MANADOPOST.ID-5 Bank terima Rp200 triliun, bisa sisihkan kredit buat Calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) sebagai pahlawan devisa.
Karena untuk mengejar pertumbuhan ekonomi 6 persen, salah satu sumbernya adalah devisa.
Hal ini dikatakan oleh Febry Paendong sebagai Pemimpin Lembaga Pelatihan Keterampilan (LPK) Gambatte Mirai Manado. Di mana sampai saat ini sudah melatih dan mengirim 200 pekerja migran Indonesia dari Provinsi Sulawesi Utara bekerja di negara sakura Jepang.
Febry mengaku, banyak yang mau ikut pelatihan SSW untuk menjadi pekerja ahli kontrak 5 tahun bekerja di Jepang dengan gaji Rp18 juta. Tapi kendala biaya pelatihan dan biaya pemberangkatan (paspor, visa, tiket, dll). Total biayanya berkisar 40 juta.
Mereka kendala biaya tersebut. Kalau bank bank BUMN penerima dana 200 triliun tidak tahu mau salurkan dimana uang tersebut supaya berputar, sebaliknya salah satu solusi dari sekian solusi, yakni KUR atau kredit bagi calon pekerja migran Indonesia.
"Jika pinjamkan 50 juta, mereka PMI yang sudah dapat kontrak kerja 5 tahun dengan gaji Rp18 juta per bulan, bisa dengan mudah kembalikan kreditnya. Mereka siap kembalikan 5 juta per bulan selama satu tahun," jelas Febry.
Dan para PMI ini sudah menjadi pahlawan devisa. Mereka tiap bulan akan mengirim minimal 5 juta buat keluarga mereka di kampung halaman. Bayangkan kalau ada minimal 100 ribu PMI yang kerja di Jepang. Ada sekira Rp500 miliar yang mereka kirim per bulan. Atau Rp6 triliun per tahun devisa dari pekerja migran Indonesia khusus di Jepang saja, belum termasuk negara lain.
Rp6 triliun per tahun Itu jadi sumber devisa yang besar. Karena pemerintah Jepang tiap tahun butuh 800 ribu pekerja migran. Indonesia minimal kalau bisa kirim 100 ribu pekerja migran, maka tahun depan akan ada devisa Rp6 triliun per tahun. (*)