MANADOPOST.ID - Jika dulu "mading" dikenal sebagai dinding penuh informasi dalam bentuk dua dimensi, maka di Xpresi Party telah melampaui batas itu. Tahun ini, mading menjelma menjadi karya tiga dimensi yang monumental dengan nama Workspace Competition.
Kompetisi ini membuat area Manado Town Square 3 menjadi sebuah pameran mini yang menantang logika ruang, rasa seni, dan daya khayal para pelajar SMA/SMK sederajat se-Sulawesi Utara. Dengan tema besar Movie Mania, para peserta diajak menembus layar film, lalu menghadirkannya dalam bentuk nyata—setiap sudutnya berbicara, setiap detailnya menyampaikan narasi.
Tema yang luas ini membuka pintu kreasi selebar-lebarnya: mulai dari karakter legendaris hingga lanskap sinematik, dari pesan tersembunyi hingga keajaiban visual. Dan dari puluhan karya yang ditampilkan, juri akhirnya menobatkan tiga tim terbaik setelah melalui proses penjurian ketat pada puncak acara, Jumat (23/5).
Mereka adalah Tim MIS WARRIORS dari Manado Independent School sebagai Juara 1, SMANTU HEBAT dari SMA Negeri 7 Manado di posisi Juara 2, dan SAMPIRI dari SMA Kristen 2 Binsus Tomohon yang menyabet Juara 3. Namun lebih dari sekadar deret pemenang, di balik masing-masing tim tersimpan cerita penuh warna. Soal kegigihan, kompromi, kreativitas, dan persahabatan.
Tim MIS WARRIORS tak hanya menjuarai kompetisi, mereka berhasil menyatukan perbedaan menjadi kekuatan. Mengusung film Jumbo sebagai konsep utama, tim yang terdiri dari Kayla Kandou, Gloria Jusuf, Esther Laluyan, dan Laurensia Talim itu mengubah kisah gajah raksasa yang kesepian menjadi instalasi tiga dimensi yang menyentuh.
“Awalnya kami sulit menyatukan visi karena punya preferensi film yang beda-beda,” ungkap Kayla. Apalagi, keempat anggota berasal dari kelas dan jenjang yang berbeda—ada yang dari kelas seni rupa, ada pula yang dari seni kriya.
Namun justru di sanalah letak kekuatan mereka. Yang satu menggambar, yang lain membangun, dan perlahan karya itu terbentuk dari malam-malam kolaboratif yang serba terbatas waktu.
“Kami harus pintar-pintar atur jadwal supaya bisa ketemu dan kerja bareng. Tapi begitu film Jumbo dipilih, semuanya mengalir. Kami tonton bareng, bahas bareng, lalu mimpi bareng,” tambah Gloria. Dengan detail yang rapi dan storytelling yang menyentuh, karya mereka tidak hanya menonjol secara visual, tetapi juga menyampaikan pesan empati yang kuat.
Jika tim MIS WARRIORS menang lewat kedalaman rasa, maka SMANTU HEBAT datang dengan gebrakan teknologi.
Mengusung tema Jurassic World, mereka tak main-main: sebuah robot T-Rex bergerak gagah di tengah instalasi mereka, seolah baru saja melangkah keluar dari layar bioskop. Namun, di balik gemerlap karya itu, ada proses yang nyaris seperti misi tak mungkin.
“Kami cuma punya waktu tiga—paling lama empat hari. Hari pertama bahkan belum mulai kerja, masih sibuk urus anggaran,” cerita Muhammad Risky Putra Male, sambil tertawa kecil mengingat masa-masa lembur di sekolah.
Tim yang juga beranggotakan Rocky Rottie, Stevany Grace Karundeng, dan Keyfin Suratman itu membagi tugas berdasarkan keahlian. Ada yang ahli di robotik, ada yang fokus pada patung dan miniatur. Tapi meski peran sudah dibagi, mereka tetap saling bantu.
“Waktu bikin robot T-Rex, kami sempat ribut sedikit karena beda pendapat soal desain. Tapi itu proses sih. Lama-lama kami belajar komunikasi yang lebih terbuka,” kata Keyfin.
Yang tak terlupakan bagi mereka bukan hanya hasil akhir, tetapi kebersamaan saat lembur hingga larut malam, saling menyemangati dengan nyanyian dan camilan sederhana. “Itu seru banget. Capek, tapi bareng-bareng,” lanjutnya.
Sementara itu, dari kota sejuk Tomohon, tim SAMPIRI hadir membawa semangat lokalitas dan cerita penuh dedikasi. Nama tim ini sendiri diambil dari nama burung endemik Talaud yang terancam punah—sebuah simbol bahwa di balik karya mereka, ada pesan besar tentang identitas dan pelestarian. “Saya dan Don orang Talaud, jadi kami ingin memperkenalkan burung Sampiri ke publik lewat karya ini,” jelas Christian Maarende, salah satu anggota tim yang juga pernah mengikuti lomba ini tahun lalu.
Berbekal pengalaman dari kegagalan sebelumnya, mereka datang dengan tekad baru. “Tahun lalu kami gagal karena miskomunikasi. Tahun ini, kami belajar dari itu,” kata Don Maloring.
Tantangan terbesar mereka bukan hanya menentukan ide di tengah begitu banyak pilihan, tapi juga mengejar waktu. Mereka baru memulai seminggu sebelum lomba, dan salah satu komponen paling mencolok—Menara Eiffel dari tusuk sate—dikerjakan selama tiga hari penuh. “Itu paling niat yang pernah kami buat,” kata Clara Lolaroh.
Meskipun dibagi tugas secara teknis—yang satu pegang gergaji, yang lain detail minion—semuanya tetap dikerjakan bersama. “Proses diskusinya juga panjang. Tapi begitu sepakat, kami kerja total.”
Ketiga tim ini menunjukkan bahwa Workspace Competition bukan sekadar lomba, melainkan panggung pertunjukan kolaborasi, imajinasi, dan daya tahan. Ada yang membawa pesan sosial, ada yang mendobrak dengan teknologi, ada pula yang mengusung budaya lokal. Semua bersatu dalam satu benang merah: semangat untuk menciptakan karya yang hidup, yang bisa dirasakan, bukan hanya dilihat.
Harapan pun mengalir dari para peserta untuk masa depan Xpresi Party. “Kami harap tema-tema berikutnya makin menantang dan mendorong kreativitas,” ucap Laurensia dari tim MIS WARRIORS.
“Semoga tahun depan lebih ramai, lebih heboh!” sambung Risky dari SMANTU HEBAT. Sementara Christian dari SAMPIRI menutup dengan nada optimis, “Kami ingin ikut lagi, dan membawa karya yang lebih kuat dari tahun ini. Yang penting, terus belajar dan terus berkarya.”
Xpresi Party 2025 mungkin telah usai. Namun karya-karya tiga dimensi yang ditinggalkan para peserta ini akan terus hidup, menjadi inspirasi bahwa layar imajinasi tak pernah benar-benar gelap—selama masih ada anak-anak muda yang berani menyalakan kreativitasnya. (tkg)
Editor : Kenjiro Tanos