EKSISTENSI Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Tsunagu Japan Indonesia (TJI) di Bumi Nyiur Melambai tak perlu diragukan. LPK TJI adalah lembaga resmi di Sulut yang memiliki banyak relasi di Jepang. Lembaga ini berhasil membangun banyak kemitraan dengan berbagai sektor usaha di Jepang.
Tercatat ada industri perhotelan, kontruksi, perikanan, pertanian, perkebunan, percetakan, pengelasan, industri baja, makanan, dan banyak lainnya. Sudah enam tahun lembaga ini sukses membantu pemerintah menekan angka pengangguran. SDM anak-anak muda Sulut dilatih daya saingnya dengan kerja sambil belajar langsung di Jepang.
“Tsunagu Japan Indonesia adalah lembaga pelatihan kerja sekaligus lembaga pengiriman tenaga magang ke Jepang. Berdiri pada tahun 2017, berawal dari saya dan suami yang kebetulan orang Jepang, pulang kampung ke Tondano. Ketika itu banyak saudara-saudara yang bertanya, kira-kira ada nggak jalur untuk boleh bekerja di Jepang,” beber Jill, sapaan akrab perempuan 36 tahun ini.
Hingga saat ini bebernya, tercatat sudah 731 pemagang asal Sulut dikirim ke Jepang. Rata-rata berusia muda, range usia 18-29 tahun.
“Sebelum berangkat ke Jepang tentunya ada proses pembelajaran yang harus dilewati. Seperti kursus Bahasa Jepang selama kurang lebih enam bulan. Dalam masa kursusnya itu mereka akan dikutsertakan untuk menjalankan seleksi dengan perusahaan Jepang,” ungkap mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Kristen Tomohon ini.
Proses itu tak selalu berjalan mulus. Sejumlah kendala dihadapi. “Kendala pertamanya sih dari peserta magang itu sendiri. Dari awal kan memang mungkin banyak anak-anak kita yang belum terbuka mindsetnya, masih pemikiran belum sampai ke Jepang lah gitu maksudnya. Jadi mereka akan dilatih di lembaga kami, bukan hanya bahasanya saja tapi budaya, attitude juga. Supaya nanti bisa beradaptasi dengan lingkungan kerja di Jepang,” jelas Liony Leontin Mongi.
Alumni SMA Katolik Rex Mundi Manado ini melanjutkan, setelah menyelesaikan magang di Jepang, sebagian besar memilih kembali bekerja di Negeri Sakura. “Masa kerja saat magang biasanya satu sampai tiga tahun. Nah seletah kontrak habis, delapan puluh persen kembali lagi ke Jepang karena sudah keenakan kerja di sana,” ungkapnya.
Bagi yang kembali ke Tanah Air, LPK TJI memberi jalan para pemangang menuju lapangan pekerjaan. “Ketika lulus magang di Jepang, mereka sudah memenuhi standar kerja orang Jepang. Jadi saat mereka kembali ke Indonesia kami memberikan saran untuk bisa kerja di Jakarta. Karena di Jakarta banyak sekali perusahaan Jepang yang ingin merekrut ex magang Jepang, Selain itu banyak juga perusahaan-perusahaan baru sekarang yang memang tertarik dengan ex magang Jepang ini,” bebernya.
Sukses membantu pemerintah untuk menekan angka pengangguran, Liony ingin berbuat lebih untuk Sulut, terkhusus tanah kelahirannya, Minahasa. Dia memutuskan terjun ke dunia politik. Namanya kini terdaftar sebagai Bakal Calon Anggota DPRD Dapil Minahasa 1 dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Ketua Tim Kerja 2023 Pemuda GMIM Rayon 1 Minahasa ini, memilih PDIP sebagai kendaraan politik bukan tanpa sebab. “Sepanjang saya melihat, PDIP adalah yang paling cocok mungkin dengan hidup saya. Dari segi ideologi dan historinya,” ujarnya
“Dengan latar belakang ketenagakerjaan di perusahaan, tentu ingin memberikan peluang yang lebih besar lagi kepada masyarakat untuk bisa, walaupun bukan hanya meniru terhadap Jepang, tapi peluang-peluang besar yang akan terbuka nanti apabila misalnya saya masuk ke legislatif. Karena banyak kami kerjasama dengan perusahaan Jepang yang ingin memberikan bantuan atau membuka bantuan-bantuan ke daerah. Jadi nantinya akan tercipta lagi lebih banyak peluang,” lanjutnya.
Dia membeber, selain ketenagakerjaan, sektor pariwisata dan kesehatan akan menjadi concern-nya. “Minahasa punya potensi pariwisata yang sangat besar sekali. Kalau kita benar-benar menggali potensi yang ada pasti akan semakin baik. Minahasa itu pariwisatanya paket lengkap, ada danau, gunung, laut, pantai, sungai,” tutur Perempuan yang fasih berbahasa Inggris dan Jepang ini.
Begitu juga sektor kesehatan. “Saya sudah sempat kunjungan ke beberapa tempat. Banyak yang agak susah mau berobat. Karena mungkin masalah teknis dalam pendapatan. Kita telaah satu-satu masalahnya, kemudian kita carikan solusinya,” ungkap Mongi.
Terjun ke politik, mental sudah dia siapkan. “Saya belajar dari orang Jepang. Mental mereka yang kuat, yang tidak patah semangat, tidak mudah menyerah, dan terus berusaha sampai tujuan kita capai. Support penuh dari suami, anak, dan orang tua juga tentu menambah motivasi saya. Mereka sangat-sangat mendukung saya untuk maju ke legislatif,” akunya.
Di momen jelang peringatan Sumpah Pemuda ini, Mongi berharap generasi muda Sulut jadi anak muda yang aktif. “Jangan menjadi anak muda yang pasif. Galilah potensi yang ada dalam diri anda. Pelajarilah bahasa asing. Selanjutnya ikutilah kursus-kursus keterampilan. Seperti mungkin memasak, apapun yang penting kita ada keterampilan,” sarannya.
Hal itu penting katanya, sehingga dalam beberapa tahun ke depan, generasi muda kita tidak menjadi penonton. “Beberapa tahun ke depan kita tidak akan menjadi penonton tapi pelaku. Menjadi pelaku yang terjun langsung, yang bisa menyediakan lapangan kerjaan,” tukasnya.(*)
Saksikan MP Talks bersama Liony Leontin Mongi selengkapnya hanya di Manado Post ID
Editor : Tanya Rompas