MANADOPOST.ID- Awan kelabu menyelimuti rumah keluarga Pangkey Lahunduitan. Di rumah duka yang ada di Kelurahan Sumompo lingkungan 2, di belakang SDN 48 Manado ini, terbaring kaku jenazah Claudia Lahunduitan. Suasana duka jelas dirasakan oleh keluarga besar Lahunduitan Kagho, orang tua dari Claudia.
Semalam, nyanyian penghiburan dari pelayat duka yang terus dilantunkan, makin menambahkan haru suasana rumah duka, hingga membuat bulu kuduk merinding. Terpampang jelas di foto depan peti jenazah, sosok Claudia yang mengenakan seragam sekolah Dirgantara yang terlihan menawan.
Disela nyanyian lagu rohani berbahasa Sangihe, terselip tangisan kedua orang tua yang belum tega melepas anak semata wayangnya. Rintihan tangis dan kesedihan tak kuasa dibendung keduanya. Air mata keluar tiada henti, meratapi anaknya yang terbujur kaku di peti, menggunakan gaun putih panjang.
"Ohhh Tuhan ade... Ade...," isak tangis mama Claudia didepan peti, sambil melihat dan membelai kepala anaknya. Terlihat papanya juga tak kuasa, peluk dan cium untuk Claudia mengiringi penghiburan duka semalam.
Claudia Lahunduitan, merupakan anak pendiam. Terlebih anak tunggal dari papa Okta Lahunduitan dan mama Rospha Kagho ini, sementara menempuh sekolah dirgantara, untuk mencapai citanya sebagai pramugari kelak. Namun kini pupus sudah impian gadis manis berusia 19 tahun ini.
Sabtu (1/2) akhir pekan lalu, dari ketinggian jembatan Interchange Manado, berakhir sudah perjalanan hidup Claudia yang sebentar lagi lulus dari Dirgantara Flight School (DiFiS). Sempat dirawat intensif di RS Hermina dan dirujuk ke RSUP Kandou Malalayang, Claudia yang dari kecil disapa Ade di lingkungan keluarga, menghembuskan nafas terakhir, Minggu (2/2) pukul 04.30.
Detik akhir pejalanan kehidupan Claudia ini, dikisahkan langsung pamannya Stenly Kaseretang. "Waktu di RS Hermina, keadaannya antara sadar dan kadang tidak sadar. Sebab waktu ditanya, dia sempat jawab. Dia masih tau siapa yang datang. Cuman karena kondisi lemah, dia sempat berteriak sakit," katanya semalam disela penghiburan duka.
Namun usaha untuk melihat Claudia kembali sehat, terus diupayakan keluarga. "Dirujuk ke Malalayang jam 6 sore, hari Sabtu. Di malalayang dilakukan penanganan dan meninggal pukul 04.30. Lalu dibawa ke rumah duka pukul 08.00 pagi tadi," terangnya.
Dirinya mengatakan cita-cita sebagai pramugari memang keinginan kuat dari Claudia. Pasalnya ada beberapa opsi untuk melanjutkan pendidikan setelah lulus SMA, Claudia hanya mau ke sekolah pramugari tersebut. "Sementara kuliah di DiFiS. Sekolah untuk pramugari. Memang cita-cita jadi pramugari. Sempat pernah diberi tawaran untuk kuliah di Politeknik, namun dirinya hanya ingin di sekolah pramugari," ungkapnya menambahkan dengan biaya yang cukup mahal, orang tua Claudia berusaha menyanggupi keinginan anaknya.
Lebih mirisnya, bulan depan Claudia seharusnya sudah lulus dari sekolah tersebut. "Bulan depan sebenarnya sudah selesai sekolah pramugari itu," terangnya. "Jadi setelah lulus SMA di Tagulandang, Claudia awalnya tinggal disini. Namun karena jarak jauh ke tempat sekolah, akhirnya memilih untuk kost di daerah Politeknik," tambahnya.
Di akhir percakapan, dirinya mengatakan tidak ada tanda-tanda yang ditunjukkan Claudia. Menurutnya dirinya terakhir bertemu Claudia, sehari sebelum dirinya jatuh dari jembatan Interchange Manado. "Hari Jumat sempat kesini. Terus sekiranya pukul 10 pagi dia kembali ke kos. Baru sampai kejadian tidak ada komunikasi dengan saya. Namun kalau orang tua paling ada telepon untuk komunikasi," tegasnya.
Dirinya juga menegaskan bahwa keluarga sudah menerima dengan apa yang dialami Claudia. Terlebih kini fokus untuk pemakaman Claudia di pulau Tagulandang, Sitaro. "Kami keluarga belum ada terpikir ada masalah-masalah apa. Sebab orangnya pendiam. Jadi agak sulit untuk interaksi. Namun kami menerima dan kini mempersiapkan untuk ibadah pemakaman di Tagulandang," katanya lagi.(rez)
Editor : Reza Abdilah