Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Khotbah GMIM 22- 28 Oktober, 1 Korintus 12:12-31, Saling Menghormati Sebagai Satu Tubuh

Clavel Lukas • Jumat, 20 Oktober 2023 | 10:21 WIB

 

Pdt Djolly Sondakh
Pdt Djolly Sondakh

Shalom……….Damai di hati.

Jemaat yang dikasihi dan diberkati Tuhan. Kita mengucap syukur pada Tuhan, beberapa hari yang lalu hujan mulai membasahi bumi. Para petani maupun yang bukan petanipun bersyukur karena ancaman kekeringan dan dampaknya bagi dunia perekonomian tidak akan berlanjut.

Sebagai satu tubuh Kristus, orang-orang percaya dengan talenta dan fungsi yang berbeda-beda diajak untuk saling membantu, saling mendoakan dan saling menghormati.

Kitapun diajak untuk menghindarkan diri dari penyebaran informasi yang salah atau menyesatkan, baik secara sengaja (disinformasi) atau tidak sengaja (misinformasi) karena dapat memicu konflik, menumbuhkan kebencian, ketidakpercayaan yang menghancurkan rasa hormat antara individu di dalam jemaat , maupun di masyarakat.

Kehidupan yang saling menghormati merupakan sikap yang sangat berguna dalam kehidupan berjemaat maupun dalam kehidupan bermasyarakat. sebagaimana tema kita pada perenungan minggu yang berjalan ini : “Saling Menghormati Sebagai Satu Tubuh”, berdasarkan pembacaan 1 Korintus 12 : 12 - 31.

Bapak/ibu/sdr/I yang diberkati Tuhan. Kitab Korintus adalah sebuah surat yang diitulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di kota Korintus. Kota Korintus pada masa itu adalah kota pelabuhan yang penting dan kaya di Yunani.

Kota ini terkenal akan kehidupan yang bebas dan pemujaan terhadap berbagai dewa-dewi, dan yang paling terkenal yaitu penyembahan pada dewa penyembuhan, Asklepius dan dewi cinta, Afrodite.

Paulus mengunjungi Korintus dalam misi kedua dan ketiga sekitar tahun 50-52 Masehi dan mendirikan Gereja serta mengabarkan Injil (lih. Kisah Para Rasul 18:11). Ada banyak orang di Korintus yang menjadi Kristen setelah mendengar penginjilan Paulus. Namun setelah Paulus meninggalkan Korintus, beberapa masalah muncul dalam gereja setempat.

Ada perpecahan dalam jemaat, ada kasus moral yang menyimpang, ada penyalahgunaan karunia Roh Kudus dan kebingungan tentang kebangkitan orang mati.

Paulus mendengar masalah-masalah ini dan menulis surat pertama dan keduanya (sekitar tahun 55-56 Masehi) untuk memberikan nasehat tentang bagaimana menyelesaikan konflik dan menjalankan panggilan iman serta kehidupan Gereja sesungguhnya.

 I Korintus 12:12-13, Paulus menggunakan analogi tubuh untuk menggambarkan gereja sebagai “Tubuh Kristus”. Sama seperti tubuh manusia yang memiliki banyak anggota (Misalnya: tangan, kaki, mata, telinga, dll), begitu pula Gereja.

Yang terdiri dari banyak anggota dengan berbagai latar belakang, karunia dan peran yang berbeda-beda, namun semua merupakan bagian dari satu tubuh Kristus.

Oleh sebab itu, baik orang Yahudi dan Yunani, orang budak atau orang merdeka, telah dibabtis oleh Roh Kudus menjadi satu tubuh. Maksudnya, meskipun ada banyak perbedaan di antara orang percaya, tetapi semua adalah bagian dari tubuh Kristus yang sama dan memiliki Roh Kudus yang sama.

Selanjutnya dalam ayat 14-17, Paulus menunjukkan bahwa setiap anggota tubuh memiliki fungsi dan peran masing masing. Bagi Paulus, tidak ada satu anggota tubuh yang bisa mengklaim dirinya bukan dari bagian tubuh, hanya karena memiliki fungsi yang berbeda.

Sebaliknya, semua anggota tubuh diperlukan untuk fungsi tubuh secara keseluruhan. Dalam ayat18-20,argumentasi Paulus bahwa Allah telah merancang Tubuh Kristus dengan cara yang sama, yaitu dengan memberikan setiap orang percaya peran dan fungsi yang unik dalam tubuh Kristus; Tidak ada satu anggota pun yang lebih penting atau berharga daripada yang lain.

Meski banyak anggota, mereka semua bersatu sebagai satu tubuh yaitu tubuh Kristus. Oleh karena itu dalam ayat 21-24, Paulus menekankan bahwa tidak ada satu anggota tubuh yang bisa mengklaim tidak memerlukan anggota tubuh lainnya.

Dalam konteks Tubuh Kristus, ini berarti bahwa setiap orang percaya memerlukan orang percaya lainnya, dan tidak ada yang bisa mengklaim bahwa mereka bisa melakukannya sendiri. Malahan untuk anggota-anggota yang tampak lemah tetap memiliki peran yang penting dan diperlukan.

Bagi Paulus, dalam tubuh Kristus, anggota-anggota yang kurang penting atau kurang dihormati harus diiberikan penghargaan dan penghormatan yang lebih besar. Pada akhirnya dalam ayat 25-26 Paulus mengangkat tentang solidaritas dan empati dalam tubuh Kristus.

Jika satu anggota menderita, semua turut menderita, dan jika satu anggota dihormati atau bersukacita, semua anggota lainnya harus merayakannya. Dalam hal ini betapa pentingnya persekutuan jemaat yang saling mendukung dan merawat satu sama lain.

Lalu Paulus menegaskan kembali tentang identitas jemaat sebagai milik Kristus dan peran penting setiap anggota dalam persekutuan. Bahwa tidak semua memiliki karunia atau peran yang sama. Ada yang ditetapkan sebagai rasul-rasul, nabi-nabi, dan guru-guru.

Secara keseluruhan bagian ini menekankan pentingnya setiap anggota dalam tubuh Kristus dengan berbagai karunia yang dimiliki. Namun diatas semua itu, kasih merupakan pokok dari semua persekutuan jemaat, karunia-karunia dan pelayanan Kristen, sebagaimana dalam ayat 27 - 31.

 Jemaat yang dikasihi dan diberkati Tuhan, melalui kematian-Nya dan kebangkitan Kristus, Ia mempersatukan kita dengan-Nya merupakan teladan dan pemahaman dasar iman untuk hidup saling menghormati.

Tuhan sendiri sudah menerima kita apa adanya, maka hendaknya menjadi panggilan kita untuk menerima dan menghormati orang lain, apa pun keadaannya. Dalam kehidupan persekutuan gereja, gereja tidaklah steril dari perbedaan dan perselisihan.

Ibarat sebuah keluarga, hal-hal tersebut sulit dihindari, akan tetapi disinilah letak persekutuan Kristen yang sebenarnya, di mana setiap perbedaan bahkan perselisihan harus dapat diselesaikan Kristus sang pemilik tubuh (jemaat), kita adalah anggota-anggota tubuh-Nya, dapat saling menghormati seorang terhadap yang lain.

Di masa kini yang ditandai dengan kemajuan teknologi digital dan informasi yang begitu pesat, hendaklah kita menghindari untuk menggunakan media sosial yang saling memfitnah dan menghina satu sama lain.

Sebagai warga gereja atau sebagai orang Kristen sejati, menjadi tugas dan panggilan kita untuk terus menjaga kesatuan. Baik kesatuan sebagai warga jemaat, tetapi juga kesatuan sebagai warga negara atau masyarakat, dengan saling menghormati setiap perbedaan, dan menolak terjadinya perpecahan.

Tahapan-tahapan PEMILU sedang belangsung dan Gereja patut untuk mengambil bagian secara aktif sebagai pemersatu dalam kebhinekaan.

Gereja dapat mengingatkan pada setiap warga jemaat agar tetap menjunjung tinggi sikap saling menghormati dan senantiasa merawat kebinekaan serta persatuan sebagai tubuh Kristus, meskipun perbedaan pandangan politik tidak dapat dihindari.

Tuhan Yesus menolong dan memberkati tugas kerja, pelayanan serta dalam hidup keluarga kita. Terpujilah Kristus . Amin

Disadur dari MTPJ

Oleh : Pdt. DR. Djolly Sondakh, M.PdK.

Wakil Ketua BPMS GMIM

 

 

 

Editor : Clavel Lukas
#khotbah #GMIM #Renungan #Djolly Sondakh