Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Update Penutupan Bandara Sam Ratulangi: Diperpanjang sampai 2 Mei

Tanya Rompas • Rabu, 1 Mei 2024 | 10:48 WIB

Photo
Photo
MANADOPOST.ID- Operasional Bandara Sam Ratulangi Manado, masih terdampak erupsi Gunung Ruang di Kabupaten Sitaro.

Informasi terbaru, penutupan Bandara Sam Ratulangi Manado, kembali diperpanjang hingga Kamis esok (2/5) pukul 12.00 WITA.

"Update 1 Mei 2024. Mendasari hasil pengamatan aktivitas abu vulkanik Gunung Ruang dan Notam: A1160/24 NOTAMR A1148/24. Demi menjaga aspek keselamatan dan keamanan penerbangan, operasional Bandar Udara Internasional Sam Ratulangi Manado, ditutup sementara sampai dengan Kamis, 2 Mei 2024, pukul 12.00 Wita," bunyi pemberitahuan di akun media sosial bandara.

Diketahui, peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Ruang membuat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMBG) menaikkan status Gunung Ruang ke Level IV Awas kemarin (30/4). Tercatat Gunung Ruang mengalami erupsi dengan tinggi kolom mencapai 2 ribu meter dari puncak gunung. Pengamatan instrumental mencatat terjadi 662 kali gempa vulkanik dangkal dan vulkanik dalam.

Diketahui, status Gunung Ruang sempat diturunkan dari Level IV Awas ke Level III Siaga pada 22 April lalu, setelah sempat terjadi erupsi pada 17 April lalu. Namun, kini status Gunung Ruang kembali dinaikkan ke Level IV Awas karena peningkatan aktivitas.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM Hendra Gunawan menuturkan, pengamatan visual Gunung Ruang kemarin pukul 01.15 WITA terjadi erupsi dengan tinggi kolom mencapai 2 ribu meter dari puncak gunung. Erupsi disertai dengan suara gemuruh dan gempa yang terasa terus menerus.

Erupsi yang terus berlangsung dan semakin membesar dan jangkauan yang semakin jauh memaksa Bandara Sam Ratulangi di Manado Sulawesi Utara ditutup sementara.

’’Letusan bersama awan panas semakin membesar dan semakin jauh jangkauannya sehingga berdampak pada sektor lain seperti bandara udara Sam Ratulangi di Manado Sulawesi Utara,’’ jelas Hendra.

Hendra menambahkan, beberapa potensi bahaya saat ini perlu diwaspadai. Di antaranya adalah erupsi yang menghasilkan awan panas, lontaran material pijar, dan paparan abu vulkanik yang bergantung pada arah dan kecepatan angin serta lahar bila hujan deras turun di sekitar Gunung Ruang.

Masyarakat di sekitar Gunung Ruang dan pengunjung/wisatawan diimbau agar tetap waspada dan tidak memasuki wilayah radius 7 km dari pusat kawah aktif Gunung Ruang. Sementara, masyarakat yang bermukim pada wilayah Pulau Tagulandang yang berada dalam radius 7 km agar segera dievakuasi ke tempat aman di luar radius 7 km.

Dengan semakin banyaknya material hasil erupsi yang dikeluarkan atau runtuhnya bagian tubuh gunung dan memasuki laut dalam volume tertentu, hal itu cukup berpotensi untuk memicu terjadinya gelombang tsunami.

’’Masyarakat di Pulau Tagulandang, khususnya yang bermukim di dekat pantai, agar mewaspadai potensi lontaran batuan pijar, luruhan awan panas (surge), dan tsunami akibat material erupsi yang masuk ke laut/runtuhnya tubuh gunung api ke dalam laut,’’ terang Hendra.

Sementara Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan, sejak mendapatkan informasi peningkatan aktivitas Gunung Ruang di Sulawesi Utara, BMKG secara intensif melakukan monitoring permukaan laut. ”Sebagai antisipasi dan upaya deteksi dini tsunami,” ujarnya.

Dalam memonitor permukaan laut digunakan peralatan tide gauge (TG) milik Badan Informasi Geospasial dan automatic weather system milik BMKG. Terdapat lima titik monitoring yakni, Pulau Siau, Kepulauan Sangihe, dan Bitung. ”Tide Gauge di Kepualauan Sangihe ada tiga titik ya,” terangnya.

Hasil dari monitoring lima titik tide gauge itu semuanya masih menunjukkan permukaan laut normal. Dia mengatakan, berdasarkan data hasil monitoring erupsi Gunung Ruang tidak mengakibatkan perubahan signifikan permukaan air laut. ”Tapi, kita patut waspada karena erupsi Gunung Ruang tercatat pernah menimbulkan tsunami pada 1871 dengan ketinggian 25 meter dan menewaskan 400 orang,” jelasnya.

Aktivitas Gunung Ruang terus berfluktuasi. Pasca erupsi paroksimal tanggal 17 April 2024, aktivitas erupsi mengalami penurunan. Pada tanggal 22 April 2024 pukul 09.00 WITA, tingkat aktivitas Gunung Ruang diturunkan dari Level IV (AWAS) ke Level III (Siaga), dan kemarin (30/4) dinaikkan kembali menjadi Level IV (AWAS).

Data kegempaan tanggal 29 April 2024 sampai pukul 24.00 WITA yang tercatat melalui stasiun RAPS adalah: 15 kali gempa Guguran, 237 kali gempa Vulkanik Dangkal, 425 kali gempa Vulkanik Dalam, 15 kali gempa Tektonik Lokal, dan 6 kali gempa Tektonik Jauh.

Jumlah kejadian Gempa Vulkanik Dalam dan Dangkal yang meningkat signifikan pada 29 April 2024 yang disertai visual hembusan asap kawah menunjukkan saat ini masih terjadi proses peretakan batuan disertai migrasi magma dari reservoir magma dalam ke permukaan.

Kenaikan aktivitas ini berpotensi berkembang menjadi erupsi eksplosif berselingan dengan erupsi efusif (aliran lava). Gempa terasa intens terjadi dari pukul 00.15 WITA sampai terjadinya erupsi pukul 01.15 WITA dan terus berlangsung intens sampai surat kenaikan status ini dibuat. Erupsi terjadi pada pukul 01.15 WITA dengan kolom erupsi kurang lebih 2.000 meter disertai dengan suara gemuruh dan gempa terasa yang intens.

(***)

Editor : Tanya Rompas
#Bandara Sam ratulangi #MANADO #erupsi #Gunung Ruang