MANADOPOST.ID- Kemarau panjang yang melanda Sulawesi Utara (Sulut) beberapa bulan ini, menimbulkan resiko gagal panen untuk beberapa lahan pertanian, akibat kekeringan lahan.
Meski demikian, Nilai Tukar Petani (NTP) Sulut di periode Oktober 2023 tetap mengalami alami kenaikan.
Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), NTP Sulut bulan Oktober 2023 menyentuh 129,24 persen. Angka ini naik 1,74 persen dibandingkan periode September yang hanya 127,03 persen. Sedangkan secara year on year alami peningkatan 8,58 persen.
Kepala BPS Sulut Asim Saputra memaparkan, untuk subsektor- nya, NTP hasil Holtikultura yang memiliki persentase tertinggi yakni, 126,88 persen di Bulan Oktober. Naik 1,82 persen dibanding September 124,62 persen (lihat grafis,red).
Asim menekankan, fenomena gagal panen ataupun gagal produksi yang dialami para petani, memang belum berdampak pada penurunan NTP. Hal ini menandakan, jika tingkat kesejahteraan para petani masih terjaga.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Sulut dalam hal ini Gubernur Olly Dondokambey dan Wagub Steven Kandouw telah melakukan mitigasi terhadap dampak perubahan iklim, agar tidak berpengaruh terhadap pasokan pangan serta tingkat kesejahteraan petani. Upaya ini ada yang jangka pendek maupun jangka panjang.
Adapun upaya jangka pendek yang dilakukan adalah mengeluarkan program sarana produksi (saprodi) yang meliputi benih, pupuk, pestisida dan zat pengatur tumbuh.
Esensi dari program ini adalah untuk membantu para petani merawat tanamannya agar tumbuh subur hingga masa panen. Tak hanya itu, bantuan berupa alat dan pompa air untuk mengairi lahan pertanian yang kering juga dilakukan secara masif.
Sedangkan upaya jangka panjangnya adalah, menjalin kerjasama dengan BPJS Ketenagakerjaan untuk memberikan perlindungan kepada para pekerja rentan. Seperti petani, buruh, peternak dan nelayan.
Baca Juga: Minimalisir Pelanggaran Pemilu, Bawaslu akan Lakukan Penertiban Alat Peraga Kampanye
Gubernur OD menekankan, perlindungan BPKS-TK ini dilakukan untuk memberikan jaminan perlindungan kepada para petani yang gagal panen.
"Jika gagal terjadi, makan NTP ikut menurun. Ini bisa berdampak terhadap inflasi kita. Jadi benar-benar, kita sangat memperhatikan ini," tegasnya.
Gubernur OD memastikan, pemerintah selalu mendorong peningkatan produksi pangan dan penyerapan hasil produksi melalui refocusing anggaran, yaitu menfokuskan anggaran pada pembangunan infrastruktur pertanian dan pemberian bantuan kepada petani, berupa alat dan mesin pertanian, benih, pupuk, serta asuransi pertanian.
"Pertanian masih menjadi penopang ekonomi Sulut. Sehingga harus terus dijaga," kuncinya.
Diketahui, kekuatan pertanian Sulut, tak lepas dari progam 'Marijo Bakobong' yang digaungkan OD-SK. Berkat program Gubernur Mari Jo Bakobong, membuat petani jadi produktif dan menghasilkan.
Adapun beberapa Hasil dari marijo bakobong, antara lain, Petani tidak lagi keluar duit untuk membeli kebutuhan pangan. Bisa ambil dari hasil kebun.
Petani bisa memenuhi kebutuhan pangan sehari hari dan Petani bisa dapat tambahan income atau penghasilan dari hasil penjualan tanaman pangan dari hasil bakobong