MANADOPOST.ID - Putri Indonesia Sulut 2020 Desiree Magdalena Roring membudayakan kembali upacara pernikahan berdasarkan adat suku Minahasa.
Upacara perkawinan adat itu dilakukan Desiree saat merayakan syukuran pernikahan wulan Desiree dengan suaminya waraney Gerry Jordie Tamengkel, Minggu (23/7).
Ribuan undangan yang hadir tampak ramai di Gedung Wale Ne Tou Tondano, Minahasa. Keduanya dibanjiri ucapan selamat. Juga doa dari para sesepuh adat hingga tokoh masyarakat Minahasa yang hadir. Diketahui, Gerry Jordie Tamengkel merupakan putra dari mantan Plt Kadis PUPR Sulut Ir Adolf Harry Tamengkel dan dr Fenny Jultje Tambayong.
Sementara Desiree Magdalena Roring, merupakan putri Bupati Minahasa Royke Octavian Roring dan Fenny Charlotte Martina Lumanauw. Desiree sendiri adalah Putri Indonesia Sulut tahun 2020.
Adat Minahasa yang kental tersaji menuai apresiasi. Pasalnya, di tengah ‘tsunami’ budaya asing, dua anak muda tersebut tetap mempertahankan kultur para leluhur. Syukuran sendiri menggunakan prosesi adat Sanga Awu.
Meski acara dibuat dengan konsep serba adat Minahasa, dekorasi indoor tampak tetap artistik, indah, dan elegan.
Acara diawali dengan persembahan lagu dan tari-tarian kemudian disusul prosesi adat diiringi lagu Opo Wana Natas. Wajah para tamu undangan yang terdiri dari para pejabat dan sejumlah pimpinan daerah di Bumi Nyiur Melambai, terlihat sumringah. Para undangan pun merekam dengan video.
Saat itu, kedua orang tua mempelai pria dan wanita memasuki acara dikawal dua Kabasaran berjalan menuju Puade, dan dilanjutkan dengan doa serta diserahkan kepada Tonaas untuk memandu acara.
Saat acara mulai berlangsung, turut disuguhkan musik bambu dengan lagu bahasa cinta, diiringi musik tambor serta tetengkoren.
Pemimpin tari-tarian adat turun dari balkon, para penari lalu membawa bahan-bahan rumah tangga. Tujuannya memiliki arti dan simbol yang menyebut suatu keluarga ini dipersatukan.
Dilanjutkan dengan memasangkan Kain Keter kepada Gerry dan Desiree (Keluarga Tumengkol – Roring) kemudian kepada keluarga Tumengkol-Tambayong dan Keluarga Roring – Lumanauw, prosesi itu diiringi musik tambor, tong-ting dan tetengkoren.
Di akhir upacara, Tonaas menyampaikan ucapan terimakasih dari bahasa Tombulu, yang artinya, Tuhan kiranya menyertai dan memberkati keluarga baru, keluarga Tamengkel – Roring.
“Terimalah mereka dalam suatu kegiatan sosial kemasyarakatan sebagai satu keluarga yang sah,” ucapnya.
Diketahui, prosesi adat Sanga Awu yang diambil dari bahasa Toulour (Tondano), mempunyai sarat makna. Prosesi adat Sanga Awu ini adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam culture proses pernikahan adat Minahasa.
Dalam bahasa Toulour, Sanga Awu ini artinya Satu Dapur. Mempunyai makna, mengingatkan kepada setiap keluarga yang baru agar tanggung jawab satu sama lain, menjaga mahligai rumah tangga.
Arti satu dapur ini, juga sebagai tanda bahwa rumah tangga diberkati tetap ada untuk selama-lamanya yang didalamnya ada kerjasama suami dan istri, kerja keras dan cinta kasih.
Sekretaris Kabupaten Minahasa Dr Lynda Watania bersama Asisten Pemerintahan dan Kesra Riviva Maringka usai acara, ketika dimintai keterangan, menyampaikan bahwa prosesi syukur pernikahan secara adat ini, ditunjukkan agar bisa terus dilestarikan masyarakat Minahasa.
Menurut Sekkab Lynda Watania, prosesi syukur pernikahan adat Minahasa sudah lama tak digunakan para sub etnis di Minahasa. Untuk itu, dikatakannya Pemkab Minahasa mengajak seluruh masyarakat agar tetap mempertahankan serta melestarikan budaya adat Minahasa.
"Syukur pernikahan adat Minahasa Gerry dan Desiree menggunakan prosesi adat Sanga Awu. Yang dalam pengertian luasnya mengartikan kemandirian keluarga yang baru. Harus mampu ditunjukkan kepada keluarga besar bahkan kepada khalayak umum. Bagaimana tanggung jawab suami dan istri menjaga mahligai rumah tangga yang sudah dijanjikan keduanya," kuncinya. (Lerby Tamuntuan)
Editor : Tommy Waworundeng