Para tokoh yang hadir antara lain Philip Pantouw, Rio Sumual, Herry Warbung, Dolfie Kotambunan, Welly Warouw, Tommy Sigar, dan Jeffry Pay. Mereka menyepakati pentingnya mengabadikan nama Prof Soemitro dan Dora Sigar di ruang publik di Minahasa, baik dalam bentuk penamaan jalan maupun fasilitas umum lainnya.
“Prof Soemitro adalah tokoh besar yang punya jasa nyata bagi masyarakat Minahasa. Ia pernah dianugerahi gelar adat Tonaas Wangko Umbanua oleh Majelis Kebudayaan Minahasa (MKM),” ungkap Philip Pantouw, yang juga Ketua Majelis Keluarga Permesta. “Ia dikenal membantu banyak orang Minahasa, baik secara pribadi maupun dalam kapasitasnya sebagai ekonom dan negarawan," sambungnya.
Selain Prof Soemitro, sosok Dora Siga, istri dari Prof Soemitro, juga dinilai layak dikenang. Ia adalah mantan perawat yang ikut mendedikasikan hidupnya untuk membantu sesama. “Beliau punya darah Minahasa dan peran kemanusiaannya layak dikenang. Bahkan masyarakat Langowan sudah pernah mengusulkan agar nama beliau diabadikan menjadi nama Rumah Sakit Noongan,” kata Philip.
Usulan tersebut juga memuat nama-nama tokoh Permesta seperti Ventje Sumual, Alex Kawilarang, dan Joop Warouw agar turut diabadikan di berbagai jalan di Minahasa. Menurut para tokoh yang hadir, langkah ini merupakan bentuk penghormatan terhadap warisan sejarah dan kontribusi besar mereka bagi bangsa.
Yang menarik, gagasan ini muncul bersamaan dengan terpilihnya Prabowo Subianto, putra dari Prof Soemitro dan Dora Sigar, sebagai Presiden Republik Indonesia ke-8. “Namun ini bukan tentang pencitraan. Ini murni bentuk terima kasih dan penghargaan warga Minahasa kepada keluarga yang sudah banyak berjasa,” tegas Philip.
Dalam diskusi tersebut, para tokoh juga menyuarakan dukungan agar Prof Soemitro Djojohadikusumo diusulkan menjadi Pahlawan Nasional. Mereka berencana menggalang dukungan publik serta melibatkan lebih banyak tokoh dan elemen masyarakat Minahasa, termasuk camat, hukum tua, anggota BPD, dan DPRD, melalui forum-forum lanjutan.
“Kami akan lanjutkan diskusi ini secara terbuka, supaya gerakan ini benar-benar lahir dari aspirasi rakyat Minahasa,” tambah Rio Sumual. Usulan ini menjadi langkah awal menuju penghormatan yang layak bagi para tokoh yang telah memberi kontribusi penting, bukan hanya bagi Minahasa, tetapi juga bagi sejarah bangsa Indonesia.(ler)