SAYA mendapat kabar Tamaka ‘Bu Tahanusang’ Kakunsi telah dipanggilpulang oleh Bapa di Sorga dari Pemred Manado Post Tommy Waworundeng di WhatsApp Grup kami.
Sejak kecil saya telah mengenal Bu’ lewat sebuah mata acara lawak Manado di TVRI. Lupa saya nama acaranya. Intinya, Bu’ piawai dalam menghibur penonton.
Selesai kuliah di Fisip Unsrat, jurusan Ilmu Komunikasi, saya melamar di Manado Post. Di sinilah saya menjadi akrab dengan Bu’ Tahanusang, karena beliau wartawan Manado Post.
Dia pos liputan di Pengadilan Negeri Manado. Lama sekali. Sejak Manado Post pertama kali terbit dan masih managemen lama, sampai telah berbendera Jawa Pos Grup.
Teman-temannya di Manado Post di antaranya Leonardo Axsel Galatang, Reyner Ointoe, Kamajaya Al Katuuk, Katamsi Ginano, Rizal Layuck, Tenny Assa, Jackried Maluenseng, Friko Poli, dll.
Dulu Manado Post sering diolok-olok dan jadi bahan tertawaan. Bahkan jadi cikulu-cikulu, nenek ciri di got kaluar di mana ? Jawabannya: Manado Post.
Nah, Bu’ sudah memperkuat Manado Post sejak zaman itu. Bu’ ini wartawan yang setia hingga akhir. Mengawali dan mengakhiri karier jurnalistiknya di Manado Post.
Bu’ juga salah satu tim khusus Manado Post yang menginvestigasi keberadaan Gereja Setan di Manado. Dia sangat berani melakukannya demi pembaca Manado Post.
Di Manado Post, untuk mendapatkan liputan investigasi yang sempurna adalah menyamar. Maka Bu’ dan teman-teman melakukan penyamaran. Ikut ritual ibadah Gereja Setan agar mendapatkan berita yang lengkap.
Saat Bu’ pensiun, Manado Post menggelar acara di Hotel Santika, sekarang Grand Luley. Saya tidak lupa, Bu’ ditemani istrinya, masuk sendiri ke kolam. “Daripada ngoni mo lego pa kita, lebe bae kita maso sandiri,” kata Bu’, ketika itu.
Waktu berjalan, tak lama kemudian, Bu’ datang ke kantor. Dia membawa Escolano Kakunsi, putranya, agar diterima menjadi wartawan Manado Post. Escol, sapaannya, memang qualified. Dia aktivis mahasiswa. Dari wartawan, Escol lantas menjadi komisioner di Bolmong Selatan.
Ada lagi kenangan saya bersama Bu’. Kakak laki-laki saya akan menikah. Kakak-ku meminta agar MC-nya adalah Bu’. Saya bilang ke Bu’ dan dia menjawab: Gratis Lon, jangan bayar.’
Sepanjang acara di Nyiur Melambai Restauran itu, Bu’ selalu melihat B2 yang diwoku dibungkus kulit kayu. Dan betapa senangnya Bu’, saat pulang dari pesta nikah, dia menenteng bungkusan B2 Woku ala Kombi.
Bu’ juga adalah pelayan Tuhan. Dia mantan Pelayan Khusus GMIM. Bahkan pernah dipercayakan sebagai Badan Pekerja Majelis Jemaat.
Selamat Jalan Bu’.
Beristirahatlah dalam keabadian.(*)