MANADOPOST.ID - Viano Suwuh menyampaikan klarifikasi melalui surat terbuka terkait pemberitaan di Manado Post yang sempat ramai diperbincangkan. Dalam surat tersebut, ia menegaskan bahwa pernyataannya tidak pernah ditujukan untuk komunitas paduan suara yang sempat viral di media sosial.
Dirinya menemukan bahwa pada hari yang sama ada artikel kedua dan ketiga oleh dengan muatan serupa dan kutipan yang tidak akurat. Berikut poin-poin hak jawab Viano Suwuh.
Poin-poin utama:
• Frasa yang menuduh “Viano Suwuh menyebut paduan suara … pengamen/tak beradab” tidak akurat. Saya tidak pernah menyebut secara eksplisit demikian, konteks saya adalah protes (innuendo/sindiran) terkait aktivitas latihan menyanyi mendadak di ruang publik (kafe). Pada saat kejadian, saya bahkan belum tahu itu adalah paduan suara.
• Pemberitaan pada artikel kedua berjudul Tak Hanya Sebutan Pengamen dan Orang Tak Beradab, Content Creator Viano Suwuh Sempat Menyebut Komunitas Paduan Suara Adalah Mahkluk Kurang Akal dan artikel ketiga berjudul Viano Suwuh, Content Creator Yang Sebut Paduan Suara Hanya Pengamen dan Tak Beradab, Ternyata Seorang Disc Jockey, adalah tendensius/menggiring opini, memuat kutipan yang keliru, dan mengulang framing yang sudah dikoreksi pada penanganan artikel pertama.
• Sebagai pembanding, ada artikel ManadoPost yang memakai frasa “dinilai melecehkan”. Ini lebih fair karena menyajikan penilaian, bukan menuduh sebagai fakta pasti.
-Saya tidak keberatan bila diberitakan secara kritis/miring selama faktual dan berimbang. Sebagai pembanding, ada artikel yang memakai frasa “dinilai melecehkan” meskipun isi beritanya miring, ini lebih fair karena menyajikan penilaian, bukan menuduh sebagai fakta pasti dan saya menerima.
-Sebagai penutup, saya menyampaikan apresiasi atas langkah cepat ManadoPost saat menurunkan artikel pertama dan memuat Hak Jawab saya. Saya percaya komitmen profesional yang sama juga akan diterapkan untuk menyelesaikan dua artikel yang tersisa.
Sebelumnya, Viano Suwuh menyampaikan klarifikasi melalui surat terbuka terkait pemberitaan di Manado Post yang sempat ramai diperbincangkan.
Dalam surat tersebut, ia menegaskan bahwa pernyataannya tidak pernah ditujukan untuk komunitas paduan suara yang sempat viral di media sosial.
Menurut Viano, apa yang ia sampaikan sebelumnya merupakan bentuk keresahan pribadi terhadap aktivitas di ruang publik. Ia menekankan pentingnya meluruskan fakta agar tidak menimbulkan kesalahpahaman lebih jauh di masyarakat.
Klarifikasi ini sekaligus menjadi upaya menjaga hubungan baik dengan komunitas paduan suara serta memastikan bahwa isu yang berkembang dapat dipahami secara proporsional sesuai dengan konteks yang sebenarnya. Berikut isi suratnya. (mpd)
Kepada Yth. Redaksi ManadoPost.id
di Tempat
Dengan hormat,
Saya, Oktaviano Suwuh (Viano Suwuh), menyampaikan keberatan dan Hak Jawab atas berita berjudul:
“Content Creator Viano Suwuh yang menyebut komunitas Paduan Suara sebagai pengamen dan orang tak beradab…” yang dipublikasikan pada laman ManadoPost.id pada hari Selasa, 25 Februari 2025.
Saya baru mengetahui adanya berita ini, sehingga baru sekarang saya bisa menyampaikan tanggapan resmi. Meski demikian, saya sangat khawatir berita yang bersifat tendensius ini dapat membawa dampak buruk di kemudian hari, baik bagi reputasi pribadi maupun profesional saya.
Adapun poin keberatan saya:
1. Judul menyesatkan dan menggiring opini
• Judul menyatakan seolah-olah saya menyebut “komunitas paduan suara” sebagai pengamen dan orang tak beradab.
• Faktanya: saya tidak pernah menyebut komunitas paduan suara secara langsung, apalagi dengan istilah tersebut secara eksplisit.
2. Kronologi yang diberitakan keliru
• Artikel menulis bahwa ada “paduan suara bernyanyi merdu di café”.
• Faktanya: yang terjadi adalah latihan menyanyi di café tanpa persetujuan pengunjung, bukan pertunjukan resmi “bernyanyi merdu”.
3. Framing tuduhan rasisme dan penghinaan
• Artikel menyebut aksi saya sebagai bentuk rasisme dan merendahkan masyarakat.
• Faktanya: saya tidak menyinggung ras, etnis, maupun kelompok tertentu. Konteks saya adalah keresahan pribadi atas norma di ruang publik.
4. Pernyataan saya dipelintir
• Artikel menuliskan kutipan seakan-akan saya berkata langsung “pengamen dan orang tak beradab”.
• Faktanya: saya menggunakan innuendo/sindiran sebagai bentuk protes situasi, bukan pernyataan eksplisit yang menyerang individu atau kelompok.
5. Berita tidak berimbang
• Artikel lebih banyak mengutip opini netizen yang emosional.
• Klarifikasi saya melalui video permintaan maaf dan penjelasan tidak dimuat secara proporsional.
6. Penggunaan simbol “??????”
• Artikel memuat simbol “??????” pada bagian akhir, yang jelas tidak profesional dan tidak sesuai kaidah jurnalistik.
• Simbol tersebut memberi kesan artikel ditulis dengan emosi, bukan dengan standar obyektivitas pers.
Berdasarkan UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers serta Kode Etik Jurnalistik, saya memiliki hak untuk mendapatkan Hak Jawab.
Demikian saya sampaikan dengan itikad baik agar tidak terjadi kesalahpahaman lebih lanjut.
Hormat saya,
Oktaviano Suwuh (Viano Suwuh)
5 September 2025
Editor : Filip Kapantow