10 kali lipat, alias 70 juta rupiah. Dan si jemaat dengan patuh mengikuti permintaan itu. Dia kehilangan motor walau kemungkinan besar janji 70 juta itu hanya harapan palsu. Sebagian pihak menyatakan Yusuf menghipnotis para jemaat. Saya sih tidak percaya dengan penjelasan itu. Saya lebih percaya bahwa Yusuf pintar menggunakan groupthink. Ketika kita berada dalam satu kelompok masyarakat, dan kita harus mengambil keputusan cepat, kita akan cenderung mengikuti apa saja yang dilakukan mayoritas orang dalam kelompok tersebut. Istilahnya, ikut-ikutan dalam kelompok. Jadi ketika seorang ibu berada di kerumunan khalayak melihat bahwa ibu-ibu lain menyumbangkan perhiasan, dia akan merasa bahwa keputusan yang paling tepat adalah juga menyumbangkan cincin atau kalungnya. Atau seperti orang yang menyumbang motor tadi. Kalau saja dia harus mengambil keputusan dalam suasana yang lebih tenang, tidak terburu-buru, dia mungkin tidak akan begitu saja menyumbangkan motornya. Dia akan berpikir sekian kali sebelum akhirnya mengambil keputusan. Tapi ketika dia tiba-tiba dipanggil oleh Yusuf untuk tampil ke atas panggung dan dia merasa semua orang lain juga menyumbang, ia pun akan merasa wajib merelakan motornya. Jadi kecenderungan groupthink adalah satu penjelasan. Tapi penjelasan yang lebih mendasar adalah kepatuhan dan kepercayaan pada ulama. Apa yang dikatakan Yusuf dianggap sebagai sesuatu yang benar karena dia adalah ulama. Ketika dia mengatakan bahwa Allah akan membayar imbalan sepuluh kali lipat, itu akan dianggap sebagai kebenaran karena disampaikan oleh ulama. Jemaat misalnya tidak akan cukup kritis untuk bertanya: kalau begitu gampang banget dong jadi orang kaya. Nyumbang aja sering-sering, maka kita akan bertambah kaya berlipat-lipat. Atau tidak ada yang bertanya, kok Ustadz Mansyur tidak kaya-kaya amat sih? Kan mustinya dia sanggup menyumbang setiap hari. Kok belum jadi milyarder? Tapi pertanyaan semacam itu hanya akan datang bagi mereka yang bersedia menggunakan akal sehat dan berpikir kritis. Sayangnya kepercayaan berlebihan kepada ulama menyebabkan kesanggupan untuk berpikir kritis itu padam. Ini tentu saja tidak menjadi soal kalau saja kemudian Yusuf bisa secara transparan menunjukkan kepada publik berapa sedekah yang ia peroleh dan untuk apa saja sedekah itu kemudian digunakan. Tapi itu sama sekali tidak ia lakukan. Karena itulah ada uduhan dari Yahya tadi, bahwa Yusuf ‘membawa lari uang sedekah’ umat. Yang juga menunjukkan kekuatan ulama adalah kasus tuduhan bahwa Yusuf menipu jemaat untuk berinvestasi. Sejak lama Yusuf mengembangkan gagasan praktek ekonomi syariah dengan pola patungan modal. Jadi semacam crowd funding. Yusuf menawarkan pada Jemaah untuk mengumpulkan uang beramai-ramai sebagai modal bagi sebuah projek bisnis yang menggiurkan. Investasi berkisar dari hanya beberapa juta sampai puluhan juta rupiah. Jadi bahkan mereka yang tak punya modal besar pun bisa ikut berbisnis dan memperoleh keuntungan. Yusuf juga menjanjikan tingkat keuntungan yang tinggi. Karena kepercayaan mereka pada Yusuf, banyak jemaat yang berinvestasi tanpa mempelajari dulu kelayakan projek. Dan harapan itulah yang kemudian dikhianati. Pada 2012, sudah mulai ada projek bermasalah. Yusuf ketika itu berencana membangun hotel Siti di Tangerang. Ia berhasil menarik hati lebih dari dua ribu warga yang bersedia menyalurkan investasi. Nyatanya Yusuf tidak punya kemampuan manajemen untuk mengelola dana, sehingga rencana hotel itu berakhir terkatung-katung. Mereka bahkan memperoleh teguran dari Menteri BUMN dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) perihal legalitas formal usaha. Tapi kegagalan hotel Siti tak membuat Yusuf kapok. Pada 2014, ia membuka lagi penggalangan dana bernama investasi Condotel Moya Vidi, di Jogja. Yusuf menyatakan akan membeli 200 kamar di Condotel yang belum dibangun itu. Total uang yang dibutuhkan mencapai Rp161,5 miliar. Setelah berjalan sekian lama, Yusuf mengabarkan para investor bahwa investasi Condotel itu dibatalkan karena dana kurang. Tapi alih-alih dikembalikan, uang jemaat begitu saja dialihkan ke investasi lagi Hotel Siti. Ternyata sampai sekarang, tak ada kabar juga mengenai keberlangsung pembangunan hotel itu. Selain dua kasus tersebut, Pada 2020, Yusuf juga diperiksa sebagai saksi dalam perkara Perumahan Multazam Islamic Residence di Sidoarjo, yang semula dinyatakan siap huni pada awal tahun 2020. Sebagian besar konsumennya telah melunasi cicilan yang pembayarannya diangsur sejak tahun 2016. Namun kenyataannya lokasi perumahan yang dijanjikan sampai 2020 masih berupa rawa-rawa dan tanah kosong. Seperti saya katakan di awal, ini semua terjadi karena kepercayaan yang tinggi pada ulama. Umat menyangka, begitu ini melibatkan ulama, kecurigaan dan kewaspadaan tak perlu lagi ada. Karena itulah, umat islam harus beragama dengan akal sehat. Selalu gunakan akal sehat. Karena hanya kalau kita gunakan akal sehat, kita akan selamat. (*) Editor : Filip Kapantow