MANADOPOST.ID-Semua Gereja di Sulawesi Utara serentak sama sama serukan doa dan damai buat daerah dan bangsa.
Minta semua umat tidak mudah terprovokasi, memprovokasi, terpancing, menyebarkan ujaran kebencian, cepat percaya dan sebarkan hoaks (berita bohong) serta menyerukan umat tidak anarkis.
Seruan ini untuk menanggapi situasi sosial dan politik yang sedang berkembang di Indonesia, termasuk meningkatnya aksi demonstrasi di berbagai daerah.
Seruan pertama dari GMIM sebagai denominasi terbesar di Sulut. Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) mengeluarkan Seruan Pastoral yang mengajak seluruh warga jemaat untuk tetap tenang, menjadi pembawa damai, dan menolak segala bentuk kekerasan.
Dalam surat bernomor K.1632/PPD.VII/08-2025, GMIM menegaskan bahwa menyampaikan pendapat adalah hak konstitusional setiap warga negara. Namun, kebebasan ini harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab, bermartabat, dan dalam bingkai hukum.
"Segala bentuk aspirasi hendaknya disampaikan dengan cara-cara damai, bukan dengan kekerasan yang melukai sesama maupun merusak lingkungan hidup bersama," tulis BPMS GMIM.
Berikut poin-poin penting dari Seruan Pastoral GMIM:
1. Hak Berpendapat Secara Bijak dan Bermartabat
GMIM mengajak seluruh warga gereja untuk menggunakan hak menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab, menjauhi kekerasan, dan tetap menghormati pemerintah sebagai hamba Allah bagi kebaikan, sebagaimana tertulis dalam Roma 13:1.
2. Penolakan Terhadap Kekerasan dan Anarkisme
Gereja menegaskan bahwa segala bentuk kekerasan dan perusakan bukanlah jalan Kristus. Sebaliknya, umat diminta menjadi pelaku damai, sesuai dengan Mazmur 34:15: "Carilah perdamaian dan berusahalah mendapatkannya."
3. Doa untuk Pemerintah dan Bangsa
GMIM mengajak seluruh jemaat untuk terus mendoakan pemerintah, aparat keamanan, dan rakyat Indonesia agar diberi hikmat dan kebijaksanaan dalam menjaga keadilan dan kesejahteraan bangsa.
4. Menjadi Teladan dan Sumber Pengharapan
Di tengah situasi yang penuh tantangan, GMIM meminta jemaat untuk tampil sebagai teladan dalam perkataan dan tindakan, serta menolak narasi yang memecah belah.
BPMS GMIM juga mengimbau warga gereja untuk tetap tenang, tidak terprovokasi, dan menjaga stabilitas sosial dengan semangat kasih dan tanggung jawab sebagai warga negara.
"Kiranya Tuhan Yesus Kristus, Sang Raja Damai, menolong kita semua untuk tetap setia berjalan dalam kasih, kebenaran, dan kedamaian," tutup surat yang ditandatangani oleh Pdt. Janny Ch. Rende, M.Th (Plt. Ketua Sinode) dan Pdt. Dr. Evert A. A. Tangel, M.Pd.K (Sekretaris Sinode).
Dengan seruan ini, GMIM berharap gereja tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pembinaan karakter warga yang aktif merawat persatuan dan kedamaian Indonesia.
Seruan doa dan damai juga disampaikan GPdI.
Majelis Daerah Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Sulawesi Utara mengeluarkan Seruan Damai yang ditujukan kepada seluruh umat dan masyarakat luas.
Seruan ini ditandatangani langsung Ketua Majelis Daerah GPdI Pdt Yvonne J Awuy Lantu dan Sekretaris Pdt Hanny SD Awuy MTh.
Dengan dasar Firman Tuhan dari Matius 5:9, Roma 12:18, 1 Timotius 2:1-2, 2 Tawarikh 7:14, dan Yeremia 29:7, GPdI menekankan peran gereja sebagai garam dan terang dunia—menjadi penyejuk, pembawa damai, serta perekat persaudaraan di tengah masyarakat.
Dalam pernyataan resminya, GPdI Sulut menegaskan komitmen untuk menolak segala bentuk kekerasan, dan mengajak umat untuk berdiri bagi kebenaran dengan cara yang lembut, sopan, dan penuh kasih.
Berikut poin-poin utama Seruan Damai tersebut:
1. Menjaga sikap dan perkataan — berbicara dengan sopan dan tidak terpancing emosi maupun hinaan.
2. Menyaring informasi — memeriksa kebenaran berita, menolak hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian.
3. Taat pada aturan hukum — menyampaikan pendapat dengan damai dan tertib tanpa merusak fasilitas umum.
4. Mengutamakan dialog — saling mendengar dan melibatkan pemimpin rohani sebagai penengah bila diperlukan.
5. Menjadikan gereja sebagai rumah aman — menyediakan ruang doa, konseling singkat, dan akses bantuan.
6. Mendukung generasi muda — mengajarkan etika bermedia, cara cek fakta, dan bagaimana menanggapi hoaks secara bijak.
7. Membangun budaya doa — menetapkan waktu doa keluarga setiap hari untuk bangsa, pemimpin, dan aparat keamanan.
Sekretaris Majelis Daerah GPdI Sulut, Pdt. Yronce LyAwry Late, menegaskan bahwa gereja tidak boleh tinggal diam di tengah situasi bangsa yang penuh tantangan. Gereja harus menjadi kekuatan rohani yang meneguhkan damai sejahtera dan persatuan nasional.
“Kiranya Api Pentakosta meneguhkan kita menjadi pembawa damai: tegas dalam kebenaran, lembut dalam kasih, dan setia menjaga persatuan. Tuhan Yesus memberkati Indonesia. Shalom.”
Dengan seruan ini, GPdI Sulut berharap seluruh umat Kristen dapat menjadi pionir perdamaian, pelaku kebenaran yang penuh kasih, serta agen pemulihan bangsa yang tengah berjuang melewati masa sulit.
Seruan Majelis Pekerja Sinode GMIST
Menyikapi gelombang demonstrasi yang terjadi di Ibu Kota dan sejumlah kota besar dalam beberapa hari terakhir, Majelis Pekerja Sinode (MPS) Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud (GMIST) mengeluarkan Surat Edaran berupa Seruan Pastoral bertajuk "Kamulah Garam dan Terang Dunia".
Aksi demonstrasi yang semula merupakan bentuk keprihatinan terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak pada rakyat, serta perilaku legislatif yang dianggap tidak peka terhadap penderitaan masyarakat, berubah menjadi kerusuhan anarkis setelah ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan tertentu.
Tragedi semakin dalam dengan meninggalnya seorang pengemudi ojek online, Affan Kurniawan (21), akibat tindakan represif aparat keamanan. Korban jiwa, perusakan fasilitas umum, pembakaran, hingga penjarahan rumah pejabat pun menjadi potret kelam dari aksi yang kehilangan arah.
Dalam seruannya, GMIST menyampaikan empati mendalam kepada keluarga korban dan mengajak seluruh umat, khususnya warga GMIST yang tersebar di 10 provinsi, untuk terus mendoakan dan mendukung proses pemulihan serta tetap menjaga kedamaian.
Majelis Pekerja Sinode menyerukan:
Kepada masyarakat dan umat beriman: agar menyampaikan kritik kepada pemerintah secara santun dan beradab, serta menjaga diri dari tindakan provokatif.
Kepada Pemerintah dan DPR: untuk melakukan evaluasi kebijakan secara mendalam dan lebih peka terhadap kebutuhan rakyat, terutama kalangan yang paling terdampak.
Kepada aparat keamanan: untuk menghindari kekerasan dan menjunjung tinggi harkat serta martabat manusia dalam menjalankan tugas.
Kepada anggota jemaat GMIST yang menjabat di pemerintahan, legislatif, kepolisian, maupun militer: agar tetap menjadi "garam dan terang dunia", menjaga keseimbangan, keadilan, serta menjadi teladan dalam menjalankan tugas pelayanan publik.
Kepada seluruh jemaat GMIST di manapun berada: agar tidak mudah terprovokasi dan ikut bertanggung jawab atas kehidupan yang damai serta pembangunan bangsa.
Ketua Umum GMIST, Pdt. Dr. Welman Boba, bersama Sekretaris Umum Pdt. Clementie Enggeline Oleng, menutup surat edaran dengan menyerukan agar seluruh umat tetap berpengharapan, dan terus memuliakan Tuhan di tengah situasi bangsa yang penuh tantangan.
"Dalo keta'eng Su Mawu, Pujian hanya kepada Tuhan."
Majelis Sinode Am Gereja-Gereja di Sulutteng Serukan Doa dan Solidaritas di Tengah Pergumulan Bangsa
Dalam surat edarannya, Majelis Pekerja Harian Sinode Am Gereja-Gereja di Sulawesi Utara dan Tengah (Sulutteng) menyampaikan Seruan Penggembalaan kepada seluruh warga gereja dan masyarakat luas.
Seruan ini disampaikan sebagai bentuk keprihatinan dan tanggung jawab iman terhadap kondisi Indonesia yang saat ini diwarnai oleh ketegangan sosial serta jatuhnya korban jiwa dalam beberapa aksi demonstrasi yang terjadi belakangan ini.
Dalam pernyataannya, Majelis Sinode mengajak seluruh anak bangsa untuk melihat pergumulan yang terjadi di tanah air sebagai pergumulan bersama. "Kematian beberapa orang dalam proses demonstrasi mendatangkan duka mendalam bagi keluarga, dan seharusnya menjadi duka kita bersama," tulis seruan tersebut. Gereja menyampaikan empati mendalam bagi para keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta, dan mendoakan agar mereka diberi kekuatan oleh Tuhan dalam menjalani kehidupan ke depan.
Lebih lanjut, gereja menyerukan agar pemerintah menunjukkan keseriusan dan kebijaksanaan dalam menjawab kesenjangan ekonomi dan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Gereja menekankan bahwa di tengah kesulitan hidup yang kian berat, rakyat membutuhkan kehadiran negara yang adil dan berpihak kepada kesejahteraan semua lapisan masyarakat.
Majelis Sinode juga menegaskan pentingnya mendukung gerakan-gerakan kritis yang konstruktif untuk pembangunan Indonesia yang lebih baik. Namun, gereja mengingatkan agar setiap penyampaian aspirasi dilakukan dengan cara yang damai dan tidak merusak. "Kita mulai dari diri sendiri serta saling mengingatkan untuk menghindari bentuk-bentuk aksi destruktif yang justru merugikan," lanjut isi seruan.
Sebagai penutup, Majelis Pekerja Harian Sinode Am Gereja-Gereja di Sulutteng menyerahkan bangsa Indonesia ke dalam perlindungan dan pertolongan Tuhan, sambil terus berdoa agar Roh Kudus menuntun perjalanan bangsa ini menuju masa depan yang lebih adil dan damai.
Seruan ini ditandatangani oleh Ketua Majelis, Pdt. Jaqueline S. Sumilat, S.Th, dan Sekretaris, Gbl. Fetrisia Y. Alling, M.Th, pada tanggal 1 September 2025 di Manado.(*)
Editor : Tommy Waworundeng