Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Penelitian Terbaru Ungkap Rahasia Mengapa Borobudur dan Bali Terasa “Hidup”

Clavel Lukas • Minggu, 2 November 2025 | 19:05 WIB
Tim peneliti ketika mempresentasikan hasil penelitiannya di salah satu konfrensi internasional baru-baru ini. (Kiri ke kanan) Jupiter Weku, Edwina Rayo, Hellena Pongoh dan Deske Mandagi.
Tim peneliti ketika mempresentasikan hasil penelitiannya di salah satu konfrensi internasional baru-baru ini. (Kiri ke kanan) Jupiter Weku, Edwina Rayo, Hellena Pongoh dan Deske Mandagi.

PERNAHKAH Anda mengunjungi sebuah destinasi dan merasakan adanya energi, nuansa, atau aura tertentu yang membuat tempat tersebut terasa lebih hidup? Atau mungkin Anda pernah merasa secara emosional ingin berlama-lama berada di suatu tempat tanpa alasan yang jelas? Bahkan, mungkin Anda pernah mendengar kisah atau legenda yang begitu melekat pada suatu lokasi hingga mendorong Anda untuk datang dan mengalaminya sendiri.

Ternyata, cerita sakral dan bernuansa spiritual di destinasi wisata bukan hanya sekadar legenda turun-temurun. Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa narasi mistis seperti ini dapat menjadi elemen strategis yang kuat dalam membentuk citra serta meningkatkan daya tarik destinasi wisata Indonesia di mata dunia.

Cerita bukan hanya melengkapi pengalaman wisata, tetapi juga menjadi jembatan emosional yang menghubungkan wisatawan dengan makna dan karakter suatu tempat.

Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Universitas Klabat (UNKLAB) ini mengungkap bagaimana narasi mistis dapat mengubah cara wisatawan memandang dan merasakan destinasi, terutama di situs-situs Warisan Dunia UNESCO seperti Borobudur, Yogyakarta, Bali, Sangiran, dan Tana Toraja.

Tim peneliti mengumpulkan lebih dari 5.000 unggahan media sosial wisatawan selama 5 tahun terakhir yang menceritakan pengalaman spiritual dan mistis di lima situs warisan dunia tersebut. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan netnografi dan Grounded Theory Methodology (GTM).

Hasilnya cukup mengejutkan: cerita mistis memiliki kekuatan emosional paling besar dalam membentuk citra destinasi. Banyak wisatawan menggambarkan pengalaman mereka bukan sekadar wisata budaya, tetapi juga perjalanan batin yang menyentuh spiritualitas.

“Ketika wisatawan merasa terhubung dengan energi spiritual sebuah tempat, mereka tidak hanya datang untuk melihat, tapi untuk merasakan,” jelas Dr. Deske W. Mandagi, ketua tim peneliti.

Dari penelitian tersebut, tim peneliti memperkenalkan konsep baru yaitu Tripartite Mystical Brand Identity (TMBI). Kerangka ini menjelaskan tiga dimensi utama yang membentuk identitas destinasi berbasis narasi mistis:

  1. Fusi Mistis (Mystical Fusion) – perpaduan antara mitos, ritual, dan bentuk fisik seperti arsitektur atau lanskap.
  2. Spasialitas Mistis (Mystical Spatiality) – ketika ruang wisata dianggap sakral dan mengandung makna spiritual.
  3. Kehadiran Mistis (Mystical Presence) – pengalaman wisatawan terhadap aura, energi, atau suasana spiritual yang dirasakan secara langsung.

Menurut Dr. Mandagi, tiga dimensi ini membuat destinasi wisata tidak lagi hanya “tempat untuk dikunjungi,” tetapi menjadi ruang yang hidup, mengundang keterhubungan emosional dan rasa kagum mendalam.

Penelitian ini juga menyoroti contoh nyata bagaimana dimensi mistis hadir di berbagai destinasi Indonesia. Di Candi Borobudur, wisatawan menggambarkan suasana hening saat matahari terbit sebagai momen spiritual yang membawa rasa kedamaian dan kesadaran diri.
Sementara di sistem Subak Bali, harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas Hindu Bali menunjukkan bagaimana nilai mistis terwujud dalam tata ruang dan kehidupan sehari-hari.

“Wisatawan tidak hanya melihat sawah atau candi, mereka merasakan kisah hidup yang penuh makna. Itulah kekuatan dari narasi mistis,” tambah Dr. Mandagi.

Riset ini menegaskan bahwa penggabungan unsur mistis dan spiritual dalam branding destinasi dapat meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia secara global.

Pendekatan ini membantu menciptakan identitas wisata yang otentik, emosional, dan berkelanjutan, serta memperkuat rasa bangga terhadap warisan budaya bangsa.

Tim peneliti juga memberikan sejumlah rekomendasi praktis untuk pemerintah daerah dan pengelola pariwisata:

Hasil penelitian ini telah diterbitkan di salah satu jurnal internasional bereputasi tinggi (terindeks Scopus Q1 dan Web of Science) yaitu Journal of Hospitality and Tourism Insights (Emerald Publishing). Hal ini menandai kontribusi penting akademisi Sulawesi Utara dalam kajian global tentang pariwisata dan branding destinasi.

Tim riset terdiri dari Deske W. Mandagi, MM, MScM, PhD, dan mahasiswa Magister Manajemen (MM) UNKLAB yaitu Jupiter Weku, Helena Pongoh dan Edwina Rayo. Kolaborasi lintas generasi ini menunjukkan sinergi kuat antara penelitian, budaya lokal, dan inovasi pemasaran destinasi.

Penelitian ini menegaskan bahwa masa depan pariwisata bukan hanya soal promosi atau fasilitas, tetapi tentang makna dan pengalaman emosional yang dibawa pulang wisatawan.

Ketika narasi mistis menjadi bagian dari strategi branding, destinasi tidak hanya menarik mata, tetapi juga menyentuh jiwa.

“Di dunia yang serba cepat, wisatawan mencari pengalaman yang bisa memberi makna. Dan Indonesia punya itu — lewat kisah-kisah yang hidup di setiap batu, sungai, dan gunung,” tutup Dr. Mandagi. 

Editor : Clavel Lukas
#Bali #Unklab #penelitian #MANADO #Borobudur