MANADOPOST.ID – Kholid, seorang nelayan yang terdampak pembangunan pagar laut, mengungkapkan kekecewaannya terhadap dugaan keterlibatan korporasi dalam proyek tersebut.
Menurutnya, pagar laut telah merugikan nelayan yang bergantung pada laut sebagai sumber mata pencaharian.
"Lebih baik saya melawan, daripada hidup saya sebagai petani nelayan dikelola oleh korporasi. Karena ainal yaqin, kalau saya sebagai rakyat dikelola korporasi, sampai kiamat anak cucu saya pasti miskin," tegas Kholid saat tampil di ILC.
Ia menilai bahwa korporasi hanya memikirkan keuntungan tanpa memperhatikan dampaknya terhadap rakyat kecil.
Menurutnya, negara seharusnya menjamin keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, sesuai sila 5 Pancasila. Namun dalam kasus ini, ia merasa hal tersebut tidak terjadi.
Kholid juga mempertanyakan sikap pihak berwenang yang belum mengambil tindakan tegas terkait keberadaan pagar laut di Tangerang.
Ia menyebut bahwa identitas pihak yang bertanggung jawab bukan lagi menjadi rahasia umum.
"Ini nunggu apa? Biar pelakunya ngaku? Pelakunya bukan rahasia umum lagi, lurah-lurah tahu, orang Serang tahu, semua tahu. Gak mungkin gak tahu. Kalau saya sebutin takut dituntut," ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Kholid menegaskan tekadnya untuk melawan jika negara tidak bisa bertindak.
"Kalau negara gak bisa, saya akan lawan," tandasnya.
Di sela viralnya persoalan pagar laut, beredar juga video yang memperlihatkan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya yang akrab disapa Mayor Teddy, hormat ke pemilik PIC. (*)