Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Distribusikan Energi Secara Adil dan Merata, Semangat Energizing Pertamina Menembus Wilayah Perbatasan

Ayurahmi Rais • Senin, 30 Oktober 2023 | 18:01 WIB

 

Marthen Tatengkeng, Nelayan asal Kabupaten Kepulauan Sangihe, saat ingin membeli BBM di SPBU 74.95814 Santiago Tahuna. BBM itu digunakan untuk mesin perahu miliknya. Foto diambil, Senin (23/10)
Marthen Tatengkeng, Nelayan asal Kabupaten Kepulauan Sangihe, saat ingin membeli BBM di SPBU 74.95814 Santiago Tahuna. BBM itu digunakan untuk mesin perahu miliknya. Foto diambil, Senin (23/10)

 

'Energizing The Nations', tema yang diangkat dalam Anugerah Jurnalistik Pertamina (AJP) tahun ini,  bukan hanya isapan jempol belaka. Dari tahun ke tahun, eksistensi PT Pertamina (Persero) dalam mendistribusikan energi untuk bangsa terus dilakukan secara konsisten dan terarah. Energi ini tidak hanya menyasar masyarakat perkotaan. Namun turut menggerakkan nadi perekonomian masyarakat di Wilayah Tertinggal, Terdepan dan Terluar (3T). Salah satunya Kabupaten Kepulauan Sangihe.

 

SIANG itu suhu di Tahuna, ibu kota Kabupaten Kepulauan Sangihe tidak bercanda. Teriknya bisa bikin kepala pening. Namun reaksi berbeda ditunjukkan Marthen Tatengkeng saat berjumpa. “Halo,” sapa nelayan itu dengan senyum manis, Senin (23/10).

Di bawah terik matahari, lelaki paruh baya itu semangat melangkah sambil membawa jeriken berwarna putih, ember hitam dan dayung perahu yang terbuat dari kayu untuk menuju Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 74.95814 Santiago Tahuna. Tujuannya untuk membeli Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk mesin perahunya, sebelum turun melaut.

"Dalam seminggu saya turun melaut bisa 4 sampai 5 kali. Tergantung cuaca. Karena sekarang masih musim kemarau, ombak juga tidak terlalu kencang, jadi saya bisa lima kali seminggu melaut," akunya kepada Manado Post.

Dengan aksen khas Sangihe, lelaki kelahiran Kolongan Beha 10 Maret 1973 ini mengungkapkan pekerjaan sebagai nelayan sudah lebih dari 30 tahun dijalani. Ia mengenang, puluhan tahun lalu proses penangkapan ikan masih menggunakan alat tradisional. "Dulu masih pakai jaring.

Ada juga nelayan pakai perahu tapi masih tradisional belum pakai perahu mesin. Karena dapat BBM masih sulit. Nyebrang pulau dulu dan butuh waktu berhari-hari," kenangnya.

Marthen Tatengkang saat mengisi BBM jenis Pertalite di mesin perahunya, sebelum turun melaut.
Marthen Tatengkang saat mengisi BBM jenis Pertalite di mesin perahunya, sebelum turun melaut.

Namun, saat ini ia bersyukur karena ketersediaan BBM di Kabupaten Kepulauan Sangihe sudah bisa memenuhi kebutuhan masyarakat. Tak hanya untuk menunjang mobilitas, tetapi juga mencukupi kebutuhan mesin perahu nelayan. Sambil menunggu antrian, Marthen bercerita, di tahun 2017 ia  membeli mesin perahu berukuran 9,5 PK. Kapasitas tangkinya sebanyak 6 liter BBM jenis Pertalite. Sekali turun melaut, ia biasanya membawa 10 liter.

Dengan hasil tangkapan ikan puluhan kilo. Ia mengakui, hasil ini jauh berbeda dibanding saat masih menggunakan alat tangkap tradisional.

"Paling banyak ikan yang saya dapat adalah Cakalang dan Tuna. Sebagian besar ikan itu dijual. Sisanya untuk stok lauk di rumah," ceritanya.

Cerita serupa diutarakan Sahrul Goni, nelayan asal Tahuna. Belasan tahun jadi penjala ikan, Sahrul merasakan dampak positif dari kehadiran BBM di daerahnya. Sekali melaut, perahu mesin miliknya yang berukuran 18 PK membutuhkan 25 liter BBM.

"Betapa berharganya BBM bagi nelayan seperti kami. Jika tidak ada BBM nelayan sulit melaut. Mengarungi lautan hanya dengan mendayung itu sangat sulit. Jadi kehadiran BBM bagi nelayan sangat berarti," kata pria 35 tahun tersebut.
Ia pun berharap ketersediaan BBM di Kabupaten Sangihe tetap aman.

"Selain ungkapan terima kasih, sebagai warga Sangihe saya juga ingin menyampaikan harapan untuk Pertamina, agar kedepannya tetap memastikan dan menjamin stok BBM di Kabupaten Sangihe, karena kami daerah terpencil yang butuh pemerataan energi," harapnya.

Kabupaten Kepulauan Sangihe sendiri bak mutiara di beranda utara Indonesia. Wilayah yang dikepung perairan itu memiliki wisata bahari yang menawan. Tahuna berjarak 142 mil laut dari Manado, ibu kota Provinsi Sulawesi Utara. Namun lebih dekat dengan Pulau Mindanao milik negara Filipina. Tak ayal, kabupaten ini dikategorikan sebagai Daerah Perbatasan.

Wartawan Manado Post menempuh perjalanan sekira 9 jam untuk bisa sampai di  ibu kota Kabupaten Sangihe. Berangkat dari Pukul 18.00 WITA dari Pelabuhan Manado menggunakan Kapal Marina Bay, dan sampai di Pelabuhan Tahuna pada Pukul 04.00 Subhu. Perjalanan panjang terbayar dengan keindahan dan keramahan masyarakat setempat.

Sangihe sendiri memiliki luas wilayah 736,98 km persegi. Terdiri dari 15 kecamatan yang di dalamnya ada 22 kelurahan dan 145 kampung. Total penduduknya sebanyak 131.163 jiwa dengan jumlah rumah tangga 34.227 dan kepadatan penduduk 177,97 jiwa/km². Lebih dari 70  persen masyarakat Sangihe berprofesi sebagai nelayan.

Meski masuk dalam daerah 3T, namun masyarakat Sangihe masuk dalam kategori maju dan sejahtera. Kesejahteraan masyarakat salah satunya ditopang oleh kehadiran energi, yakni BBM.  'Kemerdekaan' energi ini dapat dirasakan berkat adanya Pertamina Fuel Terminal Tahuna. Yang kemudian menghadirkan 3 SPBU Reguler dan 2 SPBU Kompak.

Tiga SPBU reguler ini berada di pusat Kota Tahuna. Sementara dua SPBU Kompak berada di Petta, Kecamatan Tabukan Utara yang waktu tempuhnya sekira 32 menit dari pusat kota. SPBU lainnya di Kecamatan Tamako dengan waktu tempuh 1 jam dari pusat Kota Tahuna.

Ketersediaan energi dan keberadaan Fuel Terminal Tahuna ini menuai apresiasi dari pemerintah setempat. Sekretaris Kabupaten Kepulauan Sangihe Melanchton Harry Wolff mengungkapkan, komunikasi antara pemerintah dan Pertamina selama ini berjalan baik. Khususnya untuk bagaimana memastikan ketersediaan energi bagi masyarakat.

"Beberapa tahun ini Sangihe tidak lagi merasakan kekurangan BBM. Artinya kebutuhan masyarakat bisa terpenuhi," tekannya.

Namun ia menitip catatan. Untuk mengembangkan ekonomi di Sangihe, masih butuh sokongan dan stok BBM yang lebih banyak. Bukan hanya untuk masyarakat tapi juga industri. "Sebagai contoh saat ini sedang dikembangkan industri perikanan. Itu butuh stok BBM yang banyak.

Selain itu, kami juga berharap Pertamina segera mewujudkan program BBM Satu Harga di pulau-pulau. Karena di sana sangat susah untuk mendapatkan BBM,” pintanya.

Lelaki yang biasa disapa Harry itu pun memberikan masukan kepada Pertamina untuk membangun Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) di Sangihe. Karena mayoritas warga Sangihe pekerjaannya adalah nelayan.

"Stok BBM di Sangihe ini sudah cukup tapi belum banyak. Sehingga pemerintah daerah harus mengeluarkan rekomendasi untuk para nelayan agar bisa dapat BBM. Semoga kedepannya kebutuhan BBM untuk nelayan ini bisa terpenuhi tanpa ada surat rekomendasi," harapnya. 

Sementara itu, Kabag Ekonomi Sangihe Rivon David memastikan, program BBM satu harga di Sangihe akan segera terwujud. Ada tiga lokasi penentuan BBM satu harga. Di antaranya, Kecamatan Kepulauan Marore, Kecamatan Manganitu Selatan dan Kecamatan Manganitu.

Menurutnya, saat ini yang sudah berproses dan hampir rampung yakni di Kecamatan Manganitu. Tempat itu dipercayakan kepada calon mitra atau pengusaha yakni Noldy Hontong. Rivon menuturkan, saat ini masih menunggu izin membangun dari Pertamina Manado.

“Kita berharap di akhir tahun 2023 ini semua administrasinya selesai. Karena pembangunan fisik SPBU BBM Satu Harga ini sudah sangat siap,” pungkasnya.

Di sisi lain, Manager Fuel Terminal Tahuna, Edwin Nofiansyah memaparkan, stok BBM yang masuk ke Sangihe dalam sekali trip adalah minyak tanah, Pertamax 500 ribu KL dan Solar 500-800 ribu KL. BBM tersebut masuk bergantian. Stok itu akan bertahan kurang lebih 14 hari. Namun sebelum 14 hari sudah ada suplai yang masuk. "Sejauh ini stok BBM untuk Kabupaten Sangihe tercukupi,"singkatnya.

Sebelumnya, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Fahrougi Andriani Sumampouw memastikan, pihaknya berupaya ekstra effort dalam mendistribusikan BBM di semua titik.

Fahrougi tak menampik tantangan geografis di wilayah Sulawesi kadang menimbulkan beberapa kendala. "Namun sejauh ini semua.dapat teratasi. Kami ingin terus berbenah, agar kehadiran energi bisa dirasakan hingga ke pelosok negeri," kuncinya.

(Ayurahmi)

Editor : Ayurahmi Rais