MANADOPOST.ID — Doa jemaat terkabul. Damai di hati terjadi di tubuh Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM).
Dua kubu pimpinan sinode yang sebelumnya berada dalam posisi berbeda pendapat, dengan penuh rendah hati memilih untuk bersatu dan bekerja bersama.
Plt Ketua Sinode GMIM Pdt Yani Rende dan Pjs Ketua Sinode GMIM Pdt Adolf Wenas menyatakan komitmen untuk memulihkan kesatuan pelayanan demi gereja dan jemaat.
Menurut penjelasan Pdt Lucky Rumopa, keputusan kedua pemimpin itu lahir dari kerendahan hati dan kesadaran mendalam bahwa kepemimpinan gereja tidak boleh didasarkan pada ego maupun kepentingan kelompok, tetapi pada Kristokrasi, yaitu pengakuan bahwa Kristuslah Kepala Gereja.
"Kita patut bersyukur karena dua tokoh yang selama ini berada pada posisi berbeda mau duduk bersama. Itu bukti bahwa mereka memahami hakikat Kristokrasi, bahwa gereja ini bukan milik manusia, melainkan milik Kristus," kata Pdt Lucky.
Ia menegaskan bahwa GMIM sejak awal berdiri menggunakan sistem Presbiterial-Sinodal, yaitu pola kepemimpinan yang menolak otoritarianisme dan menekankan keputusan kolektif, bersama, dan saling menghargai. Dalam model ini, pendeta maupun pimpinan sinode memahami diri sebagai pelayan Kristus, bukan pemilik kuasa.
"Ketika Pdt Yani Rende dan Pdt Adolf Wenas memilih bersatu, itu adalah contoh nyata bagaimana Presbiterial-Sinodal bekerja. Mereka tidak berdiri atas kehendak pribadi dan kelompok, tapi menundukkan diri untuk mencari apa yang menjadi kehendak Kristus sebagai kepala gereja bagi GMIM," lanjutnya.
Pdt Lucky menilai bahwa persatuan ini menandai babak baru bagi GMIM setelah melewati dinamika internal beberapa waktu terakhir. Ia menyebut kerukunan dua kubu tersebut sebagai kesaksian iman yang kuat bagi jemaat—bahwa perpecahan bukanlah jalan gereja, dan kerendahan hatilah yang menyatukan.
"Jemaat butuh teladan. Dan hari ini para pemimpin memberikan teladan itu. Di tengah tantangan pelayanan, mereka menunjukkan bahwa Kristus memerintah, dan kita (Pendeta, Penatua, Diaken) hanya melayani," ungkap Pdt Lucky.
Dengan bersatunya kedua figur sentral tersebut, GMIM diharapkan kembali bergerak harmonis, fokus pada pelayanan, penginjilan, dan pembangunan jemaat. Serta persiapan mensukseskan agenda tahunan gereja GMIM, yakni Sidang Majelis Sinode Tahunan. Serta menyambut damai Natal Yesus Kristus.
Pdt Lucky menambahkan bahwa momentum ini harus dirawat, karena kepemimpinan gereja hanya akan kuat jika dijalankan dalam spirit Kristokrasi dan mekanisme Presbiterial-Sinodal yang telah menjadi fondasi GMIM selama ratusan tahun.
"Ini bukan kemenangan satu pihak. Ini kemenangan gereja. Kemenangan Kristus," tutupnya.
Persatuan dua kubu pimpinan ini disambut positif oleh berbagai kalangan jemaat dan pelayan, yang menilai langkah tersebut sebagai jawaban doa dan harapan akan kedamaian serta stabilitas pelayanan GMIM ke depan. (*)
Editor : Tommy Waworundeng