MANADOPOST.ID-PT Pertamina Patra Niaga gigih menjalankan tugas dan fungsi sebagai representasi negara dalam mewujudkan pemerataan energi di seluruh sudut negeri. Misi ini tak lepas dari peran penting para petugas yang memberikan layanan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Salah satu dari petugas SPBU yang memiliki dedikasi serta loyalitas terhadap tugas yang diemban adalah Lefran Rameng. Lelaki kelahiran Desa Gangga 1, 24 Februari 1974 ini, sehari-harinya bekerja sebagai Operator BBM Solar di SPBU 74.95512 Cahaya Kadoodan Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).
Kamis (21/12) lalu, Manado Post menemui langsung Operator SPBU berusia 48 tahun ini. Cuaca Kota Bitung yang terik kala itu tidak membuat senyuman di wajah Lefran luntur.
Ayah empat orang anak ini dengan tulus dan sabar melayani setiap pemilik kendaraan yang antre mengisi BBM. 'Dimulai dari Angka Nol', jadi kalimat yang diucapkannya berulang kali. Kalimat ini adalah bentuk keseriusan petugas SPBU dalam menanamkan kepercayaan kepada setiap konsumen.
Selang beberapa lama, satu per satu pemilik kendaraan terlayani dengan baik. SPBU yang tadinya ramai menjadi sepi. Rupanya, operasional SPBU siang itu ditutup sementara. Karena, Truk Tangki sedang melakukan pengisian ulang BBM ke SPBU.
Waktu istirahat singkat ini pun digunakan
Lefran untuk berbincang bersama Manado Post."Maaf, lama menunggu," sapanya memulai perbincangan.
Di pertemuan perdana itu, ia bercerita sepak terjangnya sebagai operator SPBU. 10 Februari 1996, sekira 28 tahun yang lalu, Lefran memulai tugas perdananya sebagai petugas di SPBU Paal Dua Manado.
Usianya saat itu masih 22 tahun. SPBU Paal Dua sendiri merupakan Pompa Digital pertama di Sulut. Ia direkrut karena perusahaan sedang membutuhkan tenaga kerja. Setahun bertugas di SPBU Paal Dua, pada tahun 1997, dia dipindahkan ke SPBU 74.95512 Cahaya Kadoodan Kota Bitung. "Di SPBU 74.95512 ini saya sudah 27 tahun. Jika ditotal 28 tahun saya bekerja sebagi petugas SPBU," bilangnya.
Puluhan tahun mengabdikan diri sebagai operator di SPBU bukan perjalanan yang mudah. Terlebih lagi, tugas utamanya adalah memberi dan memastikan layanan kepada setiap konsumen. Tak dipungkiri rasa lelah dan jenuh kadang menghampiri. Syukurnya, semua bisa dilewati dengan baik.
Tumbuh besar dari keluarga yang sederhana tak membuat Lefran pupus asa. Apalagi menyerah dengan keadaan. Kuncinya, ada satu prinsip yang selalu ia pegang teguh. Baginya, dalam kehidupan, hal yang paling penting adalah mencintai apa yang dikerjakan dan mengerjakannya dengan sepenuh hati disertai niat yang tulus. "Pasti hasilnya akan menjadi berkat," yakinnya.
Semasa kecil, ia menyaksikan sendiri bagaimana ayahnya bekerja sebagai nelayan tradisional yang turun melaut dari pagi hingga petang. Semua dilakukan agar bisa memberikan kehidupan yang layak untuk istri dan anak. "Perjuangan orang tua yang selalu saya ingat. Sehingga ketika memutuskan menikah dan punya anak, saya semangat untuk bekerja. Agar bisa menghidupi anak dan istri di rumah," kenangnya dengan nada yang penuh antusias.
Suami dari Agustina Agnes Ogit ini bersyukur bisa mendapat lingkungan pekerjaan yang positif. Semua rekan kerjanya memiliki karakter yang saling menghargai dan mendukung. Kondisi ini yang membuatnya menjadi betah meskipun sudah puluhan tahun bekerja. Ia sadar, setiap pekerjaan pasti ada konsekuensi.
Namun, menurutnya, berkesempatan menjadi karyawan di SPBU memberikan ilmu dan pengalaman yang luar biasa.
"Di tempat ini, saya belajar menjadi orang yang bijaksana, memahami karakter setiap konsumen. Belajar untuk meminta maaf meskipun tidak dalam posisi yang salah. Ada banyak ilmu kehidupan yang saya dapatkan selama bekerja menjadi operator di SPBU. Yang paling penting, saya bisa dipertemukan dengan rekan kerja dan juga para pimpinan yang luar biasa," pujinya.
Perjuangan Lefran selama puluhan tahun bekerja sebagai operator SPBU pun membuahkan hasil yang baik. Dia mampu memberikan kehidupan yang layak serta pendidikan terbaik bagi anak-anaknya. Bahkan sejak Oktober 2022 lalu, putri pertamanya yang bernama Herlina Injillya Rameng sudah bekerja di Jepang sebagai seorang perawat. Sementara tiga anak lainnya sedang kuliah dan bersekolah. "Anak saya yang nomor dua kembar. Sekarang mereka kuliah. Yang satu kuliah di Ilmu Keperawatan. Yang satunya di Fakultas Hukum Universitas Delasalle Manado. Anak keempat sudah kelas dua SMA," tuturnya.
Dia juga bersyukur memiliki istri yang baik dan sederhana. Keduanya punya tujuan dan cita-cita yang sama untuk menjadikan anak-anak mereka tumbuh sehat dan berwawasan luas. Meskipun tidak berasal dari keluarga yang bergelimang harta. Ia membeber, sang istri sehari-harinya bekerja sebagai guru honorer di TK GPDI Imanuel Manembo-nembo. Selain mengajar, istrinya juga berjualan kue-kue kering. Semuanya dilakukan untuk membantu perekonomian keluarga. "Saya selalu percaya kemurahan hati Tuhan. Puji Tuhan hingga saat ini saya masih diberi kekuatan untuk bekerja," ungkapnya.
Seirama dengan sang istri, Lefram juga gigih bekerja. Sehari-hari, lulusan SMA Negeri Likupang ini menghabiskan waktu 15 jam untuk melayani setiap konsumen di SPBU. SPBU 74.95512 Cahaya Kadoodan Bitung memiliki 22 karyawan. 16 di antaranya bertugas sebagai operator BBM. Masuknya secara bergantian atau menggunakan sistem shift. 16 operator ini dibagi dua shift. Satu shift berjumlah 8 orang. Mulai bekerja dari pada pukul 07.00 hingga 22.00 WITA. "Artinya dalam sehari kami bertugas sekira 15 jam," bebernya.
Meski bekerja dari pagi hingga malam hari, tak membuat dia lupa kewajiban utama sebagai seorang suami dan ayah. Waktu istirahat saat pergantian shift dimanfaatkan untuk bersama keluarga. Rutinitas seperti ini sudah dilakukannya sejak puluhan tahun yang lalu. "Petugas SPBU itu meskipun seragam merah, tapi tanggal hitam semua. Saya dari awal bekerja sampai sekarang tidak pernah cuti. Karena saya memang senang bekerja. Ketika di rumah, anak-anak adalah prioritas. Dari kecil sampai sudah dewasa mereka paham sistem kerja saya dan semuanya mendukung. Puji Tuhan saya dan istri saling membantu," bebernya.
Dengan wajah yang penuh haru, Lefran memberikan kesaksian akan kuasa Tuhan dalam hidupnya. Selain diberikan keluarga yang suportif, ia pun memiliki lingkungan kerja yang sehat. Bahkan pemilik SPBU 74.95512 Cahaya Kadoodan yang bernama Anyan Waani memberikan satu unit perumahan untuk ia tempati bersama keluarga.
Perumahan Taman Griya Indah yang terletak di Manembo-Nebo Tengah, Kota Bitung ini diberi sebagai bentuk apresiasi untuknya dan tiga rekan lainnya yang sudah bekerja lebih dari 20 tahun. Rumah itu sudah ia tempati selama 8 tahun pasca diberikan pada 2016 silam. "Dulu, saya tidak punya rumah. Hanya tinggal di kontrakan. Puji Tuhan 2016 saya dikasih satu unit perumahan oleh bapak Anyan Waani. Rumah itu saya tinggali bersama keluarga sampai sekarang. Mendapatkan rekan kerja dan bos yang baik serta memanusiakan manusia adalah anugerah yang tak ternilai harganya," katanya.
Ia pun berharap, pengalaman hidup dan perjalanannya dalam bekerja sebagai Operator SPBU dapat menjadi motivasi untuk orang lain, khususnya bagi anak-anak muda yang ingin masuk dunia kerja. "Kita harus punya integritas dan loyal terhadap tempat kita bekerja. Cintai apa yang dikerjakan jangan muda mengeluh. Dunia ini semakin hari semakin berkembang, persaingan semakin ketat. Jika kita mudah capek, maka cepat tergantikan," pesannya.
Diketahui, selain petugas operator BBM, di SPBU 74.95512 Cahaya Kadoodan Bitung, juga memiliki satu orang pengawas. Tugasnya monitoring serta memastikan seluruh operasional penjualan BBM berjalan lancar. Dia adalah Muchtarudin Sowikromo, Pengawas SPBU 74.95512 yang sudah bekerja selama 13 tahun. Menurutnya, seluruh karyawan yang bertugas melakukan pekerjaannya dengan baik dan profesional. Hal itu berdampak baik pada sistem operasional SPBU. "Kesuksesan sebuah perusahaan tidak akan terlepas dari kerja keras dan usaha setiap karyawannya. Jadi, sesama karyawan kami saling memberi dukungan dan semangat agar tetap kompak," kata lelaki asal Kotamobagu tersebut.
Sementara itu, menghadapi perayaan Natal 25 Desember dan Tahun Baru 1 Januari 2024, SPBU 74.95512 sudah memastikan ketersediaan stok BBM. Baik yang subsidi maupun non subsidi. Ia menuturkan, setiap hari sebanyak 16 ton solar yang masuk dan 400 hingga 500 liter BBM Non Subsidi. "SPBU 74.95512 ini tempatnya strategis. Berada di Area Pelabuhan yang juga kawasan industri. Sehingga kendaraan yang datang tidak hanya dari Kota Bitung, tapi ada juga dari luar daerah. Tapi stok BBM selalu aman dan tercukupi," katanya.
Tak hanya itu, untuk mengatasi antrean Solar, pihak SPBU 74.95512 melakukan terobosan dengan menggunakan nomor antrean. Dimana, setiap pemilik kendaraan yang mengisi solar akan diberikan nomor antrean. "Mereka tidak perlu antre di depan SPBU. Karena itu menganggu pengguna jalan. Kami bagikan nomor antrean dan nanti kami akan umumkan di grup WhatsApp waktu pengisiannya. Masing-masing kendaraan kami batasi. Dengan begini tidak ada lagi truk yang antre. Karena semua terlayani dengan baik," kuncinya.
Editor : Ayurahmi Rais