MANADOPOST.ID— BMKG telah mengakhiri peringatan dini tsunami di Talaud, imbas gempa Rusia.
"Seluruh marigram (catatan tsunami) di Indonesia sudah cenderung meramping dan mengecil gambaran energi sudah terdisipasi," kata Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono, Rabu malam (30/7).
Talaud dan sembilan daerah lainnya di Indonesia, sebelumnya sempat berstatus waspada.
Di Talaud, BMKG mencatat adanya kenaikan muka air laut setinggi 0,05 meter di Pelabuhan Beo pada pukul 16.14 WITA.
Sejak diumumkan masuk salah satu daerah yang berpotensi terkena tsunami, warga Talaud terpantau tenang. “Terlihat walaupun sudah ada peringatan waspada dari BMKG, aktivitas warga tetap berjalan seperti biasa. Bahkan setelah jam yang diprediksi akan terjadi tsunami, tidak terjadi apa-apa di Talaud,” ujarnya.
Meski kondisi terpantau aman, pemerintah daerah tetap mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan mengikuti informasi resmi dari BMKG guna mencegah kepanikan dan kesimpangsiuran informasi.
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud juga, melalui surat edaran resmi yang ditandatangani oleh Plt. Sekkab Daud Malensang, telah menghimbau seluruh camat, kepala desa/lurah, serta masyarakat pesisir untuk meningkatkan kesiapsiagaan, termasuk memantau informasi terkini dan menyiapkan jalur evakuasi apabila diperlukan.
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono menerangkan, gempa di wilayah lepas pantai Semenanjung Kamchatka, Rusia, telah memicu peringatan dini tsunami di kawasan Pasifik, termasuk Indonesia. Pihaknya mencatat adanya kenaikan muka air laut di beberapa wilayah Indonesia bagian timur sebagai respons terhadap aktivitas tektonik tersebut.
“Kenaikan muka air laut terdeteksi di beberapa titik pantai Indonesia, dengan ketinggian antara 0,05 hingga 0,2 meter. Kondisi ini menunjukkan bahwa energi tsunami dari gempa Rusia menjalar ke wilayah perairan Indonesia, meskipun tidak signifikan,” ujar Daryono di Jakarta, Rabu (30/7).
“Meski ketinggiannya relatif kecil, kami tetap menetapkan status Waspada untuk sejumlah wilayah pesisir. Artinya, daerah-daerah tersebut berpotensi terdampak gelombang tsunami setinggi di bawah 0,5 meter. Masyarakat kami imbau untuk menjauhi area pantai dan tetap siaga,” terang Daryono.
Ia menambahkan bahwa bentuk pantai, terutama yang menyerupai teluk atau ceruk sempit, dapat memperkuat gelombang tsunami, sehingga potensi dampak lokal tetap perlu diantisipasi. “Kami terus memantau situasi secara real-time dan memperbarui informasi jika ada perkembangan signifikan,” lanjutnya.
BMKG juga menginformasikan bahwa hingga pukul 16.30 WIB telah terjadi 43 gempa susulan (aftershock), dengan magnitudo terbesar mencapai M6,9.
Daryono mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah percaya pada isu atau hoaks terkait tsunami dan hanya mengakses informasi resmi BMKG melalui kanal komunikasi terverifikasi.(****)
Editor : Tanya Rompas