MANADOPOST.ID — Indonesian Marketing Association (IMA) Sulut baru saja sukses menggelar Manado High Street Market (MHSM) 2025 di Mantos 3.
MHSM 2025, jadi ajang yang dikenal sebagai ruang kreatif dan promosi bagi pelaku usaha muda Sulawesi Utara.
Presiden IMA Chapter Manado Tommy Waworundeng yang baru saja dilantik, saat ditanya wartawan, menjelaskan makna kehadiran IMA dan peran strategisnya dalam mendorong kemajuan ekonomi daerah.
“IMA atau Indonesian Marketing Association adalah organisasi nirlaba, nonpemerintah, dan nonpolitik. Di dalamnya bernaung orang-orang yang memiliki satu semangat: membuat daerah ini maju lewat pertumbuhan dunia usaha,” ujar Tommy.
Menurutnya, kemajuan suatu kota atau negara sangat ditentukan oleh jumlah pelaku usahanya. “Negara maju seperti Singapura atau negara tetangga lainnya memiliki sekitar 13 persen penduduk yang berprofesi sebagai entrepreneur. Karena itu, semakin banyak pengusaha di Manado dan Sulawesi Utara, maka semakin cepat pula roda ekonomi daerah ini berputar,” jelasnya.
Tommy menilai, pengusaha merupakan penggerak utama ekonomi daerah. “Sekitar 60 persen perekonomian suatu daerah digerakkan oleh pelaku usaha. Ketika uang terus berputar melalui kegiatan bisnis, ekonomi akan tumbuh, lapangan kerja terbuka, dan masyarakat menjadi sejahtera,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menjelaskan hubungan langsung antara pertumbuhan usaha dan kesejahteraan masyarakat.
"Kalau banyak usaha tumbuh, otomatis banyak lapangan kerja terbuka. Masyarakat bekerja, punya pendapatan, daya beli naik, keluarga sejahtera, dan kemiskinan menurun. Sebaliknya, kalau lapangan kerja sedikit, angka pengangguran dan kriminalitas meningkat,” ungkap Tommy.
Di bawah kepemimpinannya, IMA Manado berkomitmen melahirkan lebih banyak entrepreneur muda lewat berbagai kegiatan edukatif. Salah satu program andalannya adalah Manado High Street Market, yang rutin digelar di Mantos.
“Kegiatan ini bukan sekadar pameran produk. Kami melatih siswa dan mahasiswa untuk berani berwirausaha. Mereka kami latih lewat Road to School dan Road to Campus, mempertemukan langsung pelaku usaha sukses dengan anak muda agar mereka terinspirasi,” tutur Tommy.
Menurutnya, ajang ini menjadi kesempatan emas bagi generasi muda untuk menguji produk mereka di pasar sebenarnya. “Selama ini mahasiswa hanya berjualan di inkubator kampus. Di High Street Market, mereka bisa jualan di Mantos — pusat perbelanjaan terbesar di Sulawesi Utara. Kalau produk mereka diterima pasar, mereka bisa ekspansi, buka cabang, dan otomatis membuka lapangan kerja baru,” jelasnya.
Sejalan dengan Visi Pemerintah: Sulut Maju Sejahtera
Tommy menegaskan, visi IMA sejalan dengan arah pembangunan nasional dan daerah.
“Tujuan kami sama dengan visi Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming, yakni Indonesia maju dan sejahtera. Ini juga selaras dengan visi Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Pur) Yulius Selvanus dan Wagub Victor Mailangkay: Sulut Maju, Sejahtera, dan Berkelanjutan,” katanya.
Baginya, kesejahteraan masyarakat tidak akan tercapai tanpa peningkatan jumlah pelaku usaha. “Ketika pendapatan per kapita masyarakat bisa mencapai Rp100 juta per tahun atau sekitar Rp8 juta sampai Rp9 juta per bulan, maka kita sudah berada di kategori masyarakat sejahtera. Dan itu bisa dicapai kalau lapangan kerja banyak, dan lapangan kerja ada kalau pelaku usaha tumbuh,” tegasnya lagi.
IMA: 25 Tahun Mengakar di Sulawesi Utara
IMA di Sulawesi Utara telah hadir selama lebih dari dua dekade. Didirikan oleh Hermawan Kartajaya, guru marketing dunia yang menulis berbagai buku bersama Philip Kotler, IMA kini tersebar hampir di seluruh provinsi di Indonesia.
Di Manado, IMA telah melahirkan sejumlah tokoh sukses. Presiden IMA pertama adalah Andrei Angouw, kini Wali Kota Manado, dengan Veldy Umbas sebagai sekretaris. Kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh Rudini Wijaya, Direktur Operasional Mantos, yang kemudian dipercaya menjadi Koordinator Wilayah IMA Sulawesi Utara. Setelahnya, tampuk kepemimpinan berpindah ke Ivanry Matu, lalu Yohanes Batara dari Astra Group, dan kini dijabat Tommy Waworundeng.
Entrepreneur Jadi Gaya Hidup Anak Muda Sulut
Tommy juga melihat fenomena positif tumbuhnya pelaku usaha muda di daerah ini. “Sekarang entrepreneurship sudah jadi lifestyle. Anak muda Sulut bangga punya usaha — entah itu kafe, bisnis kopi, kuliner, atau online shop. Anak muda di Sulut saat ini akan disebut keren kalau mereka punya usaha. Nyong nyong orang Manado, mari kase lia itu jago. Bukan jago bakalae, tapi jago mancari, jago bekerja, jago ba usaha, jago badagang, dan jago bajual," ujar Waworundeng.
Anak anak yang punya usaha jualan, mereka mandiri, tidak bergantung pada orang tua, dan punya cuan penghasilan sendiri.
Fenomena ini, menurutnya, merupakan sinyal baik bagi masa depan ekonomi Sulawesi Utara. “Kalau jumlah pelaku usaha di Sulut bisa mencapai di atas 10 persen dari jumlah penduduk, saya yakin daerah ini akan jadi seperti Singapura — maju dan sejahtera,” pungkas Tommy.
Pelantikan Tommy Waworundeng sebagai Presiden IMA Manado 2025–2028 menjadi momentum baru bagi kebangkitan jiwa wirausaha di Sulawesi Utara. IMA diharapkan terus menjadi wadah bagi para pelaku usaha dan generasi muda untuk memperkuat perekonomian daerah, menuju Sulut yang lebih maju dan sejahtera. (*)
Editor : Tanya Rompas