MANADOPOST.ID-Ada kalimat bijak yang bunyinya, "Daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri".
Yang artinya, bagaimanapun senangnya hidup di negeri orang, masih lebih senang hidup di negeri sendiri.
Kalimat bijak itu, saat ini tidak berlaku lagi bagi generasi muda Indonesia. Hal ini menyusul viralnya di media sosial Tagar: "Kabur Aja Dulu".
Saat ini banyak generasi muda meninggalkan Indonesia dan memilih untuk bekerja di luar negeri demi mencapai kehidupan yang lebih sejahtera. Mereka istilahkan, Kabur Aja Dulu. Mereka anggap, negara sendiri tidak bisa memberi kesejahteraan.
Negara-negara seperti Singapura, Australia, Korea Selatan, Amerika Serikat, Eropa, hingga Timur Tengah menjadi tujuan utama mereka dalam mencari peluang kerja dengan gaji yang lebih tinggi dibandingkan di Indonesia.
Banyak dari mereka meyakini bahwa bekerja di dalam negeri tidak akan memberikan kesejahteraan yang sama. Apalagi kondisi negara seperti saat ini.
Faktor seperti nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar, ekonomi yang dinilai tidak stabil, serta kebijakan pemerintah dalam pengelolaan anggaran dan utang negara menjadi alasan utama yang mendorong mereka untuk "kabur aja dulu" mencari penghidupan yang lebih baik di negeri orang.
Salah satu daya tarik terbesar bekerja di luar negeri adalah gaji yang diberikan dalam mata uang asing, terutama dolar AS, euro, atau dolar Singapura, yang memiliki nilai tukar lebih tinggi dibandingkan mata uang negara sendiri.
Hal ini memungkinkan pekerja migran asal Indonesia untuk mengirimkan remitansi dalam jumlah besar ke tanah air, yang secara tidak langsung turut mendukung perekonomian nasional.
Seorang pekerja migran asal Indonesia yang bekerja di sektor perhotelan di Dubai, misalnya, mengungkapkan bahwa dengan gaji sekitar 10 juta rupiah per bulan di Indonesia, ia hanya bisa memenuhi kebutuhan dasar.
Namun, dengan gaji dalam dirham setara 25-30 juta rupiah di Dubai, ia bisa menabung dan membantu keluarganya lebih baik.
Di dalam negeri, berbagai tantangan ekonomi seperti rendahnya PDB dibanding negara lain, kebijakan penghematan pemerintah, dan minimnya peluang kerja bergaji tinggi menjadi faktor utama yang membuat generasi muda enggan bertahan.
Ditambah lagi dengan tingginya biaya hidup di kota-kota besar seperti Jakarta, membuat banyak kaum muda merasa bekerja di Indonesia bukanlah pilihan yang menjanjikan.
"Kalau mau beli rumah di Jakarta dengan gaji UMR, rasanya tidak mungkin. Biaya hidup naik, tapi gaji tidak sebanding," ujar seorang profesional muda yang sedang merencanakan untuk mencari pekerjaan di luar negeri.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah Indonesia kehilangan potensi sumber daya manusia terbaiknya ke luar negeri? Jika semakin banyak talenta muda yang memilih pergi, bagaimana nasib pembangunan ekonomi dan industri di dalam negeri?
Beberapa pihak menilai bahwa pemerintah perlu menciptakan lebih banyak peluang kerja dengan gaji yang kompetitif dan kebijakan ekonomi yang lebih berpihak pada kesejahteraan rakyat.
Jika tidak, arus migrasi tenaga kerja ke luar negeri bisa terus meningkat, meninggalkan tantangan besar bagi Indonesia dalam mempertahankan tenaga kerja berkualitas di dalam negeri.
Sementara itu, bagi generasi muda, bekerja di luar negeri tetap menjadi pilihan rasional untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Apakah fenomena ini akan berlanjut atau justru menjadi pemicu perbaikan kebijakan ekonomi nasional? Hanya waktu yang akan menjawabnya. (*)
Editor : Tommy Waworundeng