Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Penyakit Anjing Gila Mengintai Anak-Anak, Hal ini perlu menjadi perhatian serius buat para orang tua.

Toar Rotulung • Sabtu, 17 Juni 2023 | 17:33 WIB
Jumpa pers daring IDAI menanggapi kasus rabies yang terjadi di Indonesia belakangan ini.
Jumpa pers daring IDAI menanggapi kasus rabies yang terjadi di Indonesia belakangan ini.

MANADOPOST.ID - Dalam beberapa waktu terakhir, publik kembali dihebohkan dengan kasus rabies yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Di Kalimantan Barat, rabies dikabarkan sudah menelan korban 11 orang. Kemudian ada lagu di Bali, seorang balita perempuan meninggal juga diduga karena digigit anjing rabies.

"Dalam beberapa wilayah Indonesia, kasus rabies telah menimbulkan kekhawatiran dengan jumlah korban yang meningkat," kata Kementerian Kesehatan.

Dilansir dari laman resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), saat ini ada 26 Provinsi yang menjadi endemis rabies tapi hanya 11 provinsi yang bebas rabies yakni Kepulauan Riau, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Papua Barat, Papua, Papua Selatan, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.

"Sebanyak 26 provinsi di Indonesia dianggap endemis rabies, sedangkan 11 provinsi telah berhasil mengendalikan penyebaran rabies," kata Kemenkes.

Lalu, apa itu rabies? Rabies merupakan salah satu penyakit zoonosis yaitu penyakit yang menular dari hewan ke manusia. Infeksi ini ditularkan oleh hewan yang terinfeksi penyakit rabies. Hewan utama sebagai penyebab penyebaran rabies adalah anjing, kelelawar, kucing dan kera.

"Rabies adalah penyakit zoonosis yang menular dari hewan ke manusia melalui gigitan hewan terinfeksi seperti anjing, kelelawar, kucing, dan kera," jelas Kementerian Kesehatan.

Di Indonesia rabies atau yang dikenal dengan “penyakit anjing gila” masih menjadi salah satu masalah yang mengancam kesehatan masyarakat. Terutama anak-anak. Hal ini perlu menjadi perhatian serius buat para orang tua.

"Rabies merupakan masalah serius di Indonesia dan anak-anak berisiko tinggi terkena penyakit ini," kata Dr.dr. Novie Homenta Rampengan, Sp. A (K), DTM&H, MCTM(TP) dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Dr.dr. Novie Homenta Rampengan, Sp. A (K), DTM&H, MCTM(TP) selaku Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi dan Penyakit Tropis, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan, anak-anak rentan terkena rabies karena rasa ingin tahunya yang masih sangat besar. Rasa penasaran anak ini yang membuat mereka rentan terkena rabies karena interaksi dengan hewan.

"Anak-anak memiliki risiko tinggi terkena rabies karena rasa ingin tahu mereka yang besar dan sering berinteraksi dengan hewan," jelas dr. Novie.

Tidak hanya anjing liar, anjing peliharaan pun tidak menjamin akan bebas rabies. Hal ini sangat berisiko jika hewan peliharaan tersebut tidak menjalani vaksinasi rabies.

"Semua mamalia bisa terkena rabies, termasuk anjing peliharaan. Oleh karena itu, vaksinasi rabies sangat penting," kata dr. Novie.

Gejala masa inkubasi virus rabies sendiri berkisar antara 4 - 12 minggu, setelah masa inkubasi orang yang tertular virus rabies akan mengalami gejala mirip flu, demam otot melemah, kesemutan atau merasa terbakar di area gigitan, sakit atau nyeri kepala, demam, mual dan muntah, merasa gelisah, bingung atau terancam tanpa ada penyebab, hiperaktif, halusinasi, insomnia atau gangguan tidur, kesulitan menelan ketika makan atau minum serta produksi air liur berlebih.

"Rabies memiliki masa inkubasi sekitar 4-12 minggu, setelah itu, gejala-gejala seperti flu dan gangguan neurologis akan muncul," jelas Kementerian Kesehatan.

Kemudian, gejala rabies pada manusia berkembang secara bertahap dimulai dengan gejala awal yang mirip flu lalu berkembang menjadi gangguan neurologis yang parah. Meski bisa berakibat fatal, pasien tetap berpeluang sembuh asal segera diobati setelah terpapar virus rabies.

"Pasien yang terinfeksi rabies berpeluang sembuh jika segera diobati setelah terpapar virus," kata Kementerian Kesehatan.

"Intinya kalau anak sudah berinteraksi dengan hewan, kemudian menunjukkan gejala-gejala di atas, segera ambil tindakan. Pergi ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan lanjutan," pungkas Kementerian Kesehatan. (jpc)

Editor : Toar Rotulung
#Rabies #penyakit anjing gila #kemenkes #kasus rabies