Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sulut Siaga Hepatitis Akut, Wagub: Rumah Sakit Deteksi Sedini Mungkin

Tanya Rompas • Jumat, 6 Mei 2022 | 10:29 WIB
Maximiliaan Jonas Lomban
Maximiliaan Jonas Lomban
MANADOPOST.ID— World Health Organization (WHO) secara resmi mempublikasikan kasus hepatitis akut yang tidak diketahui etiologinya sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) pada 15 April 2022 lalu. Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) diharap bergerak cepat mengantisipasi kejadian Hepatitis yang sudah berstatus KLB di 12 negara. Wakil Gubernur Sulut Steven Kandouw ketika diwawancarai mengatakan, organisasi perangkat daerah (OPD) terkait harus bisa melakukan penanganan dan antisipasi atas kasus Hepatitis tersebut. "Deteksi sedini mungkin. Jangan sampai terjadi di Sulut. Puskesmas dan rumah sakit di kabupaten/kota, harus kerja keras melakukan deteksi. Jangan sudah menyebar baru kita bingung. Tentu kita berdoa bersama kasus ini tidak terjadi di Sulut. Kalau saya lihat, di Jakarta sudah ada kasus. Jadi saat ini peningkatan kewaspadaan harus kita lakukan. Jangan lengah. Saya akan segera melakukan evaluasi akan kasus ini," kuncinya. Di sisi lain, Kepala Dinas Kesehatan Daerah Sulut dr Debie Kalalo saat dihubungi koran ini, Rabu (4/5) kemarin, memastikan Pemprov Sulut dan 15 kabupaten/kota, saat ini telah siaga. "Jadi memang di 12 negara itu kisaran kasus terjadi pada usia 1 bulan sampai dengan 16 tahun. Kementerian Kesehatan RI telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) dari Direktur Jenderal P2P nomor: HK.02.02/C/2515/2022 tentang kewaspadaan terhadap penemuan kasus Hepatitis akut yang tidak diketahui etiologinya (Acute Hepatitis of Unknown Aaetiology) tanggal 27 April 2022. Karena itu saat ini kita telah mengeluarkan imbauan kepada 15 kabupaten/kota untuk melakukan kewaspadaan dan antisipasi," tuturnya. Kalalo melalui SE 440/Sekr/001.E/V/2022 tentang Kewaspadaan Hepatitis Akut mengimbau Dinas Kesehatan kabupaten/kota memantau dan melaporkan kasus sindrom jaundice akut di Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) tingkat Puskesmas. Dengan gejala yang ditandai dengan kulit dan sclera berwarna ikterik atau kuning dan urin berwarna gelap yang timbul secara mendadak. Juga memberikan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) kepada masyarakat serta upaya pencegahannya melalui penerapan perilaku hidup bersih dan sehat. "Dinas Kesehatan di 15 kabupaten/kota harus menginformasikan kepada masyarakat segera mengunjungi Fasilitas Layanan Kesehatan (Fasyankes) terdekat apabila mengalami sindrom jaundice. Juga membangun dan memperkuat jejaring kerja surveilans dengan lintas program dan lintas sektor terutama Dinas Pendidikan, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi, atau Kantor Kementerian Agama kabupaten/kota. Serta juga melaporkan sindrom jaundice akut secara harian sesuai definisi operasional dari Kemenkes RI, kepada Dinas Kesehatan Daerah Provinsi Sulut melalui Bidang P2P," jelasnya. Untuk rumah sakit juga menurut Kalalo, perlu meningkatan kewaspadaan melalui pengamatan semua kasus sindrom jaundice akut yang tidak jelas penyebabnya dan ditangani sesuai tata laksana serta dilakukan pemeriksaan laboratorium. "Melakukan hospital record review terhadap kasus Hepatitis akut yang tidak diketahui Etiologinya (Acute hepatitis of unknown aetiology) sejak 1 Januari 2022. Juga melaporkan sindrom jaundice akut secara harian sesuai definisi operasional dari Kemenkes RI, kepada Dinas Kesehatan Daerah Provinsi Sulut melalui Bidang P2P di nomor 085341223577 dan 082188492527," katanya. Diketahui, kasus tersebut terlapor di 12 negara yaitu Inggris (114), Spanyol (13), Israel (12), Amerika Serikat (9), Denmark (6), Irlandia (<5), Belanda (4), Italia (4), Norwegia (2), Perancis (2), Romania (1) dan Belgia (1). Diketahui Kementerian Kesehatan telah meningkatkan kewaspadaan dalam dua pekan terakhir setelah WHO menyatakan KLB pada kasus Hepatitis Akut. Kewaspadaan tersebut meningkat setelah tiga pasien anak yang dirawat di RSUPN Dr Ciptomangunkusumo Jakarta dengan dugaan Hepatitis Akut yang belum diketahui penyebabnya meninggal dunia, dalam kurun waktu berbeda. Dengan rentang dua minggu terakhir hingga 30 April 2022. Ketiga pasien ini merupakan rujukan dari rumah sakit yang berada di Jakarta Timur dan Jakarta Barat. Gejala yang ditemukan pada pasien-pasien ini adalah mual, muntah, diare berat, demam, kuning, kejang dan penurunan kesadaran. Saat ini, Kementerian Kesehatan RI sedang berupaya melakukan investigasi penyebab kejadian hepatitis akut ini melalui pemeriksaan panel virus secara lengkap. Dinas kesehatan Provinsi DKI Jakarta sedang melakukan penyelidikan epidemiologi lebih lanjut. ''Selama masa investigasi, kami mengimbau masyarakat berhati-hati dan tetap tenang. Lakukan tindakan pencegahan seperti mencuci tangan, memastikan makanan dalam keadaan matang dan bersih, tidak bergantian alat makan, menghindari kontak dengan orang sakit serta tetap melaksanakan protokol kesehatan,'' kata Juru Bicara Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmizi MEpid Jika anak-anak memiliki gejala kuning, sakit perut, muntah-muntah dan diare mendadak, buang air kecil berwarna teh tua, buang air besar berwarna pucat, kejang, penurunan kesadaran agar segera memeriksakan anak ke fasilitas layanan kesehatan terdekat.(ewa/gel) Editor : Tanya Rompas
#Sulut #Hepatitis Akut #Steven Kandouw