MANADOPOST.ID — Melihat data daftar 10 provinsi penghasil kelapa terbesar di Indonesia, Provinsi Sulawesi Utara yang dijuluki Daerah Nyiur Melambai yernyata bukan nomor satu.
Kelapa sendiri saat ini lagi menjadi komoditi primadona. Karena harganya naik mencapai 3 kali lipat.
Pantauan wartawan Manado Post di Sulawesi Utara, harga kelapa butir naik 300 persen. Laurens Mandagie, salah satu pembeli kelapa butir di Kabupaten Minahasa, mengaku harga kelapa butir saat ini naik 3 kali lipat.
"Tahun lalu harganya menyedihkan. Kasian petani kelapa. Karena harganya tahun lalu hanya Rp1.300 per kilogram. Satu kilogram biasa satu butir kelapa. Tetapi saat ini petani sejahtera. Karena harga melonjak mencapai Rp4.700 per kilogram atau per butir," ujar Laurens Mandagie.
Begitu juga harga kopra atau buah kelapa yang sudah diasapi. Pantauan wartawan Manado Post di beberapa pembeli kopra di Manado, harga kopra saat ini melonjak di kisaran Rp21.000 sampai Rp23.000 per kilogram.
"Naik tiga kali lipat dari harga sebelumnya yang hanya di kisaran Rp7.000 per kilogram," kata salah satu pembeli kopra di Manado Ino Pohajouw.
"Kalau saya saat ini membeli kopra di harga 21 ribu per kilogram. Jadi kalau 100 kilogram, petani dapat sekitar Rp2,1 juta," ujar Ino.
Lanjut Ino, harga saat ini tertinggi sepanjang sejarah. "Sudah sekitar 20 tahun saya membeli kopra, baru ini harganya melonjak sampai tiga kali lipat," ungkap Ino.
Kenaikan harga kelapa ini sendiri dipicu oleh pembelian besar besaran dari China. Di mana mmulai Sabtu 12 April 2025, kelapa hijau dan segar dari Indonesia resmi diekspor ke Fuzhou, China.
Dubes RI untuk Republik Rakyat Tiongkok (RRT) Djauhari Oratmangun, kepada Manado Post mengatakan, ini perjuangan Dubes sejak 2023 dan akan mendatangkan kesejahteraan bagi daerah daerah penghasil kelapa di Indonesia. Ternasuk petani kelapa di Sulawesi Utara. Karena Sulut merupakan daerah produsen kelapa terbesar di Indonesia.
Ekspor kelapa ke China ini akan mendatangkan pendapatan sebesar 10 miliar yuan bagi masyarakat petani kelapa di Sulut.
"Satu yuan sama dengan Rp2.200. Kalau 10 miliar Yuan, setara sekira 22 triliun rupiah," ujar Dubes Djauhari yang juga putra Sulawesi Utara.
Karena itu Dubes asal Desa Kamangta Kecamatan Tombulu Kabupaten Minahasa ini, mengimbau petani kelapa di Sulut agar tidak sembarang menebang tanaman kelapa.
Dubes mengajak petani di Sulut agar lakukan penanaman kelapa. Karena industri China membutuhkan bahan baku tanaman kelapa untuk jangka panjang. "China mau kelapa dari Sulawesi Utara. Karena kualitasnya lebih bagus dibanding kelapa dari negara lain bahkan dari provinsi lain," ujar Djouhari yang juga mantan Dubes RI untuk Rusia.
Kenaikkan harga kelapa ini tentu merupakan berkat Tuhan bagi masyarakat Sulut yang mayoritas petani kelapa. Tetapi sayangnya banyak petani yang sudah menebang pohon kelapanya dan tidak melakukan peremajaan.
Membuat produksi kelapa Sulut menurut. Sulut dijuluki daerah Nyiur Melambai, karena merupakan daerah terbesar penghasil kelapa di Indonesia. Tetapi sekarang ini Sulut bukan lagi nomor 1 terbesar penghasil kelapa. Lantas provinsi mana yang nomor 1?
Data daftar provinsi penghasil kelapa terbesar di Indonesia yang diperoleh Manado Post, ternyata Provinsi Riau tercatat sebagai penghasil kelapa terbesar di Indonesia. Dengan total produksi mencapai 395,0 ribu ton.
Capaian ini menempatkan Riau di posisi puncak dalam daftar sepuluh besar daerah penghasil kelapa nasional.
Sulut sendiri menempati posisi kedua, dengan produksi kelapa sebesar 271,1 ribu ton. Provinsi ini memang dikenal sebagai wilayah dengan perkebunan kelapa yang luas dan produktif, menyumbang jumlah signifikan dalam rantai pasok kelapa nasional.
Jawa Timur menyusul di peringkat ketiga dengan produksi sebesar 244,5 ribu ton. Produksi kelapa di provinsi ini tergolong stabil dari tahun ke tahun, menjadikannya salah satu tulang punggung sektor perkebunan kelapa di Pulau Jawa.
Keempat, Maluku Utara menempati posisi keempat dengan produksi 211,8 ribu ton. Sebagai wilayah kepulauan, provinsi ini memiliki perkebunan kelapa yang tersebar di berbagai pulau, yang menjadi salah satu keunggulan geografisnya.
Di posisi kelima, Sulawesi Tengah mencatatkan produksi sebesar 199,2 ribu ton, menunjukkan potensi besar wilayah ini dalam sektor kelapa.
Sementara itu, Jawa Tengah berada di urutan keenam dengan 172,1 ribu ton, memperkuat kontribusi Pulau Jawa dalam produksi kelapa nasional.
Provinsi Jambi menempati posisi ketujuh dengan produksi kelapa sebanyak 115,8 ribu ton.
Sementara itu, Maluku menyumbang 106,7 ribu ton, menjadikannya 8 besar penghasil kelapa di Indonesia.
Sumatera Utara mencatatkan angka produksi 100,0 ribu ton dan berada di posisi kesembilan.
Jawa Barat menutup daftar sepuluh besar dengan total produksi 89,1 ribu ton, memperlihatkan distribusi yang cukup merata antara wilayah barat dan timur Indonesia dalam sektor ini. (*)
Editor : Tommy Waworundeng