Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

5 November Hari Jadi Minahasa: Cerita Toar Lumimuut dari Mongol, Bukan Keturunan Mama dan Anak

Tommy Waworundeng • Selasa, 4 November 2025 | 20:58 WIB

 

Toar  dan Lumimuut
Toar dan Lumimuut

MANADOPOST.ID – Rabu esok, 5 November, seluruh Tou Minahasa Raya bersukacita memperingati Hari Jadi Minahasa. Perayaan ini bukan hanya milik warga Kabupaten Minahasa, tetapi juga seluruh tou Minahasa yang tersebar di Manado, Bitung, Tomohon, Minut, Minsel, dan Mitra.

Di momentum bersejarah ini, Manado Post menelusuri kembali kisah asal-usul leluhur Minahasa: Toar dan Lumimuut — pasangan yang dalam tradisi dipercaya sebagai induk penyebaran tou  Minahasa.

Selama ini, banyak versi tentang asal-usul Toar dan Lumimuut. Namun sumber lain di Wikipedia,  menjelaskan  orang Minahasa bukan keturunan mama dengan anak.

Versi lain yang dikutip dari Wikipedia, yang menarik menyebut bahwa Toar adalah seorang panglima perang gagah perkasa dari bangsa Mongol.

Sementara Lumimuut adalah seorang perempuan cantik jelita  pelayan istana Kaisar Genghis Khan.

Konon, kisah mereka bermula pada masa berdirinya Kekaisaran Mongolia pada tahun 1206, saat Genghis Khan mempersatukan suku-suku Mongolia yang terpecah-pecah.

Panglima andalan Genghis Khan kala itu bernama Toar Lahope, seorang jenderal yang memimpin pasukan menaklukkan wilayah luas dari Asia Timur hingga Eropa Timur.

Toar yang jago berkuda dan jago berkelahi, memimpin pasukan Mongol menaklukkan suku suku dan kerajaan kerajaan dari Asia Timur sampai ke Eopa Timur.

Suatu ketika, saat Toar dan pasukan berkuda yang ia pimpin kembali ke Mongol setelah memenangkan berbagai  pertempuran. Seperti biasa, ketika menang dang pertempuran, pasukan Mongol akan disambut oleh rakyat Mongol di gerbang istana.

Toar berkuda di belakang Gengis Khan. Karena Toar panglima perang andalan Gengis Khan.

Para gadis gadis Mongol tentu saja ikut menjemput di gerbang. Mereka ingin melihat para waraney  yang gaga perkasa baru pulang dari pertempuran.

Di antara para gadis, ada Lumimuut. Lumimuut dan para Wulan lainnya, tentu ingin melihat panglima Toar yang gaga perkasa, yang jago berkelahi dan jago berkuda.

Para gadis tentu mengidolakan Toar dan ingin menjadi pasangan Toar.

Saat masuk gerbang istana, Toar dan pasukannya disambut dengan meriah. Termasuk disambut para Wulan yang cantik cantik.

Akan tetapi di antara para Wulan yang menyambut Toar dan pasukannya, Toar terpana dengan seorang gadis yang  berparas bidadari.

Beberapa waktu kemudian   Lumimuut menjadi pasangan Toar. Pasangan yang sangat serasi. Toar seorang waraney yang gaga perkasa, berpasangan dengan Lumimuut, seorang Wulan yang cantik jelita.

Wulan sendiri memang merupakan bunga di kekaisaran Mongol.
Kecantikannya itu juga membuat Ogedei Khan, putra Genghis Khan, tergila-gila.

Tetapi jadi masalah, Lumimuut  hanya suka dengan Toar. Karena itu Ogedei Khan  menyusun rencana  untuk  menyingkirkan Toar.

Caranya, Ogedei memberikan  perintah kepada Toar dan pasukannya untuk pergi berperang. Tetapi Ogedei menyusun siasat, akan menjebak Toar di daerah musuh supaya Toar terbunuh.

Rencana itu diketahui Lumimuut. Lumimuut pun memberitahukan siasat  Ogedei  itu kepada Toar.
Mengetahui hal itu, Toar dan Lumimuut berencana untuk  melarikan diri bersama  menggunakan kapal menuju Selatan — meninggalkan kekaisaran Mongol.

Toar kemudian menyuruh Lumimuut untuk berlayar duluan ditemani beberapa gadis.  Sebab Toar tetap akan mengikuti perintah Ogedei, karena Ogedei merupakan putra mahkota Gengis Khan.

Nanti di lokasi pertempuran, baru Toar dan beberapa pengawalnya akan melarikan diri dan berlayar mengikuti Lumimuut.

Kapal yang dinaiki Lumimuut dan beberapa  teman wanitanya, terdampar di pantai  Leekupang. Di sana, Lumimuut tinggal dengan penduduk asli. Di Leekupang ada Karema , orang yang dihormati di kampung itu. Lumimuut menunggu Toar di Likupang.

Toar bersama beberapa pengawalnya,  dengan kapal layar,  menyusul dan mencari Lumimuut.
Perjalanan panjang dari dataran China, membawa mereka berlabuh di Pulau Lihaga, lalu berpindah ke Pulau Talise karena kesulitan air tawar.

Setelah berbulan-bulan mencari Lumimuut yang lebih dahulu berlayar, Toar akhirnya menemukan kekasihnya di Likupang, di mana mereka dinikahkan oleh seorang wanita tua bijaksana bernama Karema pada tahun 1218.

Namun kedamaian tak berlangsung lama. Pasukan Ogedei Khan mengejar mereka hingga ke Likupang. Toar lalu membawa rombongan kecilnya menuju pegunungan Luur Maatus, mendirikan pemukiman di Watu Pinawetengan, dan di sanalah mereka membangun peradaban baru.

Dari persekutuan Toar dan Lumimuut lahirlah Makasiow — sembilan anak yang kemudian menjadi cikal bakal berbagai subetnis Minahasa seperti Tontemboan, Toulour, Tombulu, Tonsea,  Tonsawang, Pasan, Pnosakan.

Di Watu Pinawetengan, Toar-Lumimuut membagi tanah dan wilayah mereka kepada anak-anaknya, menandai awal terbentuknya Tanah Minahasa yang kini disebut Tanah Toar Lumimuut.

Toar disebut meninggal pada tahun 1269 dalam usia 86 tahun.
Bagi sebagian peneliti budaya, kisah ini memang belum dapat dibuktikan secara ilmiah sebagai sejarah faktual, namun memiliki makna mendalam sebagai sejarah budaya dan simbol identitas Minahasa.

“Toar dan Lumimuut adalah mitos yang membentuk sejarah kita. Mungkin tidak tercatat di batu, tapi terukir di kesadaran dan karakter orang Minahasa,” tulis seorang pemerhati budaya.

Dari kisah cinta dua manusia yang menyeberang dari daratan Mongolia ke tanah utara Sulawesi, lahirlah sebuah peradaban : Minahasa – tanah Toar Lumimuut, tanah yang dihuni para Waraney  yang  gaga berani jago berperang dan para Wulan yang cantik cantik.

Mengalir darah keturunan Toar dan Lumimuut, membuat laki laki di Minahasa jago berkuda seperti pasukan Mongol yang memiliki imperium yang luas hanya dengan berkuda menaklukan kerajaan kerajaan sampai di Eropa Timur.  Karena jago berkuda, membuat Sulut selalu juara Pordasi.

Begitu juga  tuama tuama di Minahasa mengalir darah Toar yang jago  berperang. Membuat Minahasa suku paling banyak pahlawan di Indonesia.  Dan paling banyak direkrut  untuk jadi tentara knil. Dan sekarang paling banyak jenderal.

Para wewene di Minahasa juga cantik cantik karena mengalir darah Lumimuut yang cantik. Dan gadis gadis di Mihahasa  selalu suka lelaki yang jago berkelahi.

Namun, pertanyaannya: apakah kisah Toar dan Lumimuut benar-benar sejarah, atau hanya legenda rakyat?

Jawabannya ternyata tidak sesederhana itu. Menurut kajian budaya dan antropologi, cerita Toar dan Lumimuut lebih tepat disebut sebagai “mitologi asal-usul” atau “mitos leluhur Minahasa.”

Berbeda dengan sejarah yang didukung bukti tertulis atau arkeologis, kisah Toar dan Lumimuut diwariskan turun-temurun melalui tradisi lisan.

Selama berabad-abad, cerita ini menjadi bagian dari identitas kolektif masyarakat Minahasa, bukan sebagai catatan kronologis, melainkan sebagai simbol spiritual dan moral.

“Ini bukan sejarah faktual, tetapi kisah asal-usul yang menegaskan hubungan orang Minahasa dengan leluhurnya, alam, dan Opo Empung,” jelas salah satu pemerhati budaya Minahasa.

Dalam mitologi ini, Toar digambarkan sebagai sosok laki-laki gagah, pemberani, dan pemimpin perang, sementara Lumimuut adalah perempuan bijak, cantik, dan pembawa kehidupan.

Dari keduanya lahir generasi pertama Minahasa yang kemudian tersebar ke berbagai wilayah — membentuk subetnis seperti Tontemboan, Tombulu, Tonsea, Tolour, dan lainnya.

Meski tidak tergolong sejarah dalam pengertian akademis, kisah Toar dan Lumimuut memiliki nilai sejarah kultural yang tinggi. Ia menjadi landasan moral dan filosofi hidup orang Minahasa — tentang kesetiaan, keberanian, serta keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.

Sejarawan lokal menyebut, dalam konteks modern, mitologi ini penting dipertahankan sebagai penanda identitas dan kebanggaan Minahasa.

Di tengah derasnya arus globalisasi, Toar dan Lumimuut bukan sekadar cerita kuno, melainkan kebanggaan  jati diri dan akar budaya yang memberi semangat juang  bangsa  Minahasa hingga kini. (*)

Editor : Tommy Waworundeng
#Khan #hari jadi #Toar #Minahasa #Mongol #Toar Lumimuut