Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Respon Pdt Dr David Tulaar untuk Pelayanan GMIM Kini: Bukan Tentang Pergantian Nahkoda, Tapi Butuh Restorasi Kapal, Begini Ketegasan Pendapatnya

Reza Abdilah • Minggu, 26 Oktober 2025 | 11:06 WIB
Pdt Dr David Tulaar
Pdt Dr David Tulaar

 

MANADOPOST.ID- Pdt Dr David Tulaar merespon terkait kondisi Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) kini. Terlebih dukungan terhadap dirinya untuk menjadi suksesor posisi Ketua BPMS GMIM selanjutnya kian kuat. Pasalnya belakangan, sosok Pdt David Tulaar disebut paling banyak mendapatkan dukungan luas dari jemaat. Di berbagai media sosial, ribuan jemaat GMIM menyuarakan harapan agar sinode berikutnya dipimpin oleh Pdt Tulaar.

Menggapainya, dirinya yang saat ini berada di Offenberg, sebuah kota kecil di distrik Deggendorf, Bayern, Jerman, menyampaikan salam kepada seluruh warga GMIM. "Salam sejahtera bagi semua, terlebih di lingkungan Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM)," katanya dalam sebuah vidio yang diunggahnya di akun Facebook David Tulaar.

Dirinya pun mengaku membuat vidio berdurasi sekira 14 menit tersebut, terkait kabar bahwa Ketua BPMS GMIM Pdt Hein Arina bakal segera mundur dari jabatannya. Namun menurutnya walaupun belum dikonfirmasi langsung oleh Pdt Arina, ini akan menjadi titik penting perjalanan sejarah GMIM.

"Kita patut mengapresiasi sikap Pdt Hein Arina yang berbesar hati melihat bahwa GMIM membutuhkan titik baru dari awal sejarahnya," tegasnya mengapresiasi.

Namun dirinya menegaskan bahwa titik baru GMIM bukan sekedar hanya terkait proses pergantian Ketua BPMS, dengan beberapa nama mencuat yang muncul. "Saya melihat titik baru ini secara berbeda. Bukan semata-mata mengganti nahkoda kapal, namun tidak melakukan evaluasi tentang kebocoran-kebocoran dan merusak-kerusakan," tegasnya.

"Baik di mesin (kapal), body maupun tempat-tempat yang ada di ruangan yang ada di dalam kapal ini. Kita juga tidak melakukan evaluasi kemana sebenarnya kapal ini akan berlayar," tambahnya.

Maka bagi dirinya adalah lebih penting melakukan beberapa hal dari pada pergantian nahkoda kapal atau kepemimpinan. "Kita saat ini berbicara terkait keadaan kapal itu sendiri. Kalau kita lihat GMIM saat ini berada dalam situasi yang terpecah-pecah. Terjadi polarisasi di tengah kehidupan para pendeta dan jemaat, yang sudah dimulai sejak konflik UKIT pada tahun 2006 tersebut. Dan masih terus berlanjut," ungkapnya.

"Dan sekarang malah polarisasi itu berkembang dengan berbagai macam hal. Terkait dengan orang-orang yang dekat dengan kekuasaan dan orang-orang yang jauh dari kekuasaan. Juga tentang pendeta-pendeta yang dikelompokkan dan diklasifikasi berdasarkan status dan kedudukannya. Ada pendeta pekerja gereja dan pendeta non pekerja gereja. Yang ada yang masih menunggu tentang bagaimana tentang masa depan kehidupannya dan keluarganya," tambahnya.

Belum lagi tegasnya, kalau dilihat dari sisa-sisa dari pertarungan politik, justru masih mengakar dalam polarisasi dan kontradiksi yang ada didalam gereja. Ditambah lagi bahwa berbagai pertikaian dan pergumulan politik itu, juga meninggalkan bekas dalam citra pendeta.

"Pendeta dituduh materialistik, tidak lagi mengutamakan pelayanan, hanya memperhatikan orang yang dekat dengan pemimpin Gereja. Yang hanya mementingkan kepentingan pribadi dan dirinya, mengorbankan orang yang tidak setuju dan sependapat dengan dirinya," katanya tegas. "Sehingga ada korban yang ada ditengah pergumulan dan persoalan gereja ini. Ini semua tidak boleh ditutupi dan dihindari. Ini harus dibicarakan dan menjadi topik saat ini," sambungnya.

Maka menurutnya, GMIM saat ini bukan membutuhkan pergantian nahkoda, tapi butuh untuk merestorasi kapalnya. "Saya menggunakan kata restorasi, karena GMIM dalam sejarahnya adalah gereja yang baik. Gereja Tuhan yang banyak sekali keberhasilan yang bermuara pada kemuliaan Tuhan," ungkapnya.

Namun kadang-kadang, dirinya tidak menampik, bahwa GMIM gagal dalam mempertahankan nilai-nilai yang selama ini dipegang dan dihormati, sebagai nilai utama yang merupakan karakter maupun akar dari kehidupan kristiani itu sendiri. "Sehingga orang mulai meragukanmu apakah kesaksian Kristiani yang dipancarkan GMIM, benar-benar masih bersumber dan terinspirasi dari Tuhan Allah atau tidak? terangnya.

Maka restorasi ini sangat penting. "Nilai-nilai identitas, prinsip-prinsip dasar dari apa yang kita sebut Gereja Masehi Injili di Minahasa harus kembali ditegakkan dulu. Tapi jalan ke arah itu, baru bisa dilakukan kalau terjadi rekonsiliasi di gereja ini," tegasnya.

Dirinya juga menegaskan bahwa polarisasi didamaikan, pertikaian dan perbedaan diantara pendeta itu harus diperdamaiankan satu dengan yang lain. "Sehingga semua dalam bahasa Paulus, berada dalam sehati sepikir. Artinya kita melihat tujuan yang sama dalam kehidupan Gerejawi yang harus bermuara pada kemuliaan Tuhan," harap Pdt Tulaar.(rez)

Editor : Reza Abdilah
#Nahkoda #GMIM #restorasi