MANADOPOST.ID-Air di hulu Sungai Tikala mulai turun dan jernih, tidak lagi kabur. Ini pantauan Manado Post pukul 11.50 di Sungai Saluhasem di Desa Kamangta, yang merupakan hulu Sungai Tikala.
Melihat kondisi air di hulu Sungai Tikala ini, menandakan volume air sungai mulai turun. Kendati hujan masih terus menggujur bagian hulu daerah aliran sungai (DAS) Tikala.
Perlu diketahui, sungai yang melewati Tikala ini, hulunya dari Kaki Gunung Mahawu. Kemudian melewati perkebunan Kembes, Koka, dan melewati Desa Kamangta membentuk Sungai Saluhasem.
Kemudian mengalir terus melewati Desa Sawangan dan Rote membentuk Sungai Sawangan. Di Kamangta dan Sawangan, sungai ini bertemu dengan dua anak sungai. Anak sungai Ranompung dan anak Sungai dari perkebunan Kuwil.
Selanjutnya masuk ke Manado membentuk Sungai Tikala. Di Manado, Sungai ini melewati Kelurahan Malendeng, Desa Tikela, Kelurahan Paal 4, Perkamil, Ranomut, Banjer, Dengan Dalam, Banjer, Kampung Merdeka, Tikala Ares, Dendemgan Luar, Komo Luar, melewati Jembatan Miangas dan bertemu dengan aliran Sungai Tondano.
Banjir bandang yang menerjang Kota Manado tahun 2014, penyebabnya, luapan air Sungai Tikala ini. Semua kelurahan di atas, porak poranda akibat terjangan Sungai Tikala ini.
Bahkan beberapa jembatan putus. Lapangan Sparta Tikala tertutup air. Pacuan Kuda Ranomut rata dengan air. Itu kejadian tahun 2014 yang disebabkan luapan air Sungai Tikala atau juga disebut Sungai Sawangan yang di hulunya disebut Sungai Saluhasem.
Jadi warga sebagian Kecamatan Tikala, perlu diberi tahu bahwa kondisi hulu Sungai Tikala mulai membaik. Air sungainya tidak lagi keruh. Atau mulai jernih. Tidak ada lagi gelondongan kayu, pojon bambu, pohon pisang, dan batang batang pohon lainnya yang hanyut.
Pantauan wartawan Manado Post hingga pukul 12.00 Wita, volume air juga mulai turun. Berbahaya kalau air sungainya sudah mendekati jembatan. Sudah banyak pohon yang hanyut. Batu batu juga terdengar ikut hanyut, itu tandanya akan ada kepala guhi yang bisa menenggelamkan pemukiman di bantaran sungai. Tetapi tetap harus waspada. (*)
Editor : Tommy Waworundeng