MANADOPOST.ID- Di balik aksi heroik masyarakat desa Gangga I yang berhasil selamatkan 369 korban terbakarnya KM Barcelona di perairan Talise, Minggu (20/7), ternyata ada mukjizat yang Tuhan berikan bagi masyarakat Gangga I.
Mukjizat ini diceritakan Hukum Tua Gangga I Rommy Charles Lopo langsung kepada Manado Post, Rabu (23/7) tadi malam.
Bagaimana ceritanya? Ceritanya diawali ketika masyarakat Gangga siang itu lagi santai santai di rumah, setelah pulang gereja siang.
"Masyarakat baru pulang gereja. Setelah makan siang, masyarakat santai santai di rumah. Ada yang santai di dalam rumah, di depan rumah. Tapi banyak juga yang santai di belakang rumah. Karena belakang rumah warga adalah pantai pasir putih," cerita Hukum Tua Charles.
Jarak dapur belakang rumah dengan pantai hanya sekitar 20 sampai 30 meter. Sepanjang pantai, banyak terparkir perahu perahu nelayan yang diparkir tepat di belakang rumah warga.
Anak anak berlarian bermain di pantai. Sebagian orang tua khusus kaum Bapa, ada yang terlihat tidur tiduran di pangkuan istri. Sambil cabut rambut putih.
Jarum jam saat itu baru menunjukkan sekira pukul 14.00 Wita. Tiba tiba masyarakat melihat kepulan asap di atas kapal yang tak jauh dari perairan Talise. "Masyarakat melihat di tengah laut ada kapal yang terbakar. Masyarakat langsung tergerak semua menuju ke pantai sambil memanggil manggil tetangga. Tidak ada panggil pakai pengeras suara. Karena listrik belum menyalah. Melihat asap di atas kapal makin besar, tanpa komando, dengan sigap masyarakat langsung menuju ke perahu masing masing yang ditambatkan di belakang rumah," cerita kepala desa Gangga I.
"Lalu mukjizatnya di mana?" Tanya wartawan Manado Post.
Hukum Tua melanjutkan, "Mukjizatnya saat itu air murah," kata pemimpin desa tersebut.
Manado Post penasaran, tanya lagi ke Pak Kades. "Apa itu air murah Pak? Apa mukjizatnya air murah?"
Hukum Tua atau Kades Rommy Charles Lopo pun menjelaskan, "Air murah itu sebutan masyarakat Gangga jika air laut sudah naik mendekati belakang rumah penduduk," jelas Lopo.
Di jam jam itu air laut biasanya masih surut. "Air nanti naik sekira jam 3 dan jam 4 sore. Tapi saat musibah KM Barcelona terbakar di tengah laut sekitar jam 2 siang, air laut di Gangga sudah naik," cerita Kepala Desa.
"Bapak bisa bayangan kalau air nanti naik jam 3 sampe jam 4 sore. Karena biasanya air nanti naik jam 4 sore. Berarti kami harus menunggu dua jam lagi baru bisa menurunkan perahu kami ke laut," kata Hukum Tua.
Lanjut dijelaskan, kalau air turun, mereka tidak bisa melaut. Karena air laut surut cukup jauh. Sehingga Gangga akan kesulitan mendorong perahu dari belakang rumah sampai di laut.
"Tapi puji nama Tuhan Yesus, saat musibah menimpa KM Barcelona yang membawa 500 lebih penumpang, air murah atau pas air sudah naik. Walaupun sebetulnya belum jamnya air naik. Jam 2 air masih surut. Tapi Tuhan kasih air naik, sehingga masyarakat Gangga dengan mudah mengeluarkan perahu perahu mereka ke laut dan langsung menyelamatkan 369 penumpang yang saat warga Gangga tiba, semua sudah di laut baik anak anak, bayi, balita, sampai lansia," ujar Hukum Tua.
Hanya 30 menit, semua perahu nelayan Gangga mulai dari Pajeko sampai katinting, sudah berada di tengah tengah ratusan korban yang bertahan di lautan.
Jumlah penduduk Gangga sendiri ada 600 kepala keluarga. Jumlah jiwa sekitar 1.300. "Mayoritas provesi sebagai nelayan. Nelayan Gangga terkenal nelayan paling hebat dalam menangkap ikan di laut. Sayangnya kami tidak punya listrik 24 jam. Sehingga kami tidak bisa bikin es batu untuk menyimpan ikan hasil tangkapan warga. Hasilnya dengan terpaksa dijual murah ke pedagang ikan di likupang," ujar Hukum Tua Gangga I Rommy Charles Lopo kepada wartawan Manado Post. (*)
Editor : Tommy Waworundeng