MANADOPOST.ID--Benny Laos, Calon Gubernur Maluku Utara harus meregang nyawa usai ledakan kapal di Pelabuhan Bobong, Pulau Taliabu, Maluku Utara, pada Sabtu (12/10).
Alm Benny Laos sempat dilarikan ke Rumah sakit, tapi nyawanya tak bisa tertolong lagi. Hal ini Diungkapkan Sherly Tjoanda, Istri Alm Benny Laos.
Saat Sherly Tjoanda tiba di Rumah Sakit, Alm Benny Laos masih hidup. "Waktu saya datang Pak Beni masih punya denyut jantung. Saya berdoa minta mujizat, saya panggil nama Tuhan," ujarnya.
Namun menurut Sherly, karena peralatan yang tidak lengkap, nyawa suaminya tak bisa tertolong. "Itu Rumah Sakit Kabupaten tapi dia enggak punya apapun dikasih oksigen dengan pompa-pompa gitu saja dia enggak punya," tambahnya.
"Seandainya saja ada alat pacu jantung, mungkin semua akan berbeda," kata Sherly.
Dia pun tak kuasa menahan kepergian suami tercinta dari sisinya."Saya panggil dia saya sebut nama anak-anak, Saya berbisik, saya pukul-pukul dia untuk kembali," tutupnya.
Berikut Kesaksian Sherly Tjoanda di detik-detik kepergian Suaminya Alm Benny Laos:
Pak Beni hatinya baik dia menolong orang, dia selalu berikan bahkan buat orang yang dia tidak kenal sebisa mungkin dia membantu orang.
Agak ironis pada saat dia selesai di rumah sakit yang tidak ada apapun, apapun kosong obat tidak ada, mesin tidak ada. semuanya dilakukan manual.
Waktu saya tiba di rumah sakit, Bapak sudah tiba duluan sekitar 1 jam. Pak Beni tenggelam kata orang-orang sekitar mungkin dari jarak kejadian sampai itu mungkin sekitar 4 menit ketemunya.
Karena sudah mengambang, waktu saya datang Pak Beni masih punya denyut jantung. Saya berdoa minta mujizat, saya panggil nama Tuhan.
Saya merasa dia lahir sudah susah, dia berusaha menjadi sukses, dia hidup dengan keikhlasan hati dia tidak pernah bikin susah orang.
Sia selalu bantu orang seadanya gak mungkin dia selesai di rumah sakit dan tidak ada apa-apanya yang bentuknya seperti sangat tidak layak.
Itu Rumah Sakit Kabupaten tapi dia enggak punya apapun dikasih oksigen dengan pompa-pompa gitu saja dia enggak punya.
Inkubator dia enggak punya, masih punya nadi tapi tidak bisa bernapas sendiri. Seandainya saja ada alat pacu jantung, mungkin semua akan berbeda.
Saya berdoa saya bilang gak mungkin, nggak Mungkin Pak Beni selesai di sini enggak mungkin, saya panggil dia saya sebut nama anak-anak.
Saya berbisik, saya pukul-pukul dia untuk kembali, Dokter bilang sudah tidak bisa, saya bilang pokoknya dokter usaha terus ini manusia.
Kemudian Robert telepon katanya mereka akan mencari cara bisa kirim pesawat SOS untuk ke Singapura. Saya tiba-tiba punya harapan saya suruh dia pompa sampai kita naik ke helikopter.
Tapi kemudian telepon lagi karena sudah gelap dan Taliabu itu tidak ada landasan yang layak akhirnya kemungkinan besok. Saya berpikir 15 jam pompa seperti ini tidak mungkin dan Pak Beni mulai mengeras mukanya mulai biru.
Akhirnya setelah dipompa 3 jam Dokter bilang udah gak bisa kemudian saya bingung Saya bingung harus ngapain karena Pak Beni yang biasanya memikirkan semua saya gak tahu harus bagaimana.
Editor : Clavel Lukas