Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Dalem Banget! Berikut Makna di Balik Baju Adat Asal Bolmong yang Dipakai Puan Maharani di HUT ke 78 RI

Angel Rumeen • Kamis, 17 Agustus 2023 | 19:14 WIB
Puan Maharani dengan baju adat asal Bolmong.
Puan Maharani dengan baju adat asal Bolmong.

 

MANADOPOST.ID—Ketua DPR RI Puan Maharani terlihat anggun dengan balutan baju adat bernama ‘Salu’ berasal dari Bolaang Mongondow. Puan mengatakan, baju adat ini biasa digunakan untuk acara kerajaan atau upacara kenegaraan.

“Baju adat ini menyimpan banyak makna. Salah satunya tentang peran perempuan yang meliputi tiga hal. Yakni pendamping suami, anggota masyarakat serta pembimbing dan pendidik anak. Luar biasa ya!,” tulis Puan di akun Instagramnya. Tak sampai di situ, ternyata pakaian adat yang dia gunakan tersebut dibuat langsung warga Bolmong. “Pakaian yang saya gunakan hari ini dibuat langsung oleh UMKM perajin lokal di Bolaang Mongondow,” tambahnya.

Dikutip dari berbagai sumber, pakaian adat yang dikenakan Puan Maharani merupakan busana khas perempuan. Baju Salu terbuat dari kain songket dengan hiasan kain biludru yang dihiasi emas disebut "hamunsei". Di atas hamunsei terdapat sebuah hiasan berbentuk seperti dasi yang disebut "mandapung". Diberi hiasan permata intan, berlian, atau benda berharga lainnya. Di dahi, terdapat hiasan yang disebut "lokis".

Rambut dihiasi sebuah mahkota yang berfungsi juga sebagai hiasan sisir. Pada sanggul, terdapat sebuah sunting emas yang biasanya memiliki motif burung. Pada lengan, terdapat gelang emas atau perak yang disebut "pateda".

Menurut Buku Empat Aspek Adat Daerah Bolaang Mongondow (1996:23-24), setiap bagian pakaian Salu memiliki makna simbolisnya masing-masing. Gunting tiga buah pada pakaian tersebut melambangkan tiga tanggung jawab perempuan, yaitu sebagai pendamping suami, anggota masyarakat, serta pembimbing dan pendidik anak. Lokis lima buah mewakili lima sila Pancasila sebagai dasar pendidikan anak. Hamsei dengan hiasan kuning dan hijau melambangkan kesuburan dan padi (hijau) serta emas (kuning).

Madapung di bagian dada melambangkan keteguhan hati seorang perempuan dalam menghadapi masalah dalam rumah tangga, keluarga, dan lingkungan. Warna kuning pada pakaian melambangkan keabadian. Bobol dan kote-kote melambangkan ikatan keluarga yang kuat untuk menghubungkan sang istri dalam kehidupan sehari-hari. Pateda dan Bolusu menjadi simbol bahwa perempuan terikat dengan hukum adat yang berlaku.

Sunting minimal lima dan sisir diletakkan sesuai dengan garis mahkota. Lokis lima buah dibuat dari benang rambut. Hamsei disesuaikan dengan adat setempat. Madapung diletakkan di bagian atas hamsei, serta menggunakan kote-kote dan bobol di leher. Pateda dan gelang dipakai di tangan. Warna Salu disesuaikan dengan kebiasaan umum yang lebih meriah.(*)

Editor : Angel Rumeen
#PDI Perjuangan #Puan maharani