Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

1 Desember Hari Lahir Maria Walanda Maramis, Digelar Seminar Nasional PIKAT Untuk Mewarisi Jejak Perjuangan Kesetaraan Gender

Tommy Waworundeng • Sabtu, 29 November 2025 | 14:42 WIB
Seminar Nasional bertajuk “Mewarisi Jejak Perjuangan Ibu Maria Walanda Maramis Menuju Indonesia Emas 2045 Tanpa Kekerasan Terhadap Perempuan”.
Seminar Nasional bertajuk “Mewarisi Jejak Perjuangan Ibu Maria Walanda Maramis Menuju Indonesia Emas 2045 Tanpa Kekerasan Terhadap Perempuan”.

 

MANADOPOST.ID — Tanggal 1 Desember tou Minahasa khususnya dan Bangsa Indonesia pada umumnya, merayakan hari kelahiran pahlawan nasional  Maria Walanda Maramis. Yang juga pahlawan kesetaraan gender.

Nilai perjuangan dan visi besar yang diwariskan oleh tokoh pahlawan nasional asal Minahasa ini,  kembali diteguhkan melalui Seminar Nasional bertajuk “Mewarisi Jejak Perjuangan Ibu Maria Walanda Maramis Menuju Indonesia Emas 2045 Tanpa Kekerasan Terhadap Perempuan”.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Bimas Kristen Kemenag RI bersama IAKN Manado dan Badan Pengurus Pusat PIKAT, bertempat di Aula IAKN Manado, Tateli, Jumat (28/11).

Seminar dihadiri sekitar 300 peserta
Seminar dihadiri sekitar 300 peserta

Seminar digelar untuk memperingati 153 tahun kelahiran Ibu Maria Walanda Maramis, sekaligus menandai dimulainya Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKtP) yang diprakarsai PIKAT.

Maria Walanda Maramis lahir pada 1 Desember 1872 di Kema, Sulawesi Utara, dan meninggal pada 22 April 1924 di Maumbi, Sulawesi Utara, pada usia 51 tahun. Ia diakui sebagai pahlawan nasional atas perjuangannya dalam memajukan hak-hak dan pendidikan kaum perempuan Indonesia, khususnya di Minahasa. 

Direktur Jenderal Bimas Kristen Kemenag RI, Pendeta Dr. Jeane Marie Tulung, S.Th., M.Pd., yang tampil sebagai pembicara kunci, menegaskan bahwa Maria Walanda Maramis adalah contoh nyata perempuan visioner yang memperjuangkan pendidikan, hak politik, dan kesetaraan bagi perempuan Indonesia.

“Dari Ibu Maria Walanda Maramis kita belajar bahwa perjuangan tanpa putus adalah perubahan,” ujar Jeane Tulung.

Ia mengingatkan, warisan perjuangan Maria Walanda Maramis harus diwujudkan dalam komitmen memperkuat perlindungan perempuan, terutama melalui pendidikan.

“Perlindungan perempuan bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga bagian dari iman. Setiap perempuan adalah citra Allah yang tidak boleh dicederai,” tegasnya.

Jeane juga menekankan pentingnya memperkuat kurikulum di perguruan tinggi keagamaan agar lebih responsif gender, memiliki literasi HAM, serta membangun budaya kampus yang aman dan bebas kekerasan.

“153 tahun telah berlalu, api perjuangan Maria Walanda Maramis tetap menyala. Tugas kita adalah memastikan terang itu terus berlanjut bagi generasi mendatang,” katanya.

Hadir sebagai narasumber, Komisioner Komnas Perempuan RI, Chatarina Pancer Istiyani, SS., M.Hum., memberikan apresiasi atas keteladanan perjuangan Maria Walanda Maramis dalam membela hak-hak perempuan.

Ia menjelaskan, Komnas Perempuan memiliki mandat penting dalam pemantauan, advokasi, edukasi, dan pencegahan kekerasan terhadap perempuan. Dalam Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Komnas Perempuan bertindak sebagai inisiator dan fasilitator kegiatan di seluruh Indonesia.

“Gerakan ini sejalan dengan mandat Komnas Perempuan untuk bermitra dengan masyarakat dan mendorong upaya penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan,” ujarnya.

HAKtP sendiri merupakan kampanye internasional yang dimulai sejak 1991 oleh Women’s Global Leadership Institute.

Sekjen Komnas Perempuan 2014–2024 sekaligus pengurus BPP PIKAT, Pendeta Heemlyvaartie Danes, S.Th., menegaskan bahwa Maria Walanda Maramis adalah sosok yang visioner dan progresif pada masanya.

“Pada usia 45 tahun, Ibu Maria Walanda Maramis mendirikan PIKAT. Ia memperjuangkan martabat perempuan melalui pendidikan, tulisan, dan publikasi. Ide-idenya brilian dan jauh melampaui zamannya,” ujarnya.

Ia menambahkan, PIKAT sebagai organisasi yang didirikan Maria Walanda Maramis memiliki tanggung jawab moral untuk memperkuat perjuangan perempuan lintas generasi, terutama dalam pendidikan dan penghapusan kekerasan terhadap perempuan.

“PIKAT harus mampu membangun jembatan peralihan generasi dalam mengimplementasikan warisan perjuangan Ibu Walanda Maramis. Kita harus memulainya dengan revitalisasi organisasi dan restrategi program,” tegasnya.

Kegiatan ini diikuti sekitar 300 peserta yang terdiri dari pengurus BPP PIKAT, perwakilan cabang PIKAT, aktivis perempuan, akademisi, tokoh agama, jurnalis, dan mahasiswa. Hadir pula:

Rektor IAKN Manado, Dr. Olivia Wuwung, ST., M.Pd.

Dekan FKM Unsrat, Prof. dr. Vennetia Danes, Ph.D.

Sekretaris Ditjen Bimas Kristen, Pendeta Johni Tilaar, S.Th., M.Si.

Ketua Umum BPP PIKAT, Novia Lambey, SS.

Seminar Nasional ini tidak hanya menjadi ruang refleksi, tetapi juga momentum memperkuat komitmen kolektif dalam mewujudkan Indonesia yang lebih adil, aman, dan bebas kekerasan terhadap perempuan, sebagaimana cita-cita perjuangan besar Ibu Maria Walanda Maramis. (*)

Editor : Tommy Waworundeng
#Pahlawan #Maria Walanda Maramis #desember #PIKAT #gender