MANADOPOST.ID-Rabu (5/1) sore kemarin, warga Sulawesi Utara kembali dihebohkan dengan video seorang ibu berupaya melakukan percobaan bunuh diri di Jembatan Interchange Kairagi.
Untung saja aksi nekat itu berhasil digagalkan warga yang melintas. Karena memang pemerintah tidak menempatkan petugas penjaga jembatan. Karna itu warga net meminta pemerintah harus segera membuat pagar atau jaring penghalang sehingga tidak ada warga yang bisa melompat.
Karena sebelumnya sudah 2 warga Sulut yang meninggal jatuh dari atas jembatan yang menghubungkan Kota Manado dan Kabupaten Minahasa Utara itu. Entah bunuh diri atau terjatuh, yang pasti sudah dua warga yang tewas jatuh dari atas jembatan Interchange .
Karena memang jembatan yang diresmikan tahun 2015 itu, mudah diakses warga. Ketinggian jembatan juga memastikan siapa saja yang melompat, pasti tidak selamat. Sehingga jembatan yang mulai viral ini, dikhawatirkan jadi tempat favorit warga Sulut untuk menghilangkan depresi.
Karena itu Pemerintah harus secepatnya buatkan pagar penghalang orang melompat. Kalu perlu ada petugas yang melayang warga jalan kaki atau berdiri di jembatan.
Jangan seperti di Kota San Francisco. Sedikitnya sudah 2.000 orang diketahui telah melompat hingga tewas dari jembatan Golden Gate sejak jembatan terkenal itu diresmikan pada tahun 1937, baru pemerintah sadar.
Setelah 77 tahun memakan banyak korban jiwa, baru tahun 2014 pemerintah setempat terpikir untuk membuat jaring pencegahan bunuh diri di jembatan berwarna merah itu. Dan jaring itu baru selesai dibuat tahun 2023.
Apakah nanti tunggu banyak yang meninggal baru pemerintah mau tergerak buat jaring pengaman? Apakah nanti sudah 2 ribu yang meninggal seperti di San Fransisco baru pemerintah sadar.
Golden Gate Bridge yang merupakan salah satu ikon paling terkenal di dunia, menyimpan sisi kelam yang jarang dibicarakan. Jembatan ini dikenal sebagai lokasi dengan jumlah kasus bunuh diri tertinggi dibanding tempat lain di dunia.
Sejak dibuka pada tahun 1937, Golden Gate telah menjadi saksi ribuan tragedi. Diperkirakan 2 ribu orang telah melompat dari jembatan setinggi 75 meter ini ke perairan Teluk San Francisco. Aliran air yang deras dan suhu yang dingin membuat peluang bertahan hidup hampir nol.
Pemerintah setempat dan komunitas kesehatan mental telah berupaya keras untuk mengurangi angka bunuh diri di lokasi ini. Salah satu langkah utama adalah pemasangan suicide deterrent net, yaitu jaring baja yang dipasang di kedua sisi jembatan untuk menangkap orang yang mencoba melompat. Proyek ini diperkirakan menelan biaya lebih dari 200 juta dolar AS dan mulai difungsikan pada 2023.
Selain itu, petugas patroli khusus ditugaskan untuk mengawasi jembatan dan mencegah tindakan bunuh diri. Beberapa telepon darurat juga dipasang di sepanjang jembatan dengan papan peringatan yang mengarahkan orang yang sedang dalam krisis untuk mencari bantuan.
Para ahli psikologi menyebutkan beberapa alasan mengapa Golden Gate menjadi lokasi yang sering dipilih:
Ikonik dan Bersejarah – Jembatan ini dikenal di seluruh dunia, sehingga bagi sebagian orang, melompat dari sana menjadi semacam "pernyataan simbolis".
Akses Mudah – Jembatan ini terbuka untuk umum dan dapat dikunjungi kapan saja, membuatnya lebih mudah diakses dibanding gedung pencakar langit atau tempat tinggi lainnya.
Keyakinan Akan Kepastian Kematian – Banyak orang percaya bahwa lompatan dari Golden Gate pasti akan berujung pada kematian, meskipun beberapa orang pernah selamat.
Kasus bunuh diri di Golden Gate Bridge menyoroti pentingnya kesadaran akan kesehatan mental. Organisasi seperti National Suicide Prevention Lifeline terus mengampanyekan pentingnya mencari pertolongan bagi mereka yang mengalami depresi atau keinginan untuk bunuh diri.
Bagi siapa pun yang merasa putus asa, bantuan selalu tersedia. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang mengalami krisis, segera hubungi layanan darurat atau organisasi kesehatan mental di San Francisco.
Golden Gate Bridge bukan hanya simbol keindahan arsitektur, tetapi juga pengingat bahwa di balik kemegahannya, ada cerita-cerita pilu yang perlu mendapat perhatian serius. (*)
Editor : Tommy Waworundeng