MANADOPOST.ID— Target pertumbuhan ekonomi (PE) Sulawesi Utara (Sulut) tahun 2025 adalah antara 6% hingga 7%, sebagaimana tertuang dalam RPJMD provinsi. Target ini didukung oleh pertumbuhan yang telah dicapai pada triwulan II-2025 sebesar 5,64%.
Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan berada dalam rentang 5,3-6,2% untuk tahun 2025, namun target 7% masih menjadi sasaran optimisme Gubernur Sulut.
Untuk mencapai sasaran tersebut, pemerintah daerah disarankan menyiapkan sejumlah strategi konkret yang berfokus pada peningkatan perputaran ekonomi dan daya saing daerah.
Salah satu langkah utama adalah memastikan serapan anggaran pemerintah mencapai 100 persen sebelum tutup tahun. Optimalisasi belanja pemerintah dianggap penting karena mampu menggerakkan berbagai sektor ekonomi lokal, mulai dari infrastruktur, perdagangan, hingga jasa.
Selain itu, pemerintah juga diminta mengintensifkan lobi kepada investor nasional maupun asing agar menanamkan modalnya di Sulawesi Utara. Selanjutnya, meningkatkan ekspor komoditas unggulan daerah, seperti perikanan, kelapa, dan produk olahan makanan, yang selama ini menjadi andalan ekspor Sulut.
Di sisi lain, sektor pariwisata juga menjadi tumpuan besar. Pemerintah mendorong agar kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara meningkat signifikan, sehingga mampu memperkuat arus uang yang berputar di daerah.
Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulut Joko Supratikto mengatakan diperlukan kegiatan ekonomi hingga Rp14 triliun (14T) guna mencapai pertumbuhan ekonomi (PE) sebesar 7 persen.
"Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara pada triwulan II 2025 tercatat sebesar 5,64 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nasional yang sebesar 5,12 persen," kata Joko, seperti dilansir ANTARA.
Joko mengatakan pertumbuhan ini tidak boleh membuat kita terlena mengingat kontribusi ke nasional masih 0,85 persen. "Diperlukan nilai tambah kegiatan ekonomi sekitar Rp14 triliun untuk mencapai target pertumbuhan 6–7 persen sebagaimana tertuang dalam RPJMD Sulawesi Utara," jelasnya. Oleh karena itu, katanya, sinergi lintas sektor, percepatan pengembangan kawasan industri hilirisasi.
Sama halnya dikatakan Deputi Kepala Perwakilan BI Sulut Renold Asri, pada FGD dengan tema: "Kolaborasi Pemerintah dan Swasta Menuju Pertumbuhan Ekonomi Sulut 7 Persen", belum lama ini. "Sebenarnya ada 1 cara cepat untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Salah satunya adalah investasi. Ada Rp14 triliun yang harus digenjot, agar target Gubernur Yulius Selvanus bisa 7 persen di 2025 ini," ungkapnya.
"Maka kami BI, Pemprov dan Pemda, juga bagaimana mendukung investasi di Sulawesi Utara. Beberapa hal sudah kami coba lakukan. Kami juga telah memberikan rekomendasi dan analisa ke pemerintah daerah, sebab kami bukan eksekutor. Eksekutor adalah dinas terkait di pemerintah daerah," tambahnya.
Beberapa hal katanya, juga telah pihaknya coba di fasilitasi. "Ada beberapa KEK yang kita coba promosikan. KEK Likupang sudah dilirik beberapa investor luar negeri. Namun ada beberapa PR. Semoga kek likupang sudah ada progres. Sebab banyak dampak positif yang akan meningkat," ungkapnya menambahkan investasi yang paling gampang meningkatkan pertumbuhan ekonomi Sulut. "Kami terakhir ada 4 daerah kami dorong untuk bertemu investor yang pas. Manado dengan transportasi, Talaud konsep perikanan, Kotamobagu terkait RS dan Sangihe dengan perikanan," tambahnya.
"Ini sedang kami kerjakan bersama pemerintah provinsi bersama pemerintah daerah tempat proyek ini jalan. Dan diharapkan dengan menambah berbagai projek ini, akan menambah peningkatan pertumbuhan ekonomi. Semuanya bakal bergerak, penjualan motor, makanan, otomotif dan sektor lainnya," tambahnya lagi.
Sementara itu, Ekonom Sulut Dr Robert Winerungan, mengatakan, pertumbuhan ekonomi sebesar 7% akan sulit dicapai tahun ini. Pernyataan ini bukan menunjukkan sikap pesimis, melainkan lebih kepada pandangan realistis terhadap kondisi ekonomi saat ini.
Winerungan menjelaskan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen, diperlukan investasi yang cukup besar serta pengeluaran pemerintah yang memadai. Namun, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Sulut belum cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar itu.
Ia pun mempertimbangkan waktu yang hampir habis. Tersisa dua bulan lagi jelang akhir tahun. Sehingga kemungkinan untuk mencapai target pertumbuhan 7 persen semakin tipis. "Bisa, jika ada investor yang mau menanamkan modal besar di Sulut. Harus ada investasi. Jika tidak akan sulit," tegasnya.(*)
Editor : Tanya Rompas