Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Peran Ke Kawanuaan Dalam Ke Indonesia-an Pada Era Pemerintahan Prabowo Menuju Indonesia Emas 2045

Tommy Waworundeng • Jumat, 21 Februari 2025 | 13:54 WIB

Diskusi Peran Ke Kawanuaan Dalam Ke Indonesia-an Pada Era Pemerintahan Prabowo Menuju Indonesia Emas 2045
Diskusi Peran Ke Kawanuaan Dalam Ke Indonesia-an Pada Era Pemerintahan Prabowo Menuju Indonesia Emas 2045

MANADOPOST.ID-Sejumlah tokoh Kawanua di Jakarta, gelar  pertemuan dan Diskusi Torang Matuari, di Resto Angke, MOI, Kelapa Gading, Jakarta, Jumat 14 Februari 2025.

Pertemuan dan diskusi terbatas tersebut mengambil tema: "Peran Ke Kawanuaan dalam Ke Indonesia-an pada Era Pemerintahan Prabowo menuju Indonesia Emas 2045".

Diskusi ini adalah kelanjutan dari diskusi yang digelar di Grand Hyatt, 4 Februari 2025 lalu yang dihadiri 9 Tokoh dan Warga Kawanua.

Tokoh tokoh Kawanua yang hadir
Tokoh tokoh Kawanua yang hadir

Tokoh-Tokoh Kawanua yang hadir dalam diskusi di Resto Angke, Kelapa Gading, 14 Februari 2025, masing-masing, Philep Pantouw (Politisi Senior dan Pengusaha), Irjen Pol Dr Winston Tommy Watuliu (Pati Baintelkam Polri/BIN), Ir Donald Pokatong, MSc Phd (Akademisi Universitas Pelita Harapan), dr Roy Massie, MPH PhD (Akademisi dan Peneliti Senior BRIN), Pdt Dr Efraim Yerry Tawalujan, MTh (Politisi), Dr Benni Matindas (Budayawan), Pdt Dr Danny Tumiwa, MTh (Rohaniwan dan Pengusaha), Irjen Pol (Purn) Dr Ronny F.Sompie, SH, MH (Mantan Dirjen Imigrasi/Mantan Kapolda Bali), Mayjen TNI Rano Maxim Adolf Tilaar, SE (Tenaga Ahli Pengajar Bidang Strategi Lemhanas), Dr Max Wilar (Admin Kawanua Informal Meeting), Drs Berni Tamara (Politisi Senior/Mantan Anggota DPR RI) Ali Hardi Kiai Demak (Politisi Senior/Mantan Anggota DPR RI), Sonny Wuisan, SH, MH, CRA, CLA (Lawyer/Kurator) Dolfie Rompas, SH, MH (Lawyer), Roy Pantouw, SH (Lawyer), Rommy Pantouw, SE, Magister Cand, (Anggota Bravo 5), dan Harris Vandersloot Laoh, S.Sos (Jurnalis/Praktisi Media).

Pertemuan dan diskusi yang berlangsung santai, serius dan kekeluargaan itu, telah memberi banyak masukan, gagasan dan ide dari masing-masing Tou Kawanua yang hadir, untuk program pembangunan Sulut maupun untuk program pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Diskusi ini dibuka dengan doa oleh Pdt Dr Yerry Tawaluyan, MTh, kemudian dilanjutkan dengan sambutan pengantar diskusi yang dibawakan Senior Tokoh Kawanua yang juga sebagai fasilitator dan penggagas pertemuan, Philip Pantouw.

Philip Pantouw melemparkan poin-poin diskusi, yang menitik beratkan peran dan ikut serta Tou Kawanua di era Kepemimpinan Pemerintahan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto, sebagai Presiden yang mempunyai garis keturunan Minahasa dan Tou Kawanua.

Menurut Politisi Senior dan Salah Satu Pendiri Gerindra ini, di era pemerintahan Prabowo, warga Kawanua terpanggil dan ikut terbeban mengawal dan mendukung terhadap pemerintahan Prabowo.

Dukungan tersebut dilakukan dalam bentuk memberikan konsep dan program kepada Prabowo, khususnya menopang program Asta Cita, baik secara nasional maupun untuk masa depan Sulawesi Utara tercinta.

Philip mengajak, di era pemerintahan Prabowo, Sulawesi Utara dan Warga Kawanua terpanggil berperan penting dalam menjaga, mengawal, mendukung, serta memberi masukan ke Prabowo,  terutama soal keberadaan potensi Sulawesi Utara beserta segala aset dan kemampuan sumber daya yang dimiliki.

Dibidang politik pemerintahan Prabowo, menurut Philip, Tou Kawanua perlu juga melakukan pengawalan dan mengantisipasi gangguan dari lawan-lawan politik Prabowo.

"Ini adalah kesempatan bagi kita, untuk berperan aktif selama periode pemerintahan Prabowo berlangsung. Sebab kesempatan ini sangat jarang terjadi, dimana ada seorang pemimpin pemerintahan nasional sebagai presiden, setengah keturunannya berasal dari Minahasa," kata Mantan Tokoh Pemuda di era 1980-1990-an ini.

Sebagai fasilitator dan Penggagas pertemuan dan diskusi, Philip menekankan, keberadaan dan kinerja pemerintahan Prabowo harus dikawal dan didukung bersama, dengan harapan ada efek pembangunan yang berarti bagi kemajuan Sulut dan provinsi tetangga.

Pengusaha senior ini juga mengusulkan, para Tou Kawanua perlu melakukan banyak kegiatan yang menghadirkan Prabowo, terutama kegiatan yang mengarah pada pendekatan-pendekatan hubungan emosional dengan Prabowo dan keluarganya, menyangkut tema-tema tentang Minahasa dan tentang Sulut umumnya.

"Jika ini tercipta, maka keberadaan Kawanua semakin berarti di nasional, dan bagi Sulut akan menjadi satu daerah yang maju bahkan bisa menjadi pelopor di Kawasan Timur Indonesia," ujar Philip, yang juga pengusaha senior.

Selain itu kata Philip, ke depan Sulut juga perlu melakukan kerja sama segitiga dengan dua provinsi tetangga, yakni Gotontalo dan Maluku Utara. Agar dalam pembangunan bersama dengan dua provinsi tetangga tersebut, bisa menciptakan harmoni pembangunan yang bisa diandalkan di Kawasan Timur  Indonesia.

Banyak hal dalam kerja sama segitiga ini, terutama untuk saling melengkapi potensi kekayaan masing-masing ke tiga provinsi ini (Sulut, Gorontalo dan Malut).

Pendapat Philip ini didukung Tokoh Masyarakat Jaton (Jawa Tondano) Ali Hardi Kiai Demak, yang hadir dalam diskusi. Sama seperti Philip, Ali Hardi juga mengharapkan Para Tou Kawanua, hendaknya memanfaatkan di masa pemerintahan Prabowo, dengan menggelar kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dan diminati Prabowo dan keluarganya, guna terciptanya keakraban.

Kegiatan yang dimaksud antara lain menurut Ali Hardi, adalah bisa dalam  bentuk kegiatan pertukaran budaya Jawa dan Minahasa. Alasan Ali, mengingat keturunan Prabowo adalah campuran antara suku Jawa dan suku Minahasa.

"Pertukaran budaya adalah contoh kecil saja, dan masih banyak kegiatan yang bisa diminati keluarga Prabowo," ujar Ali Hardi.

Ide dan pendapat dua tokoh senior Kawanua diatas, mendapat sambutan positif Mayjen TNI Rano Tilaar, SE, yang saat ini menjabat Tenaga Ahli Pengajar Bidang Strategi Lemhanas.

Rano Tilaar menyatakan, bangga dengan Presiden Prabowo Subianto, selain memiliki keturunan Minahasa, Prabowo juga memiliki historis dengan para Tou Kawanua pendahulu. 

Mantan Danrem 052/Wijayakrama Kodam Jaya ini, menceritakan, bahwa ikatan emosional keluarga Prabowo baik ayahanda dan ibu Prabowo dengan para tokoh-tokoh Kawanua, sudah tercipta sejak lama. Kemudian Rano menjelaskan, bagaimana hubungan erat antara Ayahanda Prabowo Subianto yakni Sumitro Djojohadikusumo dengan Mantan Gubernur Sulut Letjen TNI (Purn) GH Mantik, begitu juga keluarga Prabowo sangat dekat hubungannya dengan keluarga pemilik maskapai Bouraq Jerry Sumendap.

"Hubungan para senior tokoh kawanua tersebut itu kemudian berlanjut secara regenerasi dengan Kawanua yang lain hingga saat ini. Antara lain kedekatan Pak Prabowo dengan sejumlah pemuda Kawanua yang bekerja untuk Pak Prabowo di Hambalang. Baik bekerja di perusahaan Pak Prabowo maupun merawat rumah," ungkap Rano.

"Dan yang saya tangkap Pak Prabowo tidak akan pernah melupakan orang yang pernah bekerja untuk dia," ujar Mantan Staf Khusus Kasad ini.

Karena itu Rano mengharapkan, mereka para pemuda Kawanua, yang berada di lingkaran 1 Hambalang, diharapkan juga bisa membuka jalan bagi pemuda-pemuda dan warga Kawanua yang lain.

"Untuk itu sudah waktunya organisasi kawanua menciptakan satu sistem perekrutan atau mengakomodir terhadap warga kawanua satu sama lainnya," kata Rano, Mantan Danyon Grup 3 Sandi Yudha dan Dandenma Mako Kopassus.

Lanjut Rano, sistem ini ke depannya harus ada, dan semoga mereka yang sudah berhasil duduk pada posisi-posisi strategis baik dipemerintahan maupun di BUMN dan swasta, benar-benar peduli dengan para Kawanua yang lain yang belum beruntung.

"Jangan sampai muncul pepatah: "Suka melihat teman yang sama-sama susah".  Padahal seharusnya kalimat ini dibalik," cetus Rano mengingatkan.

Dibagian lain Mantan Kaskogartap I Jakarta ini, mengusulkan, jika ada pagelaran iven yang akan dibuat warga kawanua yang akan menghadirkan Presiden Prabowo, maka sebaiknya diselenggarakan di Manado, bekerja sama dengan Gubernur Sulut Terpilih Senior Mayjen TNI Purn Yulius Selvanus Komaling.

"Apalagi torang pe Pak Gubernur Terpilih ini memiliki kedekatan dan punya akses khusus ke Presiden Pak Prabowo. Pada diskusi berikut saya usul juga bisa mengundang Gubernur Sulut Terpilih Senior Mayjen Yulius Selvanus Komaling, untuk hadir berdiskusi," ujar Rano.

Mengenai rencana hadirnya sekolah unggulan di Langowan Minahasa, Rano menjelaskan, perlu melibatkan pengurus sekolah-sekolah international yang sudah ada di Sulut seperti dari Pengurus SMA Lokon, Manado International School atau Dian Harapan, untuk diusulkan masuk dalam tim guna memberi masukan-masukan ke presiden mengenai pendirian sekolah unggulan tersebut.

Pada kesempatan itu, Tokoh Kawanua Senior lainnya Max Wilar, yang juga sebagai Admin Kawanua Informal Meeting (KIM), saat diberikan kesempatan untuk memberikan pendapatnya, menekankan pentingnya pendekatan personal kepada Presiden Prabowo.

"Kita harus mampu membaca kriteria apa yang disukai pemimpin kita (Presiden Prabowo). Torang nimbole salah baca tentang kemauan dan kriteria yang diinginkan Prabowo," kata Max Wilar.

Max mengusulkan, agar dalam pendekatan ke Presiden Prabowo, tidak membawa nama suku dalam hal ini suku Minahasa, tetapi membawa konsep yang jelas mengenai pemecahan persoalan-persoalan ekonomi yang dihadapi pemerintahan Prabowo.

Menurut Max, Tou Kawanua untuk bisa mengambil bagian memecahkan problematik program-program ekonomi dan program Asta Cita yang dihadapi pemerintahan Prabowo.

"Kalau kita mendekatkan diri dengan kesukuan, itu akan menyesatkan kita. Tetapi jika ada konsep dan program untuk disumbangkan ke pemerintahan Prabowo, itu sangat tepat," ujar Max.

Max memberi contoh, salah satu solusi pemikiran dan program misalnya adalah mempelajari efek yang ditimbulkan dari pemangkasan anggaran. Efeknya apa, jika anggaran di suatu instansi dipangkas, dan jika ternyata berefek pada perbaikan fasilitas umum yang dibutuhkan masyarakat umum, hal-hal seperti inilah yang harus dibawah ke Presiden.

Max Wilar juga menyinggung, banyak Tou Kawanua yang hebat, tapi belum mendapat bagian dalam pemerintahan, hal ini menurutnya, tidak ada konsep yang bisa dibawah ke presiden.

"Apalagi Presiden Prabowo dalam mengisi berbagai pos jabatan dipemerintahan, salah satu ukurannya dilihat dari kualitas dan bobot yang dimiliki seseorang," tambah Max.

Sementara Tokoh Kawanua senior lain, Berni Tamara, mengusulkan agar para Tou Kawanua perlu melakukan inventarisir nama-nama para Kawanua yang saat ini duduk di pemerintahan maupun yang duduk di perusahaan swasta serta BUMN.

Hal ini menurut Berni, mereka yang saat sedang duduk di pemerintahan dan BUMN dan swasta bisa perlu ada pertemuan atau secara personal, agar konsep-konsep hasil diskusi dan masukan ini bisa diperjuangkan dan diteruskan ke Presiden Prabowo. 

Tokoh Kawanua lain Irjen Polisi Dr Winston Tommy Watuliu, yang juga hadir dalam diskusi, mengungkapkan, sebagai orang Minahasa wajar menjadi pendukung Presiden Prabowo.

"Dukungan ini juga mengingat Pak Prabowo adalah sebagai pemimpin yang memiliki visioner ke depan," ujar Tommy.

Terlepas dari semua itu, "Saya lebih melihat menyoroti mengenai impact atau dampak dari hasil program yang dijalani Pak Prabowo saat ini, kan tidak semua policy-nya bagus. Ini yang harus kita antisipasi ke Pak Prabowo," cetus Tommy.

"Dari semua program yang sedang dijalankan oleh pemerintahan Pak Prabowo, apa impact policy-nya? Khususnya yang timbul dari masyarakat. Disinilah peran kita Kawanua memberikan masukan ke Pak Prabowo yaitu dari impact di masyarakat tadi," jelas Tommy.

Mantan Direskrimum Polda Kalimantan Timur ini mengajak Tou Kawanua juga bisa memberi masukan dan mengingatkan akan impact yang timbul di masyarakat.

Sebagai contoh, saat ini kan dilakukan pemangkasan anggaran di pemerintahan, nah harus dilihat efeknya apa. Apakah ini ber efek ke pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan di pemerintahan, ataukah apakah bisa berdampak ke penyelesaian proyek fasilitas umum yang akan dibuat. "Ini yang harus diinput ke Pak Prabowo," tegas Tommy.

Donald Pokatong yang saat ini sebagai
Dosen Program Studi Teknologi Pangan Universitas Pelita Harapan, pada diskusi, memberi masukan soal program swasembada pangan di pemerintahan Prabowo.

Menurut Donald, program swasembada pangan belum bisa dicapai untuk saat ini, yang ada hanyalah baru pencapaian ketahanan pangan.

Kata Donald, kemandirian pangan Indonesia saat ini baru pada target bagaimana mengurangi impor beras. Sedangkan untuk kebutuhan impor bahan pangan lain seperti gandum, gula, kedelai dan daging sapi masih membutuhkan impor. Dan untuk beras menuju pengurangan jatah impor.

"Jadi jika dikatakan swasembada pangan masih jauh dari target. Dan yang dilakukan baru adalah bagaimana meningkatkan ketahanan pangan," ujar Pokatong, yang juga Anggota Ikatan Ahli Teknologi Pangan Indonesia dan Ikatan Aktivis Pangan Fungsional dan Gizi Indonesia.

Untuk itu Donald mengusulkan, Tou Kawanua perlu memberi masukan ini bagi presiden mengenai keberadaan yang sebenarnya soal program swasembada pangan.

Pada bagian lain Donald sangat setuju jika forum diskusi ini untuk dibuat suatu organisasi, agar lebih fokus dalam mengembangkan diskusi yang lebih besar ke depan.

Sedangkan Tokoh Kawanua lainnya dr Roy Massie, banyak membahas masalah program kesehatan, khususnya peningkatan mutu rumah sakit di Manado, Sulut.

Sudah waktunya rumah sakit di Manado menurut Roy, lebih berbenah dan ditingkatkan kualitas pelayanannya kepada pasien. Sebab data jumlah pasien dari Manado, itu banyak melakukan pengobatan di luar negeri terutama di Singapura dan Malaysia.

"Ini adalah fakta, banyak pasien dari Manado, Sulut, mencari rumah sakit di Singapura. Karena itu melalui Gubernur Terpilih Sulut yang baru bersama-sama dengan forum diskusi ini membuat langkah-langkah terobosan untuk disampaikan ke kekementerian kesehatan juga ke Presiden," ujar Roy, Peneliti BRIN ini.

Melalui forum diskusi ini Roy yang merupakan Alumni Queen Elizabeth College Inggris, mengharapkan dapat memberi masukan kepada pemerintah provinsi Sulut ke depan, terutama memperjuangkan kualitas tenaga kesehatan dan penambahan peralatan rumah sakit yang lebih modern.

"Ini supaya warga Sulut yang pergi berobat diluar negeri akan berkurang, dan bisa memilih rumah sakit di Manado," harap Roy, Peneliti dan Inovasi Senior Indonesia.

Sementara Advokat Sonny Wuisan, yang hadir, mengusulkan forum diskusi ini, perlu memperhatikan aspek material dan aspek formal.

Sonny setuju jika aspek material dipertajam pada program-program diberbagai bidang yang akan dibawah dan diperjuangkan ke Presiden Prabowo.

Ketajaman program dari Tou Kawanua sangat diharapkan untuk diusulkan dan disarankan ke pemerintahan Prabowo. "Sonny sangat setuju diskusi biaa menghasilkan banyak bahan melalui kajian, untuk memberi masukan kepada Presiden Prabowo, terutama soal pembangunan Sulut dikaitkan dengan program Asta Cita pemerintahan Prabowo.

Untuk aspek formal, Sonny mendukung perlu ada pengorganisasian dalam menyelenggarakan diskusi ini. Apakah akan menggunakan organisasi yang sudah ada seperti K3, atau membuat yang baru.

Sedangkan Tokoh Kawanua lain Advokat Dolfi Rompas, lebih menginginkan pembahasan diskusi lebih ke arah peningkatan pembangunan di Sulut. Agar supaya Sulut dimata dunia makin dikenal disaat Prabowo sebagai Presiden.

Dolfi mengatakan, perlu ada konsep program yang jelas dan terarah untuk perbaikan di Sulut. Sulut yang memiliki potensi kekayaan alam yang melimpah, adalah peluang untuk dikaji dan diperjuangkan ke pemerintahan Prabowo, untuk bersama pemerintah provinsi Sulut dibawah Yulius Selvanus Komaling, untuk mewujudkan sejumlah program hilirisasi.

Dolfie lebih setuju semua hasil bumi dan kekayaan alam Sulut untuk dijadikan  produk hilirisasi. Hal ini sesuai program pemerintah Prabowo soal pelaksanaan hilirisasi dibidang pertambangan dan hilirisasi agro pertanian.

"Menyangkut modal, Sulut punya Bank Sulutgo, jadi jika hiliriasi skala menengah ke bawah tak perlu membutuhkan investor dari luar, tapi cukup dari pelaku UKM dari Sulut," jelas Advokat Dolfie.

Pada bagian lain menanggapi program pemangkasan anggaran yang dilakukan pemerintahan Prabowo, menurut Dolfie, yang berkali-kali mendengar langsung dari ucapan Presiden Prabowo, bahwa penghematan anggaran dilakukan karena ditemukan banyaknya kebocoran anggaran di APBN dan APBD, dan setelah ditelusuri banyak masuk ke kantong-kantong pribadi.

Dibagian lain, Tokoh Kawanua Danny Tumiwa, banyak membahas program energi terbarukan di Sulut.

Denny mengatakan, program energi terbarukan yang bisa digarap di Sulut adalah menggunakan potensi tenaga surya dan tenaga angin.

Tumiwa mengaku juga sudah menyiapkan sejumlah instrumen presentasi akan proyek ini di Sulut. Dalam waktu dekat, pihaknya akan segera berdiskusi dengan Gunernur Sulut Terpilih setelah pelantikan.

"Ini penting karena Sulut, di era Presiden Prabowo, bukan tak mungkin akan kedatangan investor dari luar yang ingin mendirikan sejumlah gedung, hotel, pusat perbelanjaan dan perkantoran serta industri, dan semua ini membutuhkan energi yang bebas emisi," kata Tumiwa.

Sementara Budayawan Benny Matindas, sangat mendukung diskusi ini dengan tujuan perlu didukung, dalam rangka kemajuan Sulut dan Tou Kawanua ke depan.

Hal yang sama diungkapkan Jerry Tawaluyan, bahwa setuju dengan perlu adanya pembentukan organisasi meeting ini, guna untuk pembangunan Sulut dan juga memberi masukan ke Presiden Prabowo.

Pada akhir diskusi Tokoh Senior Kawanua yang juga Mantan Ketua Umum K3, Irjen Pol Purn Dr Ronny F. Sompie, SH, MH, memberikan masukan dan catatan, bahwa aspirasi para Tou Kawanua selain bisa disampaikan langsung ke presiden, juga bisa melalui para pejabat dan wakil menteri yang barasal dari Kawanua.

Sompie lantas memberi contoh kasus yang bisa diteruskan untuk ada penyelesaian yakni mengenai persoalan beberapa tenaga kerja migran asal Sulut yang menjadi korban di luar negeri khususnya di Kamboja, yang mempekerjakan tenaga kerja yang tak sesuai kontrak yang disepakati, bahkan berakhir tragis.

Kasus-kasus seperti ini yang bisa disampaikan ke wakil menteri tenaga kerja Immanuel Ebenezer Gerungan yang konon berdarah kawanua untuk diteruskan ke Presiden.

Mantan Kapolda Bali ini juga menyampaikan ada keinginan kementerian koordinator politik dan keamanan untuk memperbaiki Badan Keamanan laut (Bakamla), khususnya membentuk badan keamanan laut dan pantai.

"Perubahan ini saya pikir perlu melibatkan salah satu Tokoh Kawanua yang ahli dibidang Bakamla yakni Mantan Kepala Bakamla Laksdya TNI (Purn) Dr Desy Mamahit, MSc," ungkap Ronny Sompie, Mantan Kadiv Humas Mabes Polri.

Untuk dibidang pangan, pensiunan jenderal bintang dua ini juga mengusulkan untuk aspirasi soal program pangan bisa melibatkan Tokoh Kawanua yang sudah ada yakni Wakil Badan Gizi Nasional Lodwijk Pusung.

"Melalui beliau (Lodwijk Pusung) diharapkan dapat membantu membawa aspirasi program pangan ke presiden," ujarnya.

Sementara mengenai rencana pembangunan sekolah unggulan di Langowan, menurut Sompie, forum diskusi bisa bersama-sama dengan Gubernur Sulut Terpilih Yulius Selvanus Komaling untuk bersama-sama membicarakan hal tersebut ke Presiden Prabowo secara langsung.

Setelah berakhirnya diskusi, kemudian ditutup dengan doa penutup oleh Pdt Dr Danny Tumiwa, MTh.

Pertemuan dan diskusi yang diprakarsai Philip Pantouw dan Narahubung Donald Pokatong, ini yang kemudian membentuk satu grup komunitas bernama perkumpulan Torang Matuari, sudah melaksanakan sebanyak dua kali diskusi. Sebelumnya diskusi yang sama dilakukan di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, 4 Februari 2025 lalu.

Diharapkan hasil diskusi ini, menjadi tahapan awal dari beberapa tahapan diskusi yang akan datang, untuk melahirkan konsep dan program yang aspirasinya akan disampaikan saat bertemu langsung Presiden Prabowo Subianto.

Hasil rumusan diskusi dengan tema: "Ke Kawanuaan dalam Ke Indonesia-an pada Era Pemerintahan Prabowo menuju Indonesia Emas 2045, diharapkan juga dapat menjadi sumbangan pemikiran dan program terhadap laju pembangunan Sulawesi Utara tercinta khususnya dan Indonesia umumnya, khususnya di era pemerintahan Prabowo. (haris/*)

Editor : Tommy Waworundeng
#indonesia emas #prabowo #Pemerintahan #kawanua