Insiden tersebut terjadi saat Milord yang tengah memimpin perlombaan di kelas bergengsi 1.600 meter, hanya sekitar 100 meter lagi dari garis finish, terlibat tabrakan dengan kuda lain yang mendekatinya.
Akibat kecelakaan itu, Milord harus mengakhiri perlombaan dengan tragis, meninggal dunia di arena pacuan.
Milord, meskipun memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dibandingkan dengan lawan-lawannya, telah menunjukkan performa luar biasa dengan memimpin perlombaan sebelum insiden tersebut.
Kuda andalan ini menjadi simbol kebanggaan bagi dunia pacuan kuda di Sulawesi Utara, dan banyak pihak yang berharap ia dapat meraih kemenangan di event bergengsi tersebut.
Peristiwa ini sangat mengejutkan para penonton dan seluruh tim yang mendukung Milord selama persiapan dan perlombaan.
Tak hanya Milord yang menjadi korban, joki yang menungganginya, Jones Paendong asal Tompaso Minahasa, juga mengalami cedera akibat benturan keras.
Jones segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
Keadaannya dilaporkan stabil, namun peristiwa ini meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi dirinya dan tim yang telah lama melatih Milord.
Senin, (17/2) Landi Lumentah, asal Kanonang, Minahasa, menyatakan rasa prihatin yang mendalam terhadap insiden ini.
"Kami berharap agar Jones cepat pulih dan bisa kembali berkompetisi untuk mengharumkan nama Sulawesi Utara,"ungkapnya. (ryn).
Editor : Tanya Rompas