Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Roeroe, Luntungan, Wenas Calon Alternatif BPMS GMIM

Filip Kapantow • Selasa, 22 Februari 2022 | 09:45 WIB
Photo
Photo
MANADOPOST.ID - Legacy atau warisan, biasanya kental mengalir dalam satu garis keturunan. Lebih lagi jika berbicara soal profesi Hamba Tuhan, pastinya punya nilai tambah tersendiri bagi masyarakat. Sejalan dengan konteks tersebut, tak ada salahnya juga jika kita menilik mantan-mantan Ketua Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM. Yang sepak terjang pelayanannya, kini dilanjutkan oleh suksesor generasi masa kini.   Warga GMIM tentunya masih ingat kepemimpinan mantan Ketua BPMS dua periode Pdt AZR Wenas. Figur yang juga jadi pelopor berdirinya Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT) ini memimpin GMIM selang waktu 1942-1951 dan 1955-1967 silam. Ada juga nama Pdt RM Luntungan yang menakhodai GMIM di periode tahun 1967-1979. Serta figur Pdt Dr WA Roeroe yang juga menjabat Ketua Sinode GMIM selang tahun 1979-1990 dan berlanjut di tahun 1995-2000. Bertolak dari ketiga nama di atas, kini generasi baru para mantan pemimpin organisasi gereja terbesar di Sulut ini dilanjutkan oleh, Pdt Dr Adolf Katuuk Wenas MTeol, Pdt Julioner Luntungan MTh dan Pdt Senduk GA Roeroe MTh yang kerap disapa Pdt Roeroe Junior.   Ketika diwawancarai Manado Post, salah satu calon nominasi BPMS, Pdt Dr Adolf Katuuk Wenas MTeol mengatakan, esensi pelayanan tak lain adalah melaksanakan panggilan Tuhan. Soal posisi dan jabatan, kata dia, merupakan hal sekunder yang sejatinya tidak menghalangi pemberian diri melayani jemaat.   "Inti panggilan pelayanan, bukan bicara soal kedudukan apalagi jabatan. Tapi menjadi gembala bagi jemaat, menyelamatkan banyak jiwa dan mewartakan Injil kepada masyarakat," sebut Pdt Wenas yang juga sempat melayani bersama dengan Wali Kota Bitung Maurits Mantiri ini.   "Yah jika berkenan diberikan kepercayaan, puji syukur tentunya. Begitupun sebaliknya, tidak serta-merta mengurangi spirit pelayanan. Pikul salib pelayanan tetap di atas segala-galanya," sebut pendeta berdarah Talete, Kota Tomohon ini.   Beralih ke Pdt Julioner Luntungan MTh, pelayan jemaat yang masih memiliki pertalian darah dengan mantan Ketua BPMS periode 1967-1979 Ds RM Luntungan. Kala diwawancarai, pendeta yang pernah berprofesi sebagai sopir angkot ini, mengaku awal mulanya enggan maju sebagai salah satu calon pimpinan BPMS GMIM. Mantan Tenaga Utusan Gereja (TUG) di Pulau Gebe Halmahera Tahun 2001-2003 ini, akhirnya memutuskan siap bertarung usai diberikan mandat oleh alumnus UKIT Tahun 1991.   "Nggak pernah kepikiran sebelumnya, terus terang aja. Hanya karena dorongan dan dukungan dari teman-teman alumnus UKIT Tahun 91, saya kemudian bertekad untuk maju dalam pemilihan BPMS," beber Julioner, anak bungsu dari tujuh bersaudara ini,   Lanjut dikatakan Pendiri SMK Getsemani Pulau Gangga ini, sorotan publik yang melihat keberadaan pendeta di tahun 1990-an dulu. Sempat menggusarkan hatinya, untuk menseriusi profesi sebagai hamba Tuhan. Tak pelak, dirinya pun sempat menjajal kemampuan wirausahanya, usai menamatkan pendidikan di UKIT tahun 1997 silam.   "Mohon maaf, waktu saya selesai menamatkan pendidikan kependetaan di tahun 1997 lalu, mindset pendeta bisa disebut kurang baik. Karenanya usai pendidikan, saya sempat berjualan beras, koran hingga sopir angkot. Organisasi Basis Angkot Paal Dua saya yang dirikan. Akhirnya seiring berjalannya waktu, saya mencoba meyakinkan diri sendiri hingga menjadi pelayan sampai saat ini," bebernya sembari menambahkan, esensi penting dalam pelayanan tak lain ada panggilan diri.   Menjadi garam dan terang dunia, dimana pun Tuhan tempatkan, jadi tekad pribadi. Terbukti, kala menjabat sebagai Ketua BPMJ di GMIM Getsemani Pulau Gangga ini, Pdt Julioner Luntungan jadi figur krusial berdirinya salah satu gereja terbesar di Kabupaten Minahasa Utara tersebut. Berpindah ke Pdt Senduk GA Roeroe MTh. Sepak terjang Ketua BPMJ GMIM Sion Tomohon ini rasanya tak perlu diragukan lagi. Bahkan mantan Sekum BPMS Pdt Dr Nico Gara, menyebut keponakan mantan Ketua BPMS   Pdt Dr WA Roeroe ini punya kreativitas dan inovasi yang dibutuhkan GMIM di era globalisasi kini.  "Sangat layak masuk dia masuk jajaran BPMS GMIM. Pdt Senduk Roeroe penuh kreativitas dan inovasi. Dan itu dibutuhkan GMIM saat ini,” ujar Pdt Nico Gara.   Dilanjutkan mantan Sekretaris Umum BPMS GMIM ini, dari sisi kualitas dan kapabilitas figur Pdt Senduk GA Roeroe, telah dilihatnya sendiri ketika menjadi anak didiknya di Fakultas Teologi UKIT.   “Karena kreativitasnya itulah, Pdt Senduk Roeroe terbukti mampu berkiprah hingga tingkat internasional. Yaitu sebagai tenaga utusan gereja di Indonesian Christian Fellowship Church (ICFC) Washington DC, Amerika Serikat,” sebutnya.   Pun dalam berbagai kesempatan, Pdt Roeroe Junior sapaan akrab figur low profile ini mengatakan, dirinya berterima kasih atas kepercayaan dan dukungan dari rekan-rekan pelayan. Sekaligus tak muluk-muluk menargetkan posisi, kala dipercaya masuk dalam jajaran kabinet BPMS.   "Tentunya berterima kasih atas kepercayaan dan dukungan dari teman-teman pendeta. Tidak ada niatan apalagi obsesi berlebihan, dimanapun dipercaya sebagai pelayan. Wajib dijalani dengan penuh rasa sukacita dan tanggung jawab," ujar Pdt Roeroe Junior.   Dari kacamata Pengamat Stefanus Sampe PhD, potensi berkompetisinya ketiga pendeta yang memiliki garis keturunan dengan mantan orang nomor satu di GMIM. Tentunya patut diperhitungkan, lebih lagi di tengah keberlimpahan figur yang dimiliki GMIM saat ini.   "Pastinya mereka (pelayan Tuhan, red) yang memiliki garis keturunan ini memiliki figur dan ketokohan yang mumpuni. Lewat keterikatan yang dimiliki melalui hubungan pertalian saudara. Ada poin tersendiri menyandang marga yang dahulunya, pernah menjadi pimpinan di GMIM. Sekaligus bisa menjadi Boomerang tersendiri, jika tidak dibarengi dengan kesamaan ciri dan komitmen pemberian diri. Tapi, hal tersebut tidak terlalu dominan, karena prinsipnya mereka sudah diambil sumpah dan janji menjadi pelayan," ungkap Akademisi Fispol Unsrat ini.   Disentil soal potensi dan kebebasan berdemokrasi kala kontestasi pesta iman nantinya bergulir. Sampe bilang, proses demokrasi bersifat hakiki dan tak terbatas institusi, baik yang berkiblat pada sisi spiritualitas. Justru, dirinya melanjutkan, gereja dalam hal ini GMIM harusnya bisa menjadi patron dan teladan. Perwujudan demokrasi bisa diaktualisasikan dalam pelaksanaan pemilihan BPMS.   "Kebebasan untuk memilih dan dipilih harus kita implementasikan, di atas segala-galanya. Apalagi mereka yang berkontestasi ini seluruhnya adalah pelayan. Biar hasil demokrasi dari pesta iman ini, memiliki kekuatan legalitas yang absolut. Bukan sebaliknya, diwarnai dengan intimidasi, saling jegal, lebih-lebih mengemas regulasi untuk menjatuhkan kesempatan orang lain untuk ikut dalam proses berdemokrasi. Saya yakin dan percaya, GMIM mampu menjadi organisasi keagamaan yang mampu menggambarkan keberagaman berlandaskan asas musyawarah untuk mufakat," terang doktor jebolan University Of Canberra Australia ini. Dengan demikian, dikatakan Sampe, bukan hanya warga GMIM saja yang mengakui spirit berdemokrasi terjadi. Melainkan menyasar juga kepada seluruh masyarakat di Nyiur Melambai. Sebagai pencerminan pendidikan politik yang berkualitas dan patut diteladani.   "Jadi pembuktian bagi GMIM juga ke publik, tak hanya scope jemaat saja. Publik bisa menilai bahwa kader-kader gereja yang terpilih nantinya, murni dari proses yang berkualitas. Sekaligus proses kaderisasi dan pendidikan politik, lebih lagi sesuai dengan kehendak Tuhan. God Will, kehendak dan proses Tuhan berlaku di dalamnya," sebutnya.   Ya, marwah Pesta iman BPMS GMIM 24, 25, dan 26 Maret mendatang tidak boleh dinodai. Pasalnya, terinformasi diduga seorang srikandi aktif menelpon satu per satu Ketua Badan Pekerja Majelis Wilayah (BPMW) maupun Badan Pekerja Majelis Jemaat (BPMJ) agar tidak menominasikan si calon perempuan.   “Iya benar. Contoh Pdt Magritha Dalos. Banyak yang awalnya ingin menominasikan, tapi dibatalkan gara-gara diintimidasi. Realita ini tidak bisa dibenarkan. Jangan rampas hak kesulungan jemaat,” tukas sejumlah pendeta dan Pelsus yang enggan dikorankan. Atas dasar itu, mereka menyesalkan kenyataan ini.   Bahkan mendorong BPMJ dan BPMW untuk tidak takut. “Tidak perlu takut. Mari kita lawan intimidasi,” pungkas mereka. Mereka menyesalkan intimidasi ini. Seperti terjadi di Wilayah Bitung 8, dan beberapa lainnya. Saat hendak mengajukan tandatangan ke Ketua BPMW, begitu dibaca ada nama calon perempuan Pdt Magritha Dalos, tidak mau ditandatangani.   Padahal sedari awal, Ketua Umum Panitia Pemilihan Olly Dondokambey berkerinduan pelaksanaan pesta iman GMIM ini sukses. “Jika yakin menang dan sudah di atas angin, mengapa berupaya menjegal calon perempuan. Ada apa ?,” simpul mereka.   Sementara, Sekretaris BPMS GMIM Pdt Evert Tangel menjelaskan, saat ini BPMJ dan BPMW sedang memasukkan daftar nominasi ke portal SIT GMIM. Yang pasti, nama yang dimasukkan jemaat sesuai sidang majelis tidak akan berubah. “Saat ini, BPMJ melakukan Sidang Majelis Jemaat terkait penominasian. Nama-nama itu yang akan dikirimkan ke Portal SIT GMIM. Tidak boleh diutakatik,” kata Tangel. (yol) Editor : Filip Kapantow
#Julioner Luntungan #Adolf Wenas #SGA Roeroe #AZR Wenas #WA Roeroe #RM Luntungan