Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Ini Kisah Prof Sumitro Djojohadikusumo di Perjuangan Rakyat Semesta, Konseptor Piagam Permesta, Memperjuangkan Pembangunan Daerah dan Desentralisasi

Reza Abdilah • Senin, 3 Maret 2025 | 07:51 WIB
Philip Pantouw saat menjadi keynote address di temu kangen tokoh Permesta, kemarin.
Philip Pantouw saat menjadi keynote address di temu kangen tokoh Permesta, kemarin.

 


MANADOPOST.ID- Philip Pantouw, sang inisiator kegiatan temu kangen para tokoh pelaku Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta), membagikan bagian sejarah penting perjalanan bangsa Indonesia. Dalam bincang-bincang tersebut, adik dari pimpinan Permesta Dr Jan Maximilian Johan, atau dikenal Nun Pantouw, menjelaskan peran penting Prof Sumitro Djojohadikusumo, ayahanda Presiden Prabowo Subianto.

Dari ruang Ochid room lt5, Hotel Four Points by Sheraton Manado, Minggu (2/3) kemarin, dibeber banyak fakta perjuangan dan pengorbanan Permesta, yang dimulai dari Proklamasi Piagam Permesta yang dibacakan Letnan Kolonel Ventje Sumual di Makassar, 2 Maret 1957.

Kata Philip Pantouw mengawali ceritanya, yang kemarin juga didapuk sebagai keynote address, bahwa tidak ada suatu perjuangan tanpa cita-cita. "Saya tidak mau bicara di forum ini, terkait bapak Presiden Prabowo Subianto. Nanti bisa saja salah paham, salah pengertian, jangan sampai ada tanggapan pro kontra. Kita tidak masuk ke ranah itu," katanya.

Dirinya memulai penjelasannya kaitan Prof Sumitro Djojohadikusumo, perannya yang tidak hanya saat tengah perjuangan Permesta atau pasca Permesta. "Pak Sumitro berperan sejak awal," tegasnya. Bahkan digolongkan termasuk pencetus atau konseptor yang membuat piagam Permesta di Makasar. "Ada foto dan dokumentasi pak Sumitro bertemu dengan pak Sumual dan pak Runturambi dan lain-lain (tokoh Permesta) pada tahun 1957," tambahnya.

"Ini bukti sejarah bahwa pak Sumitro Djojohadikusumo adalah penggagas Permesta dari awal," katanya sembari meluruskan kaitan tuduhan pak Sumitro adalah seorang koruptor. "Jadi prof Sumitro Djojohadikusumo hijrah ke luar negeri untuk menyelamatkan diri, bukan karena beliau seorang koruptor. Dia harus lari ke luar negeri ketika itu, karena bung Karno, Subandrio cs, sudah siap untuk menangkap beliau. Karena sudah bocor bahwa pak Sumitro adalah konseptor dari Permesta ini," terangnya.

Jadi itu alasannya, kata Pantouw, menegaskan bukan prof Sumitro bukanlah koruptor. "Ada juga yang berkomentar bahwa dirinya kan diluar negeri beberapa tahun, hidupnya senang dan enak. Jadi dia dengan hasil korupsi mensuplai senjata untuk Permesta, katanya," ungkap dia sembari menjelaskan kisah sebenarnya yang terjadi. "Nah, kebetulan cerita ini saya tahu. Saya dengar langsung dari para pelaku (Permesta). Pernah dengan pak Ventje Sumual, juga dari pak Abe Mantiri, juga dari kakak saya sendiri. Bahwa pak Sumitro di luar negeri, membatu Permesta dengan duit-duit Permesta yang tersimpan di bank Swiss. Ini dari hasil barter kopra dan lain-lain," katanya.

Bahkan dirinya mengungkapkan yang umur diatasnya pasti ingat, ada kapal yang muat kopra dari Bitung, kemudian dia kembali lagi ke Manado, untuk bawa stoomwals, buldoser, bawa aspal untuk memulai pembangunan ini. "Dan konsep pembangunan daerah ini, desentralisasi, otonomisasi, itu semua konsep dari prof Sumitro Djojohadikusumo, yang banyak orang belum tau pada saat ini," tegasnya.

Diibaratkan dalam peperangan, mempunyai pedang dengan dua sisi yang tajam. Ada Kekuatan militer dan kekuatan ideologi politik. "Pak Ventje Sumual, pak Warouw, pak Kawilarang dan lainnya, adalah berada pada sisi pedang pejuang fisik. Dan pak Sumitro serta nama-nama lain, mereka adalah sisi lain dari pedang yang tajam ini," ungkapnya. "Jadi pak Sumitro Djojohadikusumo di luar negeri, setelah terjadi pemberontakan Permesta, duit-duit Permesta disimpan di bank Swiss. Nah ketika itu, yang punya pin di bank Swiss kakak saya, Nun Pantouw dan pak Ventje Sumual," jelasnya.

"Kenapa? Karena dia yang melakukan barter-barter kopra. Ditunjuk sebagai pelaksana oleh pak Ventje, karena dia (Nun Pantouw) adalah direktur YKM, Yayasan Kopra Minahasa. Ketika tahun 1958, semua (tokoh Permesta) termasuk kakak saya sudah tidak bisa ke luar negeri. Jadi atas perintah pak Ventje Sumual, pin Bank Swiss itu diberikan kepada pak Sumitro Djojohadikusumo," katanya dihadapan para tokoh Permesta, keluarga, anak, cucu dan kerabat yang ada.

Jadi dirinya kembali menegaskan, prof Sumitro ada di luar negeri, mulai dari Hongkong, Taiwan sampai ke Malaysia, sebelum ke Eropa dan Amerika, itu menggunakan uang Permesta. "Beliau membeli senjata di Taiwan dan Filipina, memakai duit Permesta. Kemudian beliau terlibat secara langsung. Pak Sumitro duduk di atas peti-peti senjata, mendarat di danau Tondano, membongkar muatan di Tasuka (desa)," katanya.

Maka ditegaskan lagi, bahwa prof Sumitro saat keluar negeri kala itu, menggunakan uang Permesta. "Jadi ada yang bilang, apa pak Sumitro terlibat secara fisik? Jelas terlibat. Dia suplai senjata dari hasil korupsi? Tidak. Itu dari uang Permesta," terangnya. "Dan setelah itu, mulai payah, payah, payah, pada tahun 58, 59 dan mendekati 60. Jadi di Malaysia, Tengu Abdul Rahman, mengumpulkan semua di sana. Termasuk pak Sumitro bersama 7 pemuda Minahasa," ungkapnya lagi.

Diketahui kemarin, lagu rohani ini "Waktu Tuhan Pasti yang Terbaik" mengiring, kala para tokoh-tokoh pelaku Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) berkumpul. Dalam balutan temu kangen, mengenang perjuangan 68 tahun silam, 2 Maret 1957.
Temu kangen pelaku Permesta. Ada 31 pelaku perjuangan hadir langsung di ruang Ochid room lt5, Hotel Four Points by Sheraton Manado. Total ratusan orang turut serta, di dalamnya ada keturunan dan kerabat serta keluarga.

Tema "Perjuangan dan Pengorbanan Kita Tidak Sia-sia, Tuhan Telah Menjawabnya", digaungkan. Mengangkat sub tema "Aku hendak bersyukur dan bermazmur bagi Tuhan, sebagai kenangan perjuangan dari torang untuk torang samua".
Disyukuri dalam penyertaan Tuhan dari 1957 hingga 2025, dengan luapan peribadatan, Minggu (2/3). Dipimpin Pdt Dr RAD Siwu, mengambil bacaan dalam Kolose 2 ayat 1, 1 Timotius 1 ayat 18 dan Ibrani 10 ayat 32-33. Menguatkan dengan kisah Tuhan Yesus bersama murid-murid, hingga kisah Paulus dengan surat-suratnya.

Menurutnya nilai-nilai dari perwujudan kehambaan harus dibuktikan dengan pelayanan. "Permesta ini perjuangan kita tidak sia-sia. Itu pengorbanan yang dilakukan. Dengan demikian apa yang dilakukan Permesta yang adalah perjuangan rakyat semesta. Harus ada keadilan, perdamaian dalam kehidupan manusia. Maka nilai perjuangan Permesta seperti ini dilihat dari Alkitab," katanya.

Jadi perjuangan ini katanya, Tuhan telah menjawabnya. "Kita sudah berjuang, bukan hanya untuk bkelompok kita, untuk diri saya, tapi untuk seluruh manusia," ungkapnya. "Kiranya kita harus menghayati kembali nilai dan empiris perjuangan. Juga menjadi beban kita agar nilai perjuangan ini bisa dilanjutkan. Agar supaya generasi muda bisa diingat-ingatkan. Ini yang jadi nilai positif dari pejuang. Tuhan telah menjawabnya. Artinya perjuangan ini bukan untuk membongkar negeri ini, namun untuk keadilan dan perdamaian bersama untuk keesaan," tegasnya lagi.(rez)

Editor : Reza Abdilah
#peran #permesta #Sumitro Djojohadikusumo