Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Ipar Adalah Maut Banyak Terjadi, Ini Penjelasan Psikolog Soal Inner Child Penyebab Rani Jadi Pelakor Suami Kakaknya

Tommy Waworundeng • Sabtu, 16 November 2024 | 23:25 WIB

 

Ipar adalah Maut
Ipar adalah Maut

MANADOPOST.ID–Ipar Adalah Maut banyak terjadi di lingkungan masyarakat.  Ini penjelasan psikolog soal  istilah  Inner Child  yang menjadi pemyebab Rani jadi  Pelakor (pelari laki orang) dalam rumah tangga  kakaknya sendiri.

Film Ipar Adalah Maut sendiri film yang lagi viral di sosial media. Baru 4 hari diupload, sudah ditonton lebih dari 1 juta kali.

Film Ipar Adalah Maut ini  mengangkat kisah yang cukup kontroversial. Yakni tentang adik yang menjadi orang ketiga dalam rumah tangga kakaknya sendiri.

Hal ini menarik perhatian Mbak Meida, seorang konsultan rumah tangga yang kerap membahas isu psikologis dalam hubungan keluarga.

Dalam media sosialnya, Mbak Meida memberikan analisis mendalam mengenai perilaku Rani, karakter dalam film tersebut, yang merebut suami kakaknya.

“Film ini mirip dengan kasus rumah tangga yang sering saya tangani, terutama kasus di mana pelakornya adalah adik ipar,” ujar Meida.

Penjelasan psikologis ini sangat penting bagi para orang tua  dalam menjaga dan membimbing anak anak agar tidak ada luka batin Inner Child dalam diri anak anak, karena tidak baik bagi masa depannya.

Luka Batin Inner Child di Balik Tindakan Rani.
Mbak Meida menjelaskan bahwa perilaku seperti ini kerap berakar dari luka batin inner child yang dialami sejak kecil.

“Setiap orang membawa pengalaman pahit atau manis dari masa kecilnya hingga dewasa. Pengalaman pahit yang tidak terselesaikan bisa menjadi luka batin inner child, seperti merasa ditinggalkan atau diabaikan oleh orang terdekat,” jelasnya.

Dalam film, diceritakan bahwa Rani tumbuh dengan kondisi keluarga yang penuh tekanan. Ayahnya meninggal, dan ibunya, Bu Yani, harus mengurus dua anak seorang diri.

Namun, perhatian sang ibu lebih sering diberikan kepada kakaknya, Yeni, yang dianggap lebih pintar, cerdas, dan cantik. Lingkungan sekitar juga memperkuat perasaan rendah diri Rani dengan terus membandingkannya dengan sang kakak.

“Luka batin inner child seperti ini membuat seseorang mencari pengakuan dan perhatian, meskipun lewat hubungan yang tidak sehat. Dalam kasus Rani, sosok Aris—kakak iparnya—menjadi pelarian untuk mengobati rasa kesepian dan kekurangannya,” tambah Meida.

Pesan Penting: Luka Batin Bukan Alasan Melanggar Norma
Namun, Mbak Meida menegaskan bahwa memiliki luka batin bukan berarti seseorang berhak menyakiti orang lain atau melanggar norma yang berlaku.

“Luka batin itu perlu diatasi, tapi tidak boleh menjadi alasan untuk melanggar norma agama, kesusilaan, kesopanan, maupun hukum,” katanya.

Ia mengingatkan pentingnya kesadaran diri dan usaha untuk menyembuhkan luka batin dengan cara yang sehat. “Butuh waktu dan usaha untuk pulih dari luka masa kecil, tapi hal itu harus dilakukan tanpa menyakiti orang lain atau merusak kehidupan mereka,” tutup Meida.

Film Ipar Adalah Maut kini menjadi perbincangan publik, tidak hanya karena konfliknya yang dramatis, tetapi juga karena isu psikologis yang relevan dengan banyak kasus nyata di masyarakat. (*)

Editor : Tommy Waworundeng
#luka batin #Ipar adalah maut #inner child