Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Klarifikasi Keluarga Almarhum Geraldy Albert Budiman, Warga Sulut yang Tewas Ditikam di Jepang

Angel Rumeen • Kamis, 23 Oktober 2025 | 13:30 WIB

 

Ilustrasi Duka
Ilustrasi Duka

MANADOPOST.ID—Keluarga dari mendiang Geraldy Albert Budiman, warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban penikaman di Ibaraki, Jepang, angkat bicara terkait maraknya informasi yang tidak akurat dan menyakitkan yang beredar di publik.

 

Dalam sebuah pernyataan terbuka yang disampaikan oleh pihak keluarga pada Manado Post, mereka meluruskan kronologi kejadian tragis yang menewaskan Geraldy, dan mengimbau publik serta media agar tidak menyebarkan spekulasi yang belum terverifikasi.

 

Menurut keterangan keluarga, insiden terjadi pada Minggu dini hari waktu Jepang saat Geraldy dan beberapa WNI lainnya sedang beristirahat usai menghadiri acara perpisahan kecil.

 

Acara tersebut digelar karena Geraldy dan salah satu temannya dijadwalkan pulang ke Indonesia pada 27 Oktober 2025, hanya sepekan setelah kejadian.

 

Diduga pelaku, berinsial FD, hadir dalam acara tersebut meski hanya dikenal sebatas lingkup komunitas dan bukan teman dekat para korban.

 

Keluarga menegaskan tidak ada perselisihan apapun yang terjadi sebelum tragedi.

 

"Saat kejadian, para korban sedang tidur. Geraldy adalah korban pertama yang ditikam saat terlelap dan sempat berteriak keras, membangunkan dua korban lainnya," demikian disampaikan pihak keluarga.

 

Salah satu korban berhasil melarikan diri untuk mencari pertolongan, sementara satu korban lainnya mencoba melawan dan kini dalam kondisi kritis.

 

Teriakan para korban membangunkan penghuni lain di apartemen tersebut, yang kemudian bersama-sama melumpuhkan pelaku, yang diduga dalam kondisi mabuk berat dan menolak melepaskan senjata tajam yang digunakannya.

 

Geraldy ditemukan dalam kondisi mengenaskan di tempat tidurnya, dengan luka tusukan di bagian dada, termasuk di bawah kedua ketiak. Ia meninggal di tempat.

 

Yang membuat luka keluarga semakin dalam adalah riwayat kriminal yang diduga pelaku, disebut-sebut pernah melakukan kekerasan serupa di Bitung, Sulawesi Utara, namun tidak mendapat penindakan tegas.

 

Keluarga menyesalkan bagaimana pelaku bisa leluasa bepergian ke luar negeri, bahkan hingga mengulangi kejahatan serupa di Jepang.

 

Keluarga menyampaikan Geraldy merupakan pribadi yang sopan, berbakti, dan penuh kasih. Ia bekerja di Jepang demi membantu keluarga di Indonesia, rutin mengirim uang, dan bahkan baru saja membeli obat untuk sang ayah.

 

Rencana kepulangannya pada 27 Oktober diniatkan sebagai kejutan bagi keluarga — namun kini berubah menjadi duka mendalam menanti pemulangan jenazah.

 

Hingga berita ini diturunkan, keluarga belum menerima akses untuk melihat jenazah, bahkan sekadar foto pun belum mereka dapatkan.

 

Seluruh informasi yang mereka peroleh bersumber dari media dan pihak ketiga di Jepang.

 

Keluarga dengan ini memohon bantuan Pemerintah Indonesia, khususnya KBRI di Jepang dan Kementerian Luar Negeri RI, agar mempercepat proses pemulangan jenazah Geraldy ke tanah air, dan memastikan pelaku dihukum setimpal.

 

Mereka juga meminta kepada publik dan media untuk tidak menyebarkan informasi yang belum diverifikasi dan menghentikan komentar-komentar yang melukai hati keluarga.

 

"Geraldy adalah anak yang beriman, pekerja keras, dan sangat mencintai orang tuanya. Tolong hormati duka kami. Kami berterima kasih atas doa dan dukungan yang sudah diberikan, dan kepada pihak-pihak yang telah membantu di Jepang sejauh ini," tulis keluarga dalam pernyataan tersebut.

 

"Selamat jalan, ade. Terima kasih sudah menjadi anak yang berbakti, adik yang penuh kasih, dan pribadi yang selalu menguatkan keluarga. Maafkan dunia yang telah mengecewakanmu. Papa, Mama, Cece, dan Koko semua sayang Gerald — selalu dan sampai kapanpun," tutup mereka.(gel)

Editor : Angel Rumeen