Kisah Mistik Pahlawan Santiago Yang Kebal Peluru, Lalu Bagimana Tentara Belanda Temukan Cara Menghabisinya
Tommy Waworundeng• Rabu, 8 November 2023 | 10:38 WIB
Don Jugov Sint Santiago (Bataha)
MANADOPOST.ID - Pada Hari Pahlawan 10 November 2023 ini, Putra Nusa Utara almarhum Bataha Santiago akan dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional yang akan diberikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.
Banyak yang tentu sudah tahu cerita kepahlawanan Santiago dalam melindungi rakyatnya dari penjajah Belanda.
Tetapi ada kisah mistik pahlawan Santiago yang kebal peluru, lalu bagimana tentara Belanda temukan cara menghabisi nya.
Santiago saat itu merupakan Raja Kerajaan Manganitu. Nama aslinya sebetulnya bukan Bataha. Bataha itu hanyalah julukan bagi Santiago karena orang sakti.
Selain kebal peluru, menurut warga di Nusa Utara, Santiago juga bisa menghilang dan bisa terbang. Sehingga berapa kali dipenjara oleh Belanda, tetapi tiba tiba bisa keluar dan kembali ke rumahnya.
Nama lengkap pahlwan kebanggaan masyarakat Sulut ini adalah Don Jugov Sint Santiago.
Ia lahir tahun 1622 di Desa Bowongtiwo-Kauhis, Manganitu.
Belanda pun mencoba bernegosiasi dengan Santiago untuk menandat angani kontrak panjang (lange Contract). Tetapi Dia menolaknya.
Santiago memang terkenal satu satunya raja yang keras kepala dan tidak mau bernegosiasi dengan Belanda.
Lalu apa respon Santiago? Selain menolak tandatangan, Santiago malah mengumumkan siap perang melawan VOC.
Bagaimana Santiago mau tandatangan. Permintaan Belanda keterlaluan. Dalam isi lange contract, ada poin yang isinya instruksi untuk melenyapkan tanaman cengkih di daerahnya.
Otomatis Santiago menolak. Karena cengkih merupakan penghasilan utama rakyatnya.
Ada juga yang bikin berat Santiago untuk tandatangani kontrak panjang dengan VOC. Yaitu poin atau butir yang meminta Santiago membuang atau melenyapkan semua benda milik Santiago yang dianggap kafir oleh VOC. Benda yang dianggap kafir oleh Belanda itu yaitu benda benda mistik.
Karena Belanda takut dengan benda benda mistik Santiago. Sebab karena benda benda mistik itu membuat Santiago kebal terhadap peluru senapan tentara Belanda. Juga bisa menghilang dan bisa terbang.
Akirnya Belanda cari cara bagaimana menghabisi Santiago. Sebab Santiago sudah deklarasi perang dengan Belanda.
Bahkan Santiago juga sudah umumkan kepada rakyatnya untuk siap siap berperang melawan dan mengusir penjajah Belanda. Santiago sudah mengumpulkan para pejabat kerajaan.
Ada kalimat Santiago yang terkenal yang disampaikan ketika ia mengumpulkan para pejabat kerajaan untuk melawan VOC.
Kalimat itu yakni, ‘’ kite mendiahi wuntuang ‘u seke, nusa kumbahang katumpaeng.”
Yang artinya, ‘’Kita harus menyiapkan pasukan perang, negeri kita jangan dimasuki musuh.’’
Lalu bagaimana Belanda menyusun siasat busuk untuk menangkap Santiago untuk dihabisi? VOC mengutus Sultan Kaitjil Sibori ke Sangihe untuk mempersunting Maimuna, putri raja VI Tabukan, supaya VOC dan sekutunya masuk ke Sangihe.
Pasukan VOC dan pasukan kerajaan Manganitu yang dipimpin oleh Santiago berperang di laut berhari-hari. Korban dari keduanya sangat banyak. VOC mundur dan menghentikan perang yang sengit itu karena kerugian yang besar.
VOC kemudian memanfaatkan Sasebohe dan Bawohanggima, sahabat dekat Santiago, agar menyerah namun gagal.
Pertempuran antara VOC dan pasukan Santiago terjadi lagi dan Sasebohe dan Bawohanggima terus membujuk Santiago. Tetapi dia berhasil dibawa VOC ke kantornya di Tahuna. Dipaksa lagi untuk menandatangani kontrak. Namun, Santiago tetap memegang teguh prinsipnya.
VOC menyiapkan satu tim tembak. Mereka menembak. Tapi lagi lagi tidak ada satu pun peluru berhasil melukai tubuh Santiago. Mereka takut dan heran, lalu membawa Santiago ke tanjung Tahuna dan menggantungnya.
Dengan anggapan, kalau tubuh Santiago terpisah dari tanah, ilmu sakti Santiago akan hilang. Salah seorang anggota pasukan memenggal kepala Santiago. Sebelum subuh tiba, adik Santiago yang bernama Sapela, datang mengambil jenasah saudarah tuanya. Ia hanya bisa membawa kepala Santiago dan menguburkannya di antara akar pepohonan besar, beberapa meter di atas pantai dan menandai tempat itu dengan tumpukan batu di Nento di desa Karatung-Paghul pada 1675.
Kubur kepala Santiago yang dirahasiakan terungkap pada tahun 1950. Sedangkan tubuhnya diduga dikuburkan di tempat ia dihukum mati, di kelurahan Santiago saat ini.
Sebagai wujud penghargaan, diabadikan sebuah patung di Miangas di daerah perbatasan antara Indonesia dan Filipina. Namanya juga diabadikan sebagai nama markas Kodim 1301/Sangihe dan Korem 131/Santiago di Manado, Sulawesi Utara.
Dan pada Hari Pahlawan 10 November 2023 ini, Santiago akan dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional yang dilaksanakan oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. (*)