MANADOPOST.ID-Ini Caleg DPR-RI Pemegang Rekor Suara Terbanyak dalam Sejarah Pileg Dapil Sulawesi Utara. Rekornya Belum Terpecahkan. Siapa dia?
Baca berita ini sampai habis yang mengulas sejarah Pileg di Sulut pasca reformasi.
Kita ikuti sejarah dari pertama kali digelarnya pemilihan umum pasca reformasi. Siapa siapa putra putri terbaik Sulut yang pecahkan rekor meraih dukungan suara terbanyak dari rakyat Sulut.
Memang pasca reformasi, Indonesia pertama kali laksanakan Pemilu tahun 1999. Sama halnya juga provinsi lain.
Tapi Sistem Pemilu pada 1999 itu masih menggunakan sistem perwakilan berimbang (proporsional).
Baru pada tahun 2004 Indonesia mengalami sebuah peristiwa bersejarah dalam arena perpolitikan.
Pemilu tersebut bukan hanya sekadar pemilihan umum biasa, melainkan pemilu pertama yang memberikan kesempatan kepada rakyat untuk secara langsung memilih wakil mereka di DPR, DPD, dan DPRD, serta memilih langsung presiden dan wakil presiden.
Dilaksanakan secara serentak pada tanggal 5 April 2004, pemilu tersebut menjadi momentum penting bagi demokrasi Indonesia.
Rakyat secara langsung berperan dalam menentukan arah politik negara dengan memberikan suara mereka untuk memilih anggota DPR, DPD, dan DPRD untuk periode 2004-2009.
Berhasil raih suara terbanyak pada Pemilu khususnya Pemilihan Legislatif (Pileg) Sulut 2004 adalah Theo L Sambuaga. Caleg Partai Golkar tersebut berhasil meraih 130.797 suara.
Kemudian pada Pileg 2009, peraih suara terbanyak EE Mangindaan. Caleg Partai Demokrat ini meraih 130 ribu suara.
Kemudian Pileg 2014, Olly Dondokambey jadi peraih suara terbanyak. Bahkan perolehan suaranya berhasil mencatat rekor terbanyak sepanjang sejarah pelaksanaan Pileg khusus daerah pemilihan Sulawesi Utara.
Lantas berapa suara yang diraih Olly Dondokambey? Caleg dari PDI Perjuangan ini berhasil meraih dukungan 237.620 suara.
Mayoritas rakyat Sulut saat itu sangat cerdas memilih wakil rakyat untuk diutus sebagai wakil rakyat dan mampu memperuangkan aspirasi rakyat Sulut di DPR-RI.
Hasilnya tidak mengecewakan. Banyak proyek strategis nasional yang masuk ke Sulut berkat perjuangan Olly Dondokambey.
Bahkan banyak anggaran pusat yang mengalir ke Sulut. Karena posisi Olly Dondokambey di Badan Anggaran.
Bahkan banyak bantuan bantuan rumah ibadah yang mengalir ke Sulut. Tapi sayangnya Pemilu berikut tahun 2019, Olly Dondokambey tidak ikut lagi.
Pemilu 2019, Olly Dondokambey tidak ikut lagi dan diganti Adriana Dondokambey.
Pada Pileg 2019 itu, giliran Adriana Dondokambey peraih suara terbanyak. Caleg PDI Perjuangan ini berhasil meraih 213.224 suara.
Adriana memang meraih suara yang cukup banyak, karena melebihi 200 ribu. Hampir sama dengan suara Olly Dondokambey di atas 200 ribu. Tapi suara Adriana belum bisa melewati perolehan suara Olly Dondokambey. Olly masih tetap pemegang rekor.
Karena Olly Dondokambey sudah tidak mencalonkan diri. Jadi kemungkinan besar pendukung Olly Dondolambey yang memilin Adriana Dondokambey.
Kemudian pada Pileg 2024 ini, Hillary B Lasut giliran sementara ini berdasarkan hasil perhitungan sirekap KPU, peraih suara terbanyak.
Caleg Partai Demokrat ini, untuk sementara hasil perhitungan realcount KPU, sudah meraih 184.520 suara. Posisi 78% TPS yang masuk. Kita tunggu hasil Pleno KPU. Apakah akan mencapai 200 ribu?
Melihat sejarah 5 Pileg yang sudah dilalui pasca reformasi atau pemilihan langsung ini, Olly Dondokambey pemecah rekor suara terbanyak.
Olly Dondokambey sementara ini pemegang rekor Caleg peraih suara terbanyak DPR-RI Dapil Sulut yang mencatat rekor peraih 237 ribu lebih suara dalam sejarah Pemilu Sulawesi Utara.
Pemilihan langsung ini menjadi cermin dari kepercayaan rakyat Indonesia terhadap proses demokrasi yang semakin matang dan terbuka.
Pemilu 2024 tidak hanya menandai pemilihan para pemimpin, tetapi juga merupakan tonggak penting dalam memperkuat fondasi demokrasi Indonesia yang inklusif dan partisipatif.
Dengan harapan baru dan semangat yang berkobar, Indonesia melangkah maju menuju masa depan yang lebih cerah dalam pangkuan demokrasi yang kokoh.
Jangan sampai sistim demokrasi ini dikembalikan ke sitim Orde Baru . (*)
Editor : Tommy Waworundeng